Arus Publik

Syarifatul Sya'diah Sebut Berau Tak Cuma Derawan, Sangkulirang-Mangkalihat Punya Gua Tapak Tangan Purba dan Puncak Ketepu

WAWANCARA Anggota DPRD Provinsi Kaltim dapil Kabupaten Berau, Syarifatul Sya'diah saat diwawacarai awak media terkait Sangkulirang-Mangkalihatdiproyeksikan menjadi kawasan konservasi geologi terbesar di Kaltim/Arusbawah.co

ARUSBAWAH.COKarst Sangkulirang-Mangkalihat tak hanya diproyeksikan menjadi kawasan konservasi geologi terbesar di Kalimantan Timur (Kaltim).

Jika lolos verifikasi nasional pada Juli mendatang, kawasan yang membentang di Kutai Timur dan Berau itu juga berpotensi memperoleh dukungan anggaran pusat untuk pengembangan wisata dan pelestarian lingkungan.

Anggota DPRD Kaltim Daerah Pemilihan Berau, Syarifatul Sya'diah menyebut status geopark nasional menjadi langkah penting untuk menjaga kawasan karst yang selama ini menyimpan sumber air dan situs prasejarah bernilai tinggi.

Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Masuki Fase Penentuan

Proses penetapan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat kini memasuki fase paling menentukan.

Setelah melalui proses administrasi dan penilaian dokumen sejak Oktober 2025, kawasan karst yang memiliki luas sekitar 22 ribu kilometer persegi itu akan menjalani verifikasi lapangan pada 6 hingga 10 Juli 2026.

Tiga verifikator nasional akan turun langsung ke lapangan untuk menguji kesiapan dan kelayakan kawasan tersebut menjadi Geopark Nasional.

Jika berhasil lolos, status itu bukan sekadar pengakuan terhadap kekayaan geologi Kaltim, tetapi juga membuka peluang masuknya dukungan program dan anggaran dari pemerintah pusat.

Dukungan terhadap penetapan geopark terus mengalir.

Salah satunya datang dari Anggota DPRD Kaltim, Syarifatul Sya'diah.

Politikus Golkar perempuan itu menilai status Geopark Nasional sangat penting karena kawasan Sangkulirang-Mangkalihat bukan hanya menyimpan bentang alam karst yang unik, tetapi juga menjadi sumber mata air bagi masyarakat dan rumah bagi berbagai situs sejarah yang bernilai tinggi.

"Kami mendorong supaya segera dilakukan penetapan. Karena kalau sudah menjadi Geopark Nasional, otomatis menjadi kawasan konservasi yang dijaga bersama. Selain itu juga ada peluang dukungan dana dari pemerintah pusat," kata Syarifatul.

Syarifatul Sya'diah Sebut Berau Punya Potensi Wisata Daratan yang Besar

Menurut dia, selama ini publik lebih mengenal Berau dari wisata pesisir seperti Kepulauan Derawan, Maratua, Kakaban atau Labuan Cermin.

Padahal di kawasan daratan, khususnya bentang alam Sangkulirang-Mangkalihat, tersimpan potensi wisata yang tak kalah besar.

Ia menyebut kawasan Kelai memiliki sejumlah destinasi unggulan yang berpotensi menjadi ikon wisata baru Kaltim.

Mulai dari Puncak Ketepu hingga kawasan gua prasejarah yang menyimpan lukisan telapak tangan manusia purba.

"Di sana ada Puncak Ketepu, ada gua-gua yang menyimpan tapak tangan prasejarah. Itu harus dijaga dan dilestarikan supaya lebih dikenal masyarakat luas," ujarnya.

Akses Infrastruktur Masih Menjadi Kendala

Namun di balik potensi besar tersebut, terdapat persoalan mendasar yang hingga kini belum tuntas, yakni akses infrastruktur.

Syarifatul mengaku pernah mengunjungi kawasan itu bersama Gubernur Kalimantan Timur.

Saat musim hujan, sebagian jalur menuju lokasi wisata bahkan nyaris tidak dapat dilalui kendaraan karena kondisi jalan yang berlumpur dan rusak.

"Kami pernah ke sana. Kalau hujan dan jalannya becek, tidak bisa dilalui sama sekali. Karena itu perlu dukungan anggaran agar akses menuju lokasi wisata dan geosite bisa dibenahi," katanya.

Fakta tersebut menjadi ironi tersendiri.

Di satu sisi Sangkulirang-Mangkalihat disebut-sebut sebagai salah satu kawasan karst paling penting di Indonesia.

Namun di sisi lain, akses menuju sejumlah lokasi unggulan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Target Tidak Berhenti di Geopark Nasional, Bidik UNESCO Global Geopark

Saat ini berbagai persiapan terus dilakukan menjelang verifikasi lapangan.

Seminar dukungan penetapan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat bahkan telah digelar di Hotel Mesra Internasional Samarinda pada 17 Juni 2026.

Dalam forum tersebut, pemerintah daerah, organisasi nonpemerintah, akademisi dan masyarakat menyatakan optimistis kawasan tersebut mampu lolos dalam proses penilaian nasional.

Target pengembangan geopark juga tidak berhenti pada status nasional.

Setelah memperoleh pengakuan Geopark Nasional, kawasan ini akan dipersiapkan menuju UNESCO Global Geopark sebagai bentuk pengakuan internasional terhadap kekayaan geologi, keanekaragaman hayati dan warisan budaya yang dimiliki Sangkulirang-Mangkalihat.

Menjelang kedatangan tim penilai, pengelola geopark juga tengah memperkuat branding kawasan.

Berbagai papan informasi, stiker, penanda geosite hingga sosialisasi kepada masyarakat mulai dipasang dan diperkuat.

Langkah tersebut dilakukan karena selama ini aktivitas wisata, konservasi dan pemberdayaan masyarakat sebenarnya sudah berjalan di sejumlah geosite.

Namun aktivitas tersebut belum terhubung dalam satu identitas besar sebagai Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.

Verifikator Akan Kunjungi Sejumlah Geosite Unggulan di Berau dan Kutai Timur

Berdasarkan rencana yang disusun tim pengelola, verifikator akan tiba melalui Bandara APT Pranoto Samarinda sebelum melanjutkan perjalanan ke Sangatta, Kaliorang, Karangan hingga sejumlah geosite unggulan di Berau.

Beberapa lokasi yang masuk agenda kunjungan antara lain Air Terjun Tangga Bidadari dan Gua Mengkuris yang menyimpan jejak telapak tangan prasejarah.

Situs ini menjadi salah satu daya tarik utama karena memiliki karakter yang tidak ditemukan di kawasan geopark lain di Indonesia.

Tim juga dijadwalkan mengunjungi kawasan Biduk-Biduk, Labuan Cermin hingga Teluk Sumbang untuk melihat langsung bentang alam karst yang membentang dari kawasan daratan hingga pesisir.

Tiga Pakar Nasional Turun Langsung ke Lapangan

Tim verifikator terdiri atas tiga pakar yang berasal dari Universitas Padjadjaran, Universitas Hasanuddin dan Pusat Survei Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM.

Selama proses penilaian mereka akan didampingi tim pengamat dari Bappenas.

Dari total 26 geosite yang tersebar di kawasan geopark, hanya beberapa lokasi prioritas yang akan dikunjungi karena waktu verifikasi maksimal hanya lima hari.

(sobizz/wan)

Tag

MORE