Arus Publik

Ada 482 Gelaran Pangan Murah Sepanjang 2025 di 10 Kabupaten/ Kota di Kaltim, Rinciannya Simak di Arusbawah.co

by:
Lisa
Sabtu, 13 Desember 2025 13:23

SIMBOLIS - Bupati Kukar Aulia Rahman dalam agenda simbolis kegiatan di GPM (Gerakan Pangan Murah) yang digelar di Taman Creative Park, Tenggarong/ HO

ARUSBAWAH.CO -  Di balik harga beras yang relatif tenang dan cabai yang tak melonjak liar jelang akhir tahun, ada kerja sunyi yang terus berjalan sepanjang 2025.

Data yang didapatkan redaksi Arusbawah.co, ada 482 gelaran pangan murah digelar di 10 kabupaten/kota yang menjadi tameng utama menjaga dapur masyarakat tetap berasap.

Memasuki pekan pertama Desember 2025, Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim memastikan kondisi pangan daerah masih berada di jalur aman.

Stabil, meski tekanan konsumsi meningkat dan jumlah penduduk bertambah sekitar 210 ribu jiwa sepanjang tahun ini.

“Stabilitas ini bukan kebetulan. Ini hasil pembacaan data yang ketat dan intervensi berbasis neraca pangan,” ujar Kepala DPTPH Kaltim, Siti Farisyah Yana, dalam konferensi pers di Samarinda, Jumat (12/12/2025).

482 Pangan Murah, Perisai Harga dari Akar Rumput

Sepanjang 2025, gelaran pangan murah dilakukan nyaris merata.

Rata-rata, setiap kabupaten/kota menggelar lebih dari 40 kali kegiatan. Bagi Yana, angka ini bukan sekadar statistik.

“Pasar murah itu menyerap tekanan dari bawah. Ketika harga mulai bergerak naik, intervensi ini yang menahannya,” katanya.

Kota Balikpapan menjadi daerah dengan frekuensi tertinggi, mencapai 179 kali, disusul Kabupaten Paser 103 kali.

Di wilayah lain, angka tetap signifikan, menandakan upaya menjaga harga dilakukan konsisten, bukan insidental.

Berikut data perhelatan gerakan pangan murah tiap kabupaten/kota:

  1. Kota Balikpapan: 179 kali
  2. Kabupaten Paser: 103 kali
  3. Kabupaten Kutai Kartanegara: 7 kali
  4. Kabupaten Penajam Paser Utara: 19 kali
  5. Kabupaten Berau: 47 kali
  6. Kota Samarinda: 18 kali
  7. Kota Bontang: 36 kali
  8. Kabupaten Kutai Barat: 37 kali
  9. Kabupaten Kutai Timur: 5 kali
  10. Kabupaten Mahakam Ulu: 5 kali

Beras, Komoditas Paling Sensitif Inflasi

Sorotan utama pemerintah tertuju pada beras.

Dengan bobot inflasi yang tinggi, sedikit saja gejolak bisa langsung terasa di kantong warga.

“Distribusi beras sekarang berbeda dengan empat tahun lalu. Dulu rapi, sekarang polanya berubah, pedagang kecil bisa langsung ambil ke Bulog,” jelas Yana.

Beras Kaltim disuplai dari berbagai daerah—Sulawesi, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, hingga Jakarta. Namun kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) membuat marjin pedagang menipis, sementara beras lokal belum sepenuhnya terserap Bulog.

 

Tantangan Produksi dan Lahan Pangan

Di sisi hulu, persoalan tak kalah berat. Produksi beberapa komoditas menurun akibat faktor struktural, terutama alih fungsi lahan dan minimnya pelaksana di lapangan.

Pemprov Kaltim kini merevitalisasi 13 ribu hektare lahan baku sawah, dengan target mengembalikan total LBS ke angka 46 ribu hektare. Pemerintah pusat pun memperketat aturan, melarang ekspansi sawit di atas lahan baku sawah.

“Kalau sudah ditetapkan sebagai LBS, tidak bisa lagi dialihfungsikan sembarangan,” tegas Yana.

Namun tantangan tetap ada. Untuk komoditas seperti kedelai, produksi lokal nyaris tidak tersedia dalam skala industri.

Harga Terkendali, Tapi Tetap Waspada

Hingga 11 Desember 2025, harga pangan strategis di Kaltim relatif terkendali.

Beras medium berada di kisaran Rp14.500, cabai rawit merah Rp74.200, telur ayam ras Rp32.500, dan MinyaKita Rp18.400.

Bagi Yana, stabilitas ini rapuh jika tidak dijaga bersama.

“Tanpa data neraca yang jelas, intervensi harga, perlindungan lahan, dan distribusi yang konsisten, gejolak bisa muncul kapan saja,” pungkasnya.

Di tengah naik-turunnya harga nasional, 482 gelaran pangan murah sepanjang 2025 menjadi bukti bahwa stabilitas pangan Kaltim bukan sekadar wacana—melainkan kerja panjang yang menyentuh langsung meja makan warga. (isa)

 

Tag

MORE