Arus Publik

CELIOS

Studi CELIOS: Sistem Ojol Dinilai Bikin Driver Terjebak Ketidakpastian Pendapatan

Pendapatan driver ojol disebut tak sebanding dengan jam kerja

Jumat, 22 Mei 2026 13:1

ILUSTRASI - Potret pengemudi ojek online. CELIOS menilai sistem kerja digital masih timpang bagi driver/Sumber; pixels

ARUSBAWAH.CO - Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai kondisi yang dialami pengemudi ojek online (ojol) bukan sekadar persoalan individu, melainkan bagian dari ketimpangan ekonomi yang lebih luas dalam sistem kerja digital.

Dalam laporan Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026, CELIOS menyebut model bisnis platform digital membuat keuntungan lebih banyak terkonsentrasi di tingkat perusahaan dan investor, sementara beban kerja serta risiko justru ditanggung pengemudi.

Menurut laporan tersebut, narasi “fleksibilitas kerja” dan status “mitra” yang selama ini melekat pada pengemudi ojol dinilai menutupi persoalan ketimpangan struktural.

“Apa yang terlihat sebagai fleksibilitas dan kemitraan sebenarnya adalah bentuk baru dari ketimpangan struktural,” tulis laporan tersebut.

CELIOS menilai pengemudi tetap berada di bawah kontrol platform digital melalui sistem algoritma yang mengatur tarif, insentif, hingga distribusi order.

Pengemudi Disebut Menanggung Seluruh Risiko Kerja

Dalam kajian itu, CELIOS menyebut status “mitra” membuat perusahaan platform dapat menghindari berbagai kewajiban ketenagakerjaan seperti upah minimum, jaminan sosial, hingga perlindungan kerja.

Akibatnya, risiko pendapatan tidak pasti, biaya operasional kendaraan, hingga jam kerja panjang sepenuhnya ditanggung pengemudi.

Sementara itu, perusahaan tetap memperoleh keuntungan dari komisi transaksi dan peningkatan valuasi platform digital.

CELIOS mencatat pengemudi ojol hanya menerima sekitar Rp55.600 atau 80 persen dari biaya perjalanan, sementara sekitar 20 persen lainnya diambil platform sebagai komisi.

Menurut laporan tersebut, kondisi itu memperlihatkan pembagian nilai transaksi yang dinilai timpang.

Pengemudi Ojol Disebut Bekerja Melebihi Jam Normal

Laporan CELIOS juga menyoroti tingginya jam kerja pengemudi ojol di lapangan.

Disebutkan banyak pengemudi bekerja hingga 10 sampai 11 jam per hari dengan jarak tempuh mencapai 42 kilometer setiap hari.

Bahkan, sebagian pengemudi disebut harus menggunakan lebih dari satu aplikasi untuk menjaga kestabilan pendapatan karena penghasilan dari satu platform dianggap tidak cukup.

Meski bekerja dalam waktu panjang, pendapatan pengemudi disebut masih berada di bawah standar upah minimum di sejumlah daerah.

Di Bekasi misalnya, penghasilan pengemudi ojol disebut hanya sekitar Rp3,9 juta per bulan atau sekitar 79 persen dari UMR Bekasi yang berada di angka Rp5 juta.

CELIOS menilai kondisi tersebut menunjukkan ketimpangan dalam ekonomi digital, di mana platform terus berkembang dan memperoleh keuntungan besar, sementara pengemudi tetap menghadapi ketidakpastian pendapatan.

Ketimpangan Ekonomi Digital Diperdebatkan

Dalam laporan itu, CELIOS menyebut model bisnis platform digital kini menjadi contoh bagaimana sistem ekonomi eksploitatif bekerja di era digital.

Keuntungan disebut semakin terkonsentrasi pada investor dan perusahaan teknologi, sementara pekerja tetap berada dalam posisi rentan tanpa perlindungan kerja yang memadai.

Isu kesejahteraan pengemudi ojol sendiri belakangan kembali ramai diperbincangkan di media sosial, terutama terkait potongan komisi, tarif perjalanan, hingga jam kerja panjang yang dinilai tidak sebanding dengan pendapatan. (sal)

Source: Republik oligarki: Ketimpangan ekonomi Indonesia 2026. CELIOS

Tag

MORE