Arus Publik

Samarinda Terkini

Usulan Rp90 Miliar untuk Penguatan Lereng, Anggaran Terowongan Samarinda Bisa Tembus Setengah Triliun

by:
Lisa
Rabu, 4 Maret 2026 20:53

MENJELASKAN - Kontraktor pelaksana melalui Cost Control PT PP, Reyhan/ HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Proyek Terowongan Samarinda kembali jadi perhatian. 

Kali ini, muncul rencana tambahan anggaran Rp90 miliar untuk pekerjaan penguatan lereng di sekitar terowongan.

Jika penambahan itu direalisasikan, total biaya pembangunan proyek strategis yang menghubungkan Jalan Sultan Alimuddin dan Jalan Kakap tersebut diperkirakan membengkak menjadi sekitar Rp522,3 miliar atau lebih setengah triliun. 

Sebelumnya, proyek ini telah menyerap anggaran Rp432,3 miliar.

Angka itu sudah termasuk Rp36,3 miliar yang dialokasikan untuk penanganan longsor pada Mei 2025.

Total Biaya Berpotensi Capai Rp522,3 Miliar

Tambahan Rp90 miliar diajukan untuk memperkuat struktur lereng yang dinilai masih memiliki potensi pergerakan tanah, khususnya di area inlet dan outlet terowongan.

Cost Control PT PP, Reyhan, menjelaskan bahwa estimasi anggaran tersebut disusun berdasarkan perhitungan teknis yang mempertimbangkan kondisi geologi dan tingkat kemiringan lereng.

“Estimasi Rp90 miliar itu terdiri dari beberapa item pekerjaan. Yang utama adalah regrading atau pelandaian lereng di sisi inlet untuk mengurangi tingkat kemiringan,” ujar Reyhan, Senin (2/3/2026).

Rincian Pekerjaan Penguatan Lereng

Reyhan memaparkan, ada beberapa komponen utama dalam sistem penguatan lereng yang dirancang secara terintegrasi:

1. Regrading (Pelandaian Lereng)

Dilakukan di sisi inlet untuk menurunkan sudut kemiringan dan mengurangi risiko longsor.

2. Ground Anchor

Sistem penahan yang ditanam ke dalam tanah untuk meningkatkan stabilitas lereng.

Menurut Reyhan, komponen ini menjadi salah satu faktor utama tingginya estimasi biaya.

“Ground anchor itu memang mahal per meternya karena berfungsi sebagai penahan utama lereng,” jelasnya.

3. Waller Beam

Struktur pengikat antar sistem penahan agar beban tanah terdistribusi lebih merata.

4. Backfill

Penimbunan kembali di atas struktur terowongan guna memastikan distribusi beban tanah lebih stabil.

“Di sisi inlet ada regrading, ground anchor, waller beam, dan backfill. Di sisi outlet juga ada penguatan, hanya saja tanpa regrading,” katanya.

 

Sudah Diasistensi Sejak 2024

Reyhan menegaskan, desain penguatan lereng tersebut telah melalui proses asistensi bersama Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan sejak 2024.

Saat ini, desain tersebut digabung dalam tahapan menuju penerbitan Sertifikat Layak Fungsi (SLF).

“Desain ini sudah kami asistensikan sejak 2024 dan berlanjut sampai sekarang. Sekarang prosesnya digabung dengan tahapan layak fungsi,” ujarnya.

Artinya, penguatan lereng menjadi bagian dari proses penilaian sebelum terowongan dinyatakan aman untuk dioperasikan.

Namun, Reyhan menegaskan bahwa dalam dunia konstruksi tidak ada jaminan mutlak terhadap hilangnya risiko longsor.

“Yang bisa kami lakukan adalah memastikan faktor keamanan terpenuhi berdasarkan perhitungan struktur,” tegasnya.

Kendala Lahan dan Proses di Kementerian

Di tengah pembahasan tambahan anggaran, proyek ini juga masih menghadapi persoalan pembebasan lahan.

Sekitar empat hingga lima bidang lahan di sisi inlet disebut belum berhasil dibebaskan.

“Masih ada beberapa bidang lahan yang belum bebas. Jadi pekerjaan lanjutan masih terkendala di situ,” ungkap Reyhan.

Selain itu, proyek juga masih menunggu proses penilaian dari kementerian terkait sebelum dinyatakan layak fungsi.

“Nanti setelah proses di kementerian selesai, baru bisa dinyatakan layak fungsi,” katanya.

Efek Suara dan Getaran Dinilai Aman

Terkait kekhawatiran dampak suara dan getaran kendaraan di dalam terowongan, Reyhan memastikan hal tersebut sudah diperhitungkan dalam desain teknis.

“Efek suara sebenarnya tidak terlalu signifikan. Dari desain sudah diperhitungkan, termasuk kecepatan kendaraan dan aspek lainnya,” jelasnya.

Dengan berbagai dinamika tersebut, proyek Terowongan Samarinda masih berada dalam fase yang belum sepenuhnya rampung.

Di satu sisi, kebutuhan penguatan lereng telah dihitung mencapai Rp90 miliar.

Namun di sisi lain, anggaran belum tersedia, pembebasan lahan belum tuntas, dan proses kelayakan di tingkat pusat masih berjalan.

Publik pun kini menanti: apakah tambahan anggaran akan disetujui dan kapan terowongan tersebut benar-benar bisa difungsikan secara penuh? (isa)

 

Tag

MORE