ARUSBAWAH.CO - Pihak Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Wahab Sjahranie (RSUD AWS) akhirnya buka suara menanggapi kabar adanya ketidakterbukaan soal ketersediaan kamar rawat inap.
Klarifikasi ini disampaikan Wakil Direktur Medik dan Keperawatan RSUD AWS, Nana Nurliana, menyusul temuan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim dan keluhan pasien yang merasa sulit mendapatkan kamar meski rumah sakit disebut masih memiliki tempat tidur kosong.
Nana menegaskan, pihak rumah sakit tidak pernah menutup-nutupi jumlah kamar yang tersedia.
Menurutnya, ada sejumlah faktor medis dan teknis yang membuat pasien harus menunggu lebih lama di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebelum bisa dipindahkan ke ruang rawat inap.
“Sebelumnya kami mohon maaf jika ada pasien atau keluarga yang merasa lama menunggu di IGD. Kami pastikan, bukan karena permainan kamar, tetapi karena ada beberapa hal yang menjadi penyebab,” ujar Nana saat ditemui awak media, pada Senin (20/10/2025).
Pasien Belum Stabil Jadi Faktor Utama
Salah satu penyebab utama adalah kondisi pasien yang belum stabil.
Nana menjelaskan, berdasarkan standar rumah sakit, pasien harus dalam kondisi aman sebelum dipindahkan ke ruang rawat inap sesuai klasifikasi penyakit dan jenis kelamin.
“Sebagian pasien perlu dilakukan observasi dan stabilisasi di IGD sebelum dipindahkan ke ruangan. Fungsi IGD memang untuk menangani kegawatdaruratan, jadi pasien dengan prioritas tertinggi didahulukan,” jelasnya.
Persiapan Tindakan Medis Mendesak
Selain stabilisasi, beberapa pasien membutuhkan tindakan medis segera, seperti operasi darurat.
Persiapan ini dilakukan di IGD agar pasien tetap stabil sebelum masuk ruang operasi atau rawat inap.
“Kalau langsung dipindahkan ke ruangan lalu dikembalikan lagi ke kamar operasi, justru bisa mengganggu stabilitas pasien,” kata Nana.
- Oktober 2025, Ada 85 SPPG se-Kalimantan Timur Terdata di BGN! Cek Rinciannya Per Kabupaten/ Kota
- Anggaran RSUD Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan 2025 Lebih Setengah Triliun! Terinci untuk Non Alkes Senilai Rp 271 Miliar
- Soal Kabar 'Tempat Tidur Disembunyikan', Klarifikasi Humas AWS: RS Bicara Pakai Data, Bukan Asumsi
Penyesuaian Kamar Berdasarkan Jenis Kelamin dan Peruntukan
Ketersediaan kamar juga tidak otomatis bisa digunakan karena perbedaan jenis kelamin dan fungsi ruangan.
RSUD AWS menerapkan aturan ketat agar pasien ditempatkan sesuai peruntukan ruangan.
“Contohnya, ruang infeksius tidak bisa diisi oleh pasien noninfeksius dan sebaliknya,” jelas Nana. Hal ini menjelaskan mengapa meski kamar terlihat kosong, pasien tidak langsung bisa ditempatkan.
Renovasi dan Kapasitas Tempat Tidur
Faktor lain yang memengaruhi adalah renovasi sejumlah ruangan di rumah sakit.
Kondisi gedung yang telah lama beroperasi memerlukan perbaikan untuk kenyamanan pasien, sehingga kapasitas tempat tidur sementara berkurang.
“Rumah sakit ini sudah lama beroperasi, dan beberapa ruang memang sedang direnovasi untuk meningkatkan kenyamanan pasien,” ungkap Nana.
Beban Rujukan Tinggi dari Seluruh Kaltim
RSUD AWS merupakan rumah sakit rujukan tertinggi di Kaltim.
Banyak pasien dari luar Samarinda, termasuk Kutai Kartanegara (Kukar), dirujuk ke RSUD AWS sehingga menambah kepadatan layanan.
Selain itu, ketidakseimbangan antara pasien yang keluar dan masuk ke ruang rawat inap juga memengaruhi ketersediaan kamar.
“Setiap bulan, perputaran pasien dari rawat jalan dan IGD mencapai 3.000 sampai 3.500 orang. Kadang jumlah pasien yang keluar tidak seimbang dengan yang akan masuk,” tambahnya.
Sebut Layanan Tetap Maksimal Meski Kamar Penuh
Meski pasien belum mendapatkan kamar, Nana memastikan pelayanan medis tetap maksimal di IGD.
Pasien juga ditawarkan penyesuaian kelas sementara, misalnya pasien kelas 1 bisa dirawat sementara di kelas 2 atau 3.
Setelah ada pasien yang pulang, penyesuaian dilakukan sesuai hak masing-masing pasien.
Untuk memastikan keterbukaan, RSUD AWS telah menempatkan layar informasi yang menampilkan kuota tempat tidur secara real time di sejumlah titik pelayanan.
Langkah itu menurut Nana, diharapkan meminimalisasi kebingungan pasien dan keluarga terkait ketersediaan kamar.
“Kami terus berupaya memperbaiki sistem, termasuk dalam mekanisme rujukan dan distribusi kamar. Tidak ada niat untuk menutupi atau mempermainkan ketersediaan tempat tidur,” pungkasnya.
(wan)




