Hasilnya ternyata berbeda dari perkiraan awal saat gedung dirancang.
Semula pemerintah memperkirakan pengunjung akan memanfaatkan fasilitas lift yang telah disediakan.
Bahkan dua unit lift telah dipasang, masing-masing di sisi Jalan Sudirman dan Jalan Gajah Mada.
Namun setelah pasar mulai digunakan, kebiasaan masyarakat justru menunjukkan hal berbeda.
Menurut Marnabas, warga Samarinda ternyata lebih memilih menggunakan eskalator dibandingkan lift.
Padahal pada bangunan saat ini fasilitas eskalator baru tersedia untuk akses ke lantai dua.
"Awalnya kita pikir orang masuk naik lift. Minimal di lantai dua kan sudah ada eskalator. Tapi ternyata kondisinya berbeda. Orang lebih banyak dari Sudirman," katanya.
"Orang Samarinda ternyata lebih suka eskalator daripada lift. Padahal kita siapkan dua lift di sana, satu di Sudirman dan satu di Gajah Mada," sambungnya.
Temuan tersebut membuat pemerintah mulai mempertimbangkan pembangunan eskalator tambahan.
Bahkan, bukan hanya di satu sisi bangunan.
Pemkot tengah mengkaji kemungkinan pembangunan eskalator pada akses dari Jalan Sudirman maupun Gajah Mada.
"Kalau yang mau dibangun dari sisi Sudirman, nanti kita akan coba dua-duanya supaya eskalator bisa jalan," ujar Marnabas.
Ia menjelaskan sejumlah opsi desain masih dibahas oleh tim teknis.
Termasuk kemungkinan memanfaatkan area tangga yang menjadi pintu masuk saat ini untuk pemasangan eskalator.
"Di tangga itu nanti kita akan lihat. Apakah di tengah atau bagaimana, yang penting enak digunakan," katanya.
Sliding Door Dinilai Kurangi Estetika, Tapi Dinilai Perlu
Persoalan lain yang tengah menjadi perhatian pemerintah adalah masuknya air hujan ke dalam bangunan saat cuaca ekstrem.
Fenomena itu justru baru muncul setelah para pedagang mulai menempati gedung baru.
Tag



