ARUSBAWAH.CO – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, bergerak cepat.
Gedung pemerintahan mulai berdiri, jalan-jalan baru dibuka, dan kawasan yang dulunya hutan perlahan berubah menjadi pusat pemerintahan baru Indonesia.
Namun di balik geliat pembangunan fisik itu, kualitas pendidikan dasar di wilayah sekitar IKN ternyata belum ikut bergerak secepat pembangunan kota.
Kemampuan literasi dan numerasi siswa di sejumlah sekolah kawasan Sepaku masih ditemukan rendah.
Bahkan, masih ada siswa sekolah dasar di kelas tinggi yang belum lancar membaca.
Kondisi itulah yang kemudian mendorong masuknya program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) ke kawasan IKN sejak 2024 lalu.
INOVASI sendiri merupakan akronim dari Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia.
Ini adalah program kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia yang berfokus pada peningkatan mutu pendidikan dasar, khususnya keterampilan literasi, numerasi, dan karakter siswa sekolah dasar.
Program yang pertama kali berjalan pada tahun 2016 ini didanai melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia dan dijalankan oleh Palladium sebagai pelaksana program.
Koordinator INOVASI IKN, Juprianto, mengatakan keberadaan program tersebut bukan datang sendiri, melainkan atas permintaan langsung Otorita IKN.
“Program ini fokusnya adalah membantu peningkatan mutu keterampilan dasar, literasi, numerasi, karakter yang ada di wilayah IKN atau Sepaku,” ujar Juprianto saat berbincang dengan awak Arusbawah.co, Sabtu (9/5/2026).
Adapun sasaran dari INOVASI sendiri adalah kalangan pendidik sekolah dasar.
Menurutnya, Otorita IKN mulai melihat bahwa pembangunan ibu kota baru tidak bisa hanya berfokus pada infrastruktur fisik semata.
“Ketika otorita menjadi akan menjadi ibu kota dunia, ibu kota yang berbasis teknologi, ibu kota yang modern, ibu kota yang maju. Maka pendidikan itu penghasil SDM-nya juga harus bergerak,” katanya.
Temuan Awal: Literasi dan Numerasi Masih Rendah
Masuk pada Mei 2024, INOVASI mulai melakukan studi analisis situasi pendidikan di Gugus 1 IKN atau Sepaku yang mencakup delapan sekolah di Kecamatan Sepaku.
Asesmen dilakukan terhadap 480 siswa kelas 1 hingga kelas 4. Tak hanya siswa, guru, kepala sekolah, pengawas hingga orang tua juga ikut diwawancarai.
Hasilnya menunjukkan kemampuan dasar siswa masih memerlukan banyak penguatan.
“Banyak anak-anak yang sampai kelas lebih tinggi pun masih belum lancar membaca,” ungkap Juprianto.
Tak hanya itu, pola pembelajaran guru juga dinilai masih belum terlalu melibatkan siswa secara aktif.
“Pembelajarannya cenderung enggak melibatkan siswa, tidak berfokus pada siswa, pokoknya mengajarkan buku-buku, bahkan ceramah, sehingga kurang efektif,” ujarnya.
Juprianto mengatakan kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari situasi pendidikan di Kecamatan Sepaku sebelum pembangunan IKN dimulai.
“Pembangunan fisik di Sepaku cukup masif begitu masuk IKN. Tapi pendidikan cenderung masih sama dengan saat sebelum adanya IKN,” katanya.
Tag



