- Banjir masih terjadi di beberapa desa di Kecamatan Telen, Kutai Timur (Kutim)
- Beberapa desa yang masih terpantau banjir di antaranya adalah Desa Muara Pantun, Desa Lung Melah, dan Desa Kernyanyan
- Informasi soal kondisi banjir di beberapa desa di Kutim bisa diakses di link ini
ARUSBAWAH.CO - Update banjir di Kutai Timur (Kutim) Desember 2025.
Banjir yang melanda delapan desa di Kecamatan Telen, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), belum juga benar-benar surut.
Air masih menggenang sejak sepekan terakhir, terhitung mulai Minggu, 7 Desember 2025.
Di sejumlah titik, air bahkan masih bertahan lebih dari satu meter, memerangkap warga dalam situasi serba terbatas.
Banjir Rendam Muara Pantun hingga Lebih dari Satu Meter
Salah satu desa yang terdampak cukup berat adalah Muara Pantun.
Desa ini masih tergenang air setinggi lebih dari satu meter di titik terdalam.
Hingga Minggu, (14/12/2025), belum ada bantuan sama sekali yang masuk dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Warga bertahan dengan kemampuan sendiri, dibantu perusahaan dan aparat setempat.
Kepala Desa Muara Pantun, Muhammad Ali Firdaus, mengatakan kondisi air memang mulai menunjukkan penurunan.
Namun, surutnya belum signifikan dan belum mengembalikan kehidupan warga ke kondisi normal.
“Untuk sementara ini agak surut sudah. sudah mulai dari pagi tadi sampai sekarang ini surut sudah,” kata Ali Firdaus saat diwawancarai Arusbawah.co melalui sambungan telepon, Sabtu malam.

Sebelas Rumah Terendam, Warga Mengungsi ke Rumah Saudara
Banjir di Muara Pantun sudah berlangsung selama satu minggu penuh.
Air merendam kawasan permukiman yang berada di dataran rendah.
Sebanyak 11 rumah dilaporkan terendam hingga air masuk ke dalam rumah warga.
“Untuk sementara ketinggian air di paling titik terdalam itu masih sekitar 1 meter lebih,” ujarnya.
Meski tidak ada korban jiwa, dampak banjir masih terasa nyata.
Sebelas kepala keluarga terpaksa mengungsi ke rumah saudara.
Sebagian warga lainnya memilih bertahan di rumah, terutama yang rumahnya masih berupa rumah panggung.
“Kalau untuk korban nihil kita enggak ada korban kan semuanya begitu air mulai naik ee kemarin itu kita ungsikan ke rumah warga gitu kan. Ada juga yang ungsikan ke tempat saudaranya,” kata Ali.
Ia menambahkan, warga yang rumahnya terendam total sementara menumpang di rumah keluarga.
Sementara yang lain tetap bertahan karena air masih di bawah kolong rumah.
“Iya, masih bertahan di masing-masing rumah karena masih di bawah kolom rumah kan,” katanya.
Bantuan Pemerintah Belum Tiba, Perusahaan Bergerak Lebih Dulu
Ironisnya, di tengah situasi banjir yang sudah berlangsung seminggu, bantuan pemerintah belum juga tiba.
Bantuan yang ada justru datang dari pihak swasta.
“Untuk sementara ini bantuan baru dari perusahaan untuk dari pemerintah masih dalam proses informasinya,” ujar Ali.
Dua perusahaan yang bergerak cepat menyalurkan bantuan ke Muara Pantun adalah PT Emas dan PT Sinarmas.
Bantuan yang diberikan berupa sembako untuk kebutuhan dasar warga desa Muara Pantun.
“Dari PT Emas sama PT Sinarmas. Berupa sembako,” ucapnya.
Jalan Poros Rusak Parah, Distribusi Bahan Pokok Tersendat

Akses keluar-masuk Desa masih menjadi persoalan serius.
Jalan poros menuju Muara Pantun mengalami kerusakan parah akibat hujan terus-menerus.
Jalur ini merupakan satu-satunya akses utama distribusi bahan pokok dari kecamatan Muara Wahau dan kecamatan Kongbeng.
“Biasanya kita ngambil dari Wahau Kongbeng gitu kan, sementara ini jalan poros kita dengan cuaca hujan terus ini sulit jalan gitu kan,” kata Ali.
Saat ini, hanya kendaraan tertentu yang bisa melintas.
Mobil kecil tidak mampu melewati jalan yang licin dan berlubang dalam.
“Kalau enggak mobil dobel enggak bisa lewat gitu berat. Triton Hilux gitu kan. Mobil Carry enggak bisa lewat,” ujarnya.
BPBD Belum Turun, Fokus ke Desa yang Lebih Parah
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Timur disebut belum turun langsung ke Muara Pantun.
Menurut Ali, tim BPBD lebih dulu fokus ke desa lain yang kondisinya lebih parah.
“Kemarin informasinya kan mau turun, ternyata turunnya di daerah yang di Desa yang terparah di Kecamatan Belan ini kan ada di Lung Melah sama di Marah Haloq,” katanya.
Luapan Sungai dari Hulu Picu Banjir, Warga Diminta Waspada
Banjir ini dipicu luapan sungai dari hulu yang diperparah curah hujan tinggi.
Beberapa sungai besar meluap secara bersamaan, termasuk Sungai Telen, Sungai Muara Wahau, dan Sungai Marah.
“Artinya dengan curah hujan tinggi, begitu airnya semua turun ke sungai besar, artinya naik semua meluap gitu kan,” jelas Ali.
Ia mengimbau warga tetap waspada.
Berdasarkan informasi BMKG, hujan di wilayah hulu masih berpotensi terjadi.
Menurutnya, ancaman banjir susulan masih sangat berpotensi terjadi.
“Ya tetap waspada aja gitu kan. Pantau cuaca, pantau level air. Anak-anak jangan main di pinggir sungai,” pungkasnya.
(wan)




