Arus Publik

'Selamat Jalan, Lion', Pesut Tua yang Hidup Lebih dari 30 Tahun Ditemukan Mati Mengapung di Sungai Mahakam

Lion Ditemukan Mati di Perairan Kota Bangun

Kamis, 7 Mei 2026 19:56

Pesut Mahakam Bernama Lion berusia lebih 30 tahun ditemukan mati di perairan Kampung Baru, Liang, Kecamatan Kota Bangun, Senin (5/5/2026) pagi/HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Sungai Mahakam kembali kehilangan satu penghuninya yang paling tua. 

Seekor pesut jantan bernama Lion ditemukan mati mengapung di perairan Kampung Baru, Liang, Kecamatan Kota Bangun, Senin (5/5/2026) pagi.

Mamalia air tawar langka itu pertama kali ditemukan warga dalam kondisi mengapung di hilir Sungai Mahakam. 

Laporan warga itu kemudian diteruskan ke tim konservasi hingga memicu pergerakan cepat tim gabungan dari Yayasan Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), BPSPL Pontianak, Pokdarwis Desa Pela, hingga PDHI Samarinda.

Saat dievakuasi oleh tim, tubuh pesut sudah mulai memasuki fase pembusukan. 

Tim langsung melakukan pengamanan bangkai, pemeriksaan tubuh, pengukuran, penimbangan, nekropsi, pengambilan sampel organ, hingga proses penguburan.

Dari hasil pemeriksaan awal oleh tim, pesut tersebut memiliki panjang tubuh 2,35 meter dengan berat mencapai 152 kilogram. 

Kondisi giginya juga menjadi perhatian tim peneliti. 

Sebagian besar gigi pesut Lion sudah aus, bahkan beberapa telah hilang.

Kondisi itu menjadi tanda bahwa pesut Lion bukanlah pesut muda.

Danielle Kreb Sebut Lion Sudah Teridentifikasi Sejak 1999

Danielle Kreb, Peneliti Yayasan RASI, mengatakan Lion merupakan individu lama yang sudah lama teridentifikasi dalam penelitian pesut Mahakam.

Hal itu disampaikan Danielle Kreb saat dihubungi wartawan Arusbawah.co melalui sambungan telepon WhatsApp, Kamis (7/5/2026) sore.

“Dia sudah tua karena dari gigi sudah terkikis semua. Ada yang bahkan sudah tidak ada giginya,” kata Danielle Kreb ke redaksi.

Lion diketahui telah masuk dalam studi foto identifikasi sejak tahun 1999. 

Saat itu, kata Danielle Kreb, ukuran tubuh Lion diperkirakan sudah cukup besar. 

Dari situ, tim menduga usia pesut jantan tersebut kini sudah lebih dari 30 tahun.

“Jadi dugaan kami mungkin pada saat itu sudah lumayan besar juga. Jadi di atas 30 tahun mungkin sudah usianya si Lion ini,” ujarnya.

Awalnya Lion Sempat Diberi Nama Linda

Danielle Kreb menjelaskan, identitas Lion dikenali dari bentuk sirip punggung yang menjadi penanda khas setiap individu pesut Mahakam.

Awalnya, pesut itu sempat diberi nama Linda karena belum diketahui jenis kelaminnya. 

Namun setelah pemantauan lebih lanjut dan diketahui berjenis kelamin jantan, namanya diubah menjadi Lion.

“Sirip punggung itu seperti tanda lahir. Jadi kita tahu itu siapa,” katanya.

 

Penyebab Kematian Lion Masih Menunggu Hasil Laboratorium

Meski telah dilakukan pemeriksaan awal, penyebab kematian Lion hingga kini masih belum bisa dipastikan. 

Tim peneliti masih menunggu hasil uji laboratorium dari sejumlah sampel organ yang telah diambil.

Dari pemeriksaan sementara, tim menemukan adanya memar di bagian leher Lion

Namun belum diketahui apakah luka itu akibat benturan, racun, jaring nelayan atau faktor lain.

“Nah, ada semacam memar di leher. Jadi kita masih ambil sampel apakah itu dampak kena hantaman atau bagaimana,” ujar Danielle Kreb.

Tim juga memeriksa kondisi paru-paru Lion untuk memastikan kemungkinan kematian akibat terjerat jaring. 

Namun hasil sementara menunjukkan paru-paru pesut itu masih mengandung udara.

“Kalau kena jaring biasanya sudah habis udara karena kehabisan napas. Tapi ini masih ada udara di paru-parunya,” katanya.

Danielle Kreb menduga bangkai Lion kemungkinan terbawa arus dari wilayah hulu sebelum akhirnya terdampar di kawasan Kampung Baru, Liang.

“Arus sungai lagi kuat. Kemungkinan dari atas lalu terbawa sampai ke teluk di TPI Kampung Baru,” ucapnya.

Kematian Lion Jadi Pengingat Kondisi Sungai Mahakam

Bagi peneliti, kematian seekor pesut bukan hanya soal hilangnya satu individu langka. 

Tubuh pesut juga menjadi indikator kesehatan Sungai Mahakam yang selama bertahun-tahun menghadapi tekanan pencemaran, lalu lintas kapal, aktivitas tambang, hingga polusi kimia dan mikroplastik.

Dalam perbincangan dengan wartawan Arusbawah.co, Danielle Kreb menyebut pesut merupakan bioakumulator, yakni satwa yang menyimpan zat pencemar di dalam tubuhnya sepanjang hidup.

“Kalau ada logam berat, itu enggak pernah benar-benar keluar dari tubuh mereka. Jadi nanti dari hasil laboratorium kita bisa lihat sebenarnya sesehat apa Sungai Mahakam saat ini,” katanya.

Hasil laboratorium diperkirakan baru keluar sekitar satu bulan ke depan karena proses pemeriksaan membutuhkan waktu panjang.

Populasi Pesut Mahakam Kini Diperkirakan Tinggal 65 Ekor

Kematian Lion juga kembali memperkecil populasi pesut Mahakam yang tersisa di Sungai Mahakam. 

Berdasarkan catatan RASI, kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 65 ekor pesut.

“Awal tahun mungkin sekitar 66 ekor. Sekarang berkurang satu jadi sekitar 65,” ujar Danielle.

Di akhir perbincangan, Danielle Kreb menyampaikan pesan perpisahan untuk Lion, pesut tua yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari Sungai Mahakam.

“Mari kita kirim doa semoga Lion kini berenang di sungai yang lebih bersih, tenang dan bebas dari polusi kimia serta kebisingan,” katanya.

“Selamat jalan, Lion. Semoga berenang di perairan yang lebih bersih dan tenang,” pungkas Danielle Kreb.

(wan)

 

Tag

MORE