Arus Publik

Sekolah Rakyat

Siswa Sekolah Rakyat Terpadu 57 Kini Sisa 56 Pelajar! 10 Orang Tak Kembali

by:
Lisa
Senin, 8 Desember 2025 13:9

SEKOLAH RAKYAT - Jumlah siswa di Sekolah Rakyat Terpadu 57, yang berada di bawah Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Samarinda, mengalami penyusutan dalam tiga bulan terakhir/ HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Jumlah siswa di Sekolah Rakyat Terpadu 57, yang berada di bawah Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Samarinda, mengalami penyusutan dalam tiga bulan terakhir.

Sejak program pendidikan berasrama mulai berjalan pada September 2025, jumlah siswa yang awalnya 66 orang kini tersisa 56 siswa.

Menariknya, penurunan ini bukan disebabkan kualitas pendidikan, tetapi faktor sosial-ekonomi keluarga yang sulit dikendalikan pihak sekolah.

Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan rapuhnya ekosistem pendukung program pendidikan inklusif.

Kepala Sekolah: Proses Belajar Tetap Normal, Guru Tetap Mengajar Penuh

Kepala Sekolah Rakyat Terpadu 57, Pahrijal, memastikan seluruh kegiatan belajar, layanan makan, hingga aktivitas asrama berjalan seperti biasa.

Para guru tetap mengajar dengan komitmen tinggi meski fasilitas belum sepenuhnya ideal.

“Alhamdulillah tenaga pendidik bekerja penuh, meski sarana belum lengkap,” ujarnya, Senin (1/12/2025).

Penyebab Utama: Perpindahan Domisili dan Ketidakstabilan Keluarga

Salah satu faktor terbesar berkurangnya jumlah siswa adalah perpindahan domisili keluarga.

Ada siswa yang secara administratif sudah terdaftar resmi, tetapi tidak pernah kembali ke kelas setelah pindah ke luar Samarinda.

“Beberapa murid tidak muncul lagi setelah keluarganya pindah. Secara administrasi masih terdaftar, tapi faktanya tidak datang,” jelas Pahrijal.

Situasi ini membuat sekolah serba-sulit.

Mereka tidak bisa menghapus nama siswa tanpa prosedur resmi, namun juga tidak memiliki ruang untuk memaksa keluarga kembali.

 

Kasus Siswa SMP yang Kehilangan Minat Belajar

Sekolah juga menyoroti satu kasus lain: seorang siswa SMP yang kehilangan minat belajar secara total.

Selama dua bulan, anak tersebut mengikuti aktivitas asrama, namun menolak mengikuti pelajaran.

“Kegiatan makan-minum ia jalani, tapi saat belajar ia menolak. Tidak ada perkembangan,” kata Pahrijal.

Setelah dievaluasi dan didiskusikan dengan keluarga, sekolah merekomendasikan jalur PKBM yang lebih fleksibel bagi siswa yang kesulitan mengikuti ritme sekolah reguler.

Kegiatan Akademik Tetap Berjalan Terstruktur

Meski jumlah siswa berkurang, ritme akademik tetap berjalan:

  • SD selesai menjelang siang
  • SMP hingga pukul 14.00 Wita
  • SMA sampai pukul 15.00 Wita
  • Akhir pekan diisi kegiatan asrama

Kurikulum harian ini menjadi fondasi pembentukan kebiasaan belajar bagi siswa yang berasal dari keluarga rentan.

Tantangan Utama: Pendidikan Tak Bisa Berdiri Tanpa Dukungan Keluarga

Penyusutan jumlah siswa ini menunjukkan bahwa keberhasilan program pendidikan berasrama tidak hanya bergantung pada kualitas sekolah.

Kesiapan dan stabilitas keluarga sangat menentukan apakah anak bisa bertahan dalam sistem pendidikan jangka panjang.

Sekolah Rakyat 57 mungkin dapat menyediakan tempat tidur, makan, guru, hingga lingkungan belajar.

Namun ketika keluarga berpindah lokasi, tidak stabil secara ekonomi, atau anak kehilangan komitmen, seluruh sistem dapat runtuh dalam hitungan minggu.

Program tetap berjalan, tetapi realitas sosial masih menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi. (isa)

 

 

Tag

MORE