ARUSBAWAH.CO - Menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, aroma persiapan mulai terasa di gereja-gereja dan sekolah-sekolah Kristiani di Kalimantan Timur.
Di tengah kesibukan ibadah, perayaan, dan tradisi tahunan, ada satu kebutuhan sederhana namun krusial: uang tunai yang layak edar.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kalimantan Timur bersama KPwBI Balikpapan hadir menjawab kebutuhan itu.
Tahun ini, Bank Indonesia menyiapkan uang kartal sebesar Rp 4,8 triliun untuk memastikan masyarakat bisa merayakan Natal dan Tahun Baru dengan tenang, tanpa kekhawatiran soal ketersediaan uang pecahan.
Bagi masyarakat umum, layanan kas keliling bukan sekadar penukaran uang.
Ia menjadi bagian dari persiapan ibadah, tradisi berbagi hingga bagian dari persiapan untuk melakoni libur panjang.
Mulai 9 hingga 23 Desember 2025, mobil kas keliling Bank Indonesia akan singgah di delapan titik strategis—empat di Balikpapan dan empat di Samarinda.
Di Balikpapan, layanan ini hadir langsung di lingkungan gereja: Gereja Katolik Santa Theresia, Gereja Pantekosta, Gereja Bethany “Favor of God”, hingga Gereja Katolik Santa Martinus Lanud.
Sementara di Samarinda, kas keliling menyapa jemaat di Gereja St. Lukas, Gereja Katedral St. Maria “Penolong Abadi”, serta dua sekolah Kristiani, Sunodia dan Citra Kasih.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, dalam keterangan media kepada Arusbawah.co, menjelaskan bahwa layanan ini dikemas dalam program SERUNAI—Semarak Rupiah di Hari Natal Penuh Damai—dengan tema “Rupiah Terjaga untuk Natal Penuh Kasih” 2025. Setiap warga diberi kesempatan menukarkan uang hingga maksimal Rp 5 juta per orang.
Di balik angka-angka besar itu, tersimpan realitas ekonomi masyarakat.
Aktivitas transaksi di Kalimantan Timur tercatat meningkat 17,4 persen dibandingkan tahun lalu.
Kenaikan ini sejalan dengan proyeksi kebutuhan uang tunai di empat kas titipan Bank Indonesia di Penajam Paser Utara, Sendawar, Sangatta, dan Tanjung Redeb.
Tak hanya soal distribusi uang, Bank Indonesia juga menyelipkan pesan kebangsaan. Masyarakat diajak kembali mencintai, bangga, dan paham Rupiah—mulai dari mengenali keasliannya dengan metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang), hingga merawatnya melalui prinsip 5J: jangan dilipat, dicoret, diremas, distapler, dan dibasahi.
Lebih dari alat transaksi, Rupiah diposisikan sebagai simbol kedaulatan.
Pesan lainnya pun mengalir: belanja bijak sesuai kebutuhan, pilih produk dalam negeri, dukung UMKM lokal, serta sisihkan penghasilan untuk menabung dan berinvestasi.
Di penghujung tahun, ketika doa dan harapan dipanjatkan, Bank Indonesia berupaya memastikan satu hal tetap terjaga—Rupiah yang hadir tepat waktu, di tempat-tempat yang paling bermakna bagi masyarakat. (isa)
- Bantuan Rp 7,5 Miliar Pemprov Langsung Dikirimkan ke BPKAD Sumbar, Sumut dan Aceh! Pos Dana Mana yang Dipakai?
- Bulog Samarinda Pastikan Pasokan Beras Kaltim Aman hingga Idulfitri 2026
- Rekap Korupsi Kaltim Sepanjang 2025: 52 Penyelidikan, 40 Penyidikan, dan Rp19,77 Miliar Uang Negara Berhasil Diselamatkan




