Perseteruan antara kubu Gus Dur dan Muhaimin Iskandar membuat banyak kader harus menentukan sikap politik.
Helmi mengaku mendapat tawaran untuk tetap bertahan di kubu Muhaimin Iskandar yang saat itu memperoleh legitimasi pemerintah.
Namun ia memilih jalan berbeda.
“Karena kami ini pencinta Gus Dur,” katanya.
Bersama sejumlah kader lainnya, Helmi berangkat ke Jakarta untuk menemui Gus Dur secara langsung.
Pertemuan itu dilakukan setelah posisi Gus Dur semakin terdesak dalam konflik partai.
Helmi masih mengingat suasana saat rombongan kader daerah meminta arahan kepada tokoh yang mereka hormati tersebut.
Alih-alih meminta loyalitas mutlak, Gus Dur justru memberi kebebasan kepada para kader untuk menentukan pilihan masing-masing.
“Beliau tidak memaksa. Mau ikut siapa silakan. Mau ke partai lain silakan,” kata Helmi.
Sikap itulah yang membuatnya semakin yakin untuk tetap setia kepada Gus Dur.
“Feeling saya waktu itu sederhana. Gus Dur orang baik. Beliau kiai besar. Saya percaya saja,” ujarnya.
Keputusan tersebut membuat Helmi memilih mundur dari PKB dan tidak lagi aktif dalam politik praktis.
Kembali ke Dunia Usaha
Setelah meninggalkan politik, Helmi kembali fokus mengembangkan usaha.
Ia mengembangkan bisnis telekomunikasi yang telah dirintisnya sejak tahun 1990-an.
Dari keuntungan usaha itulah ia mulai membeli lahan di kawasan Pinang Seribu yang kini dikembangkan menjadi destinasi wisata.
“Saya pikir mungkin memang bukan rezeki saya di politik waktu itu,” ujarnya.
Beberapa tahun ia menikmati kehidupan sebagai pengusaha.
Tidak ada target menjadi anggota dewan, apalagi pimpinan DPRD.
Namun jalan hidup kembali membawanya ke dunia politik.
Pada 2013, Helmi mendapat tawaran bergabung dengan Partai Gerindra bersama sejumlah rekannya.
Saat itu Gerindra di Samarinda masih tergolong partai baru dengan hanya satu kursi di DPRD.
Ia kemudian dipercaya menjadi pengurus partai dan diminta memimpin DPC Gerindra Samarinda.




