Selain itu, sejumlah sekolah mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Ada salah satu sekolah yang membuat area kantin. Jadi kantin tidak lagi menyiapkan wadah plastik,” ujar Juprianto.
Siswa mulai dibiasakan menggunakan tumbler dan alat makan yang dapat dipakai berulang kali.
Ada pula sekolah yang mulai membuat greenhouse, merawat tanaman, hingga mengolah sampah organik.
“Yang dikuatkan adalah bagaimana mengubah mindset mereka,” katanya.
INOVASI Tidak Membawa Sistem Baru
Juprianto menegaskan, INOVASI sebenarnya tidak datang membawa sistem baru ke sekolah-sekolah di IKN.
Program tersebut justru mencoba menghidupkan kembali ekosistem pendidikan yang sebenarnya sudah ada, seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) dan pola pendampingan guru.
“INOVASI tidak membawa hal baru, tetapi memanfaatkan, memaksimalkan yang sudah ada,” ujarnya.
Pendekatan itu dipilih agar program tetap berjalan meski suatu saat pendampingan dari INOVASI selesai.
Saat ini, program baru berjalan di Gugus 1 Sepaku. Namun Otorita IKN disebut mulai mendorong agar pola pendampingan serupa diperluas ke wilayah lain.
“Mereka sangat merasa sangat mengapresiasi apa yang terjadi, progres yang terjadi dan tidak boleh ini berhenti hanya di satu gugus,” kata Juprianto.
Meski demikian, rencana perluasan program masih menunggu kesiapan anggaran Otorita IKN yang saat ini belum sepenuhnya memiliki kewenangan pengelolaan pendidikan seperti pemerintah daerah definitif.
Mulai Terlihat Dampaknya: Cara Mengajar Guru Berubah, Siswa Lebih Aktif Belajar
Meski baru berjalan sekitar satu tahun di Gugus 1 Sepaku, Juprianto menyebut perubahan mulai terlihat baik dari sisi cara mengajar guru maupun keterlibatan siswa di kelas.
Menurutnya, sebelum pendampingan dilakukan, proses pembelajaran di banyak sekolah masih cenderung berpusat pada guru dan kurang melibatkan siswa secara aktif.
Namun setelah program berjalan, guru mulai lebih terbuka terhadap metode pembelajaran yang interaktif dan berpusat pada kebutuhan siswa.
“Perilaku ngajar gurunya meningkat. Disiplinnya meningkat. Budayanya, mindset-nya berubah,” ujar Juprianto.
KKG yang sebelumnya lebih banyak diisi agenda administratif juga mulai berubah menjadi ruang diskusi pembelajaran yang lebih substantif.
“Yang tadinya hanya kumpul-kumpul cerita tentang pengalaman atau pengumuman, sekarang lebih bermakna pada peningkatan mutu pembelajaran,” katanya.
Dampak lain juga mulai terlihat pada siswa, terutama setelah sekolah mendapatkan hibah buku bacaan dan guru mulai menerapkan metode pembelajaran baru.
“Guru-guru semangat karena mereka melihat muridnya mulai senang membaca,” pungkasnya. (raf)
Tag



