Ia jabarkan soal awal pertemuannya dengan Muhammad Ali, hingga menelurkan soal pemberian edukasi lapangan kepada warga sekitar tentang penggunaan pupuk yang tepat, dosis yang sesuai, serta cara membedakan pupuk asli dan palsu.
“Banyak petani membeli pupuk mahal tapi tidak tepat cara aplikasinya. Nutrisi di dalam pupuk tidak maksimal jika penggunaan tidak sesuai dosis atau waktu,” ujar Nurdin Kutana.
Dia jelaskan, pada awal pertemuannya dengan pihak BUMDes, Sima Gemilang tak langsung oke-oke saja, ketika ada permintaan dari desa untuk pengadaan pupuk untuk para petani.
Alih-alih langsung deal, mereka malah memutuskan untuk pengecekan lokasi dulu, untuk bisa dapatkan insight soal kondisi asli di daerah tersebut.
Pada kegiatan lapangan itu, Sima Gemilang menggunakan mobil uji laboratorium tanah (MULAT) untuk menilai kondisi nutrisi tanah secara umum, termasuk kandungan nitrogen, fosfat, dan kalium.
Hasil pengujian menunjukkan kondisi tanah mineral dan gambut di beberapa area masih cukup baik, dengan kebutuhan pupuk yang tepat dapat meningkatkan produktivitas sawit.
“Dengan edukasi langsung di lapangan, petani lebih paham jenis pupuk yang legal dan cara penggunaan yang benar. Bahkan, pengawasan dilakukan untuk menghindari pupuk ilegal yang banyak beredar,” jelas Nurdin Kutana.

Selain pengecekan, dilakukan juga edukasi berupa product knowledge kepada warga.
Misalnya, cara membedakan pupuk asli dari kemasan, isi, dan izin produksinya. Pupuk resmi biasanya memiliki kemasan premium, benang jahitan tertentu, serta izin produksi yang dapat dicek secara online.
“Pupuk ilegal bisa terlihat mirip, tapi isinya berbeda. Dengan edukasi, petani bisa memastikan nutrisi yang diberikan ke tanaman maksimal,” tambah Nurdin.
Dilakukan pula pendampingan langsung di kebun. Misalnya, soial pemahaman jenis pupuk sesuai usia sawit, dosis pupuk yang tepat untuk setiap hektar. hingga cara membaca tanda-tanda kebutuhan nutrisi tanaman sawit.
“Petani wajib memahami tanaman, jenis pupuk, dosis, dan waktu aplikasi. Hal ini sama seperti merawat manusia, perlu perhatian detail agar hasil optimal,” jelas Nurdin Kutana.
Dari sana, saling percaya pun hadir antara pihak BUMDes dan Sima Gemilang.
"Bahkan, pembelian pupuk sawit meningkat dari 8 ton awal menjadi sekitar 16 ton setelah edukasi dan pendampingan langsung," tutupnya. (sobizz)
Artikel ini merupakan bagian dari Program Bina UMKM, sebuah inisiatif kolaboratif lintas media yang digagas oleh Avnmedia.id, Hvsmedia.id, Arusbawah.co, dan Megapolitik.com. Program ini bertujuan untuk mendorong pengembangan ekonomi lokal melalui publikasi strategis yang mengangkat suara, potensi, dan cerita sukses pelaku UMKM serta bisnis menengah agar lebih dikenal luas oleh publik dan pemangku kepentingan.
Tag



