ARUSBAWAH.CO - Di tengah lampu sorot dan kamera yang merekam setiap gerak, selembar sarung dari Samarinda tampak sederhana namun penuh makna.
Ia bukan sekadar kain yang dilipat rapi di lemari; ia membawa kisah, identitas, dan kebudayaan sebuah kota.
Malam itu, Jumat (9/1/2026), di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Wali Kota Samarinda Andi Harun berdiri di samping Sarung Samarinda, menerima Trofi Abyakta dalam Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026—penghargaan tertinggi bagi kepala daerah yang berhasil menghidupkan budaya di wilayahnya.
Penghargaan ini bukan sekadar simbol. Trofi Abyakta menjadi pengakuan atas cara Samarinda merawat, menghidupkan, dan menghadirkan kebudayaan ke dalam keseharian warganya.
Di tangan kepemimpinan Andi Harun, Sarung Samarinda tumbuh lebih dari sekadar busana adat: ia menjadi identitas kota, hadir di ruang publik, forum resmi, hingga aktivitas warga sehari-hari.
Trofi Abyakta merupakan penghargaan tertinggi dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat melalui Anugerah Kebudayaan PWI (AK-PWI).
Kata Abyakta, yang berasal dari bahasa Sanskerta, bermakna “hati yang terang” atau manifestasi gagasan yang terlihat—simbol keberanian mewujudkan nilai budaya dalam kebijakan nyata.
Penghargaan ini diberikan kepada kepala daerah yang berhasil menginovasi sekaligus melestarikan kebudayaan daerahnya, dengan komitmen melindungi dan mengembangkan budaya lokal secara konsisten.
Proses penilaian dilakukan ketat melalui presentasi gagasan kebudayaan di hadapan dewan juri nasional PWI.
Dalam pemaparannya, Andi Harun menekankan bahwa kebudayaan tidak boleh berhenti di panggung seremoni.
Ia harus hidup, dikenakan, dan dirasakan. Sarung Samarinda, menurutnya, adalah busana tropis yang membumi, sederhana, inklusif, relevan dengan zaman, sekaligus penanda identitas kultural masyarakat Samarinda.
Sebelumnya, dalam tahap pengajuan proposal berjudul “Dari Wastra Lokal Menuju Kebudayaan Nasional”, Samarinda berada di peringkat kedua setelah Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, dengan selisih nilai lima poin.
Ketua Panitia AK-PWI, Yusuf Susilo Hartono, menyebut Trofi Abyakta sebagai pengakuan tertinggi bagi kepala daerah yang mampu menyinergikan kebudayaan dengan kebijakan publik secara nyata.
“Penghargaan ini menegaskan bahwa Samarinda bukan sekadar membangun kota, tetapi juga merawat makna. Dari selembar sarung, lahir pesan tentang jati diri, keberlanjutan, dan masa depan kebudayaan yang tidak ditinggalkan zaman,” ujar Yusuf. (red)
- Hairil Usman Pasang Spanduk Besar di Pasar Bengkuring, Pemkot Tegaskan: Pasar Bukan Ruang Privat
- Jembatan di Kaltim Sering Ditabrak, Perda Usia 37 Tahun Ternyata Atur Sanksi Cuma Rp 50 Ribu
- Harta Kekayaan GM Pelindo Regional IV Suparman, Sebut Pengawasan Pengolongan Jembatan Kerja Sama dengan Perusda MBS




