Arus Publik

Ternyata Ini Sindrom Stockholm, Satire dari Castro yang Merasa Lucu Kemesraan Kelompok Mahasiswa dan Aparat

Kamis, 18 September 2025 16:10

WAWANCARA - Akademisi Universitas Mulawarman Samarinda, Herdiansyah Hamzah kerap disapa Castro/ Foto Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO - Dosen Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Herdiansyah Hamzah sempat menyebut soal Sindrom Stockholm dalam kehadirannya pada Kuliah Umum bertemakan: Dari Represi ke Resiliensi: Gerakan Rakyat dalam Bayang Kekerasan Negara” yang digelar FISIP Unmul, Rabu, 17 September 2025. 

Di kesempatan itu, terucap istilah Sindrom Stockholm yang mengisyaratkan adanya tren aneh gerakan-gerapan sosial masyarakat, terutama di kalangan mahasiswa. 

Case terakhir, yakni ketika kelompok mahasiswa di Samarinda yang lantang menyuarakan soal tuntutan rakyat, tetapi selang beberapa hari kemudian, justru bersama aparat melakukan aksi sosial. 

Ini lah yang menurut Castro, biasa Herdiansyah Hamzah di sapa, ia istilahkan menyerupai Sindrom Stokholm. 

“Kan lucu, yang dikritik represifnya aparat tapi malah mesra kemudian. Seperti Sindrom Stokholm, korban malah jatuh cinta dengan pelaku,” katanya mengutip Jawapos.com. 

Lantas, apa itu Sindrom Stokholm? 

Fenomena psikologis yang terdengar asing tapi nyata ini disebut Sindrom Stockholm.

Kondisi ini terjadi ketika korban penculikan atau sandera mulai merasa simpati, loyal, bahkan membela pelaku, meski secara logika hal itu tampak kontradiktif.

Istilah ini berasal dari kasus perampokan bank di Stockholm, Swedia, pada tahun 1973.

Saat itu, para sandera yang diculik selama enam hari justru menunjukkan rasa keterikatan emosional kepada perampok, menolak meninggalkan mereka bahkan setelah bebas, dan membela pelaku di pengadilan.

Peristiwa ini kemudian menjadi studi penting dalam psikologi tentang hubungan antara trauma, stres ekstrem, dan ikatan emosional yang tidak wajar.

Mengutip Foxnews, peristiwa ini terjadi pada 23 Agustus 1973, di jantung kota Stockholm, Swedia.

Seorang pria bernama Jan-Erik Olsson, seorang narapidana yang sedang cuti dari penjara, memasuki bank Sveriges Kreditbank di Norrmalmstorg dengan senapan submesin dan bahan peledak. Ia menembakkan senjatanya ke langit-langit dan berteriak, "Pesta dimulai!" 

Olsson segera mengambil empat pegawai bank sebagai sandera dan mengajukan serangkaian tuntutan, termasuk uang tebusan, kendaraan pelarian, dan pembebasan rekannya, Clark Olofsson, seorang kriminal terkenal yang sedang menjalani hukuman di penjara.

Pihak berwenang Swedia memenuhi sebagian tuntutan tersebut, termasuk membawa Olofsson ke lokasi kejadian. 

Selama enam hari berikutnya, situasi sandera ini disiarkan langsung di televisi, menjadikannya peristiwa kriminal pertama di Swedia yang diliput secara real-time.

Ketegangan semakin meningkat, namun yang lebih mengejutkan adalah reaksi para sandera.

Mereka mulai menunjukkan simpati terhadap para perampok, bahkan membela mereka di hadapan polisi dan media. Salah satu sandera, dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Swedia saat itu, menyatakan bahwa ia lebih takut akan serangan polisi daripada ancaman dari para perampok. 

Setelah enam hari, polisi berhasil membebaskan para sandera tanpa ada yang terluka serius.

Namun, fenomena psikologis yang muncul selama peristiwa tersebut menarik perhatian para ahli. Nils Bejerot, seorang kriminolog dan psikiater Swedia, menciptakan istilah "Norrmalmstorgssyndromet" (Sindrom Norrmalmstorg) untuk menggambarkan reaksi para sandera yang menunjukkan ikatan emosional dengan para perampok.

Nama ini kemudian dikenal secara internasional sebagai Sindrom Stockholm. (pra)

 

 

Tag

MORE