Menurut Mursidi, pembatasan jam membuat kapal-kapal menumpuk sambil menunggu giliran melintas.
Akibatnya, banyak kapal terpaksa tambat di titik-titik yang sebenarnya tidak direkomendasikan.
“Masalahnya itu karena penumpukan. Kapal menunggu jam pengolongan, akhirnya harus tambat. Saat tambat, tali bisa putus. Kapal hanyut, lalu menabrak jembatan,” ujar Mursidi.
Lima Kali Jembatan Ditabrak Kapal dalam Setahun Terakhir
Dalam setahun terakhir, setidaknya lima kali kejadian kapal menabrak jembatan terjadi di Samarinda.
Hampir seluruh kejadian itu, kata Mursidi, berawal dari kapal yang tambat terlalu lama dan kehilangan kendali saat tali putus.
Di sekitar kawasan jembatan, saat ini terdapat sekitar 10 hingga 18 titik labu tambat.
Banyak kapal memilih berhenti di sana sambil menunggu waktu pengolongan.
Kondisi itu dinilai sangat berisiko, terutama saat arus sungai sedang kuat.
Pengolongan Kapal 24 Jam Dinilai Jadi Solusi
Mursidi meyakini, jika jam pengolongan dibuka selama 24 jam, masalah itu akan terurai dengan sendirinya.
Tag



