ARUSBAWAH.CO - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) bersama unsur Forkopimda melaksanakan Apel Kesiapsiagaan Bencana di Makodam VI Mulawarman, Sabtu (22/11/2025), sebagai respons atas instruksi Presiden yang disampaikan melalui Kemendagri.
Gubernur Kaltim, Rudy Mas`ud menegaskan daerahnya tidak boleh kecolongan menghadapi musim hujan.
Prediksi cuaca menyebut curah hujan akan meningkat, sementara sejarah bencana memperlihatkan kerentanan Kaltim terhadap banjir dan longsor.
“Mulai Sabang hingga Merauke, dari Miangas ke Rote, semua kepala daerah melaksanakan apel siaga. Ini menunjukkan kesiapsiagaan adalah kewajiban bersama,” ungkapnya.
Pesan itu bukan basa-basi. Kaltim memetakan sejumlah titik risiko tinggi yang harus disiagakan penuh: Samarinda dengan siklus banjir tahunannya, Balikpapan pesisir yang rawan rob, Bontang yang kerap bergelut dengan kiriman banjir, Kutai Barat dan Kutai Timur yang sering terdampak longsor, serta Berau yang mulai menunjukkan pola cuaca ekstrem dalam dua bulan terakhir.
Gubernur menekankan bahwa kerapuhan koordinasi sering kali menjadi akar lambatnya respons di lapangan.
Karena itu, dalam apel ini ia meminta Forkopimda seluruh wilayah menjaga sinergi, kedisiplinan, dan pola komando yang jelas.
“Kesiagaan ini adalah kehormatan bagi kita. Kedisiplinan kita adalah kekuatan kita. Kita tentu tidak menginginkan bencana terjadi, tetapi kita wajib menyiapkan segala kemungkinan,” tegasnya.
Selama pelaksanaan apel, laporan cuaca dan kesiapan daerah disampaikan langsung oleh 10 kabupaten/kota melalui video conference.
Data yang masuk menunjukkan sebagian wilayah sudah menyiagakan personel gabungan, menambah peralatan evakuasi, hingga menyiapkan titik pengungsian.
“Semua daerah sudah menyampaikan kesiapan masing-masing. Ini penting agar respons kita cepat dan terkoordinasi,” ucap Gubernur.
Namun ia juga mengingatkan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya urusan teknis. Ada dua ikhtiar sederhana yang ia sebut memiliki kekuatan moral dan spiritual dalam meredam bencana: memperbanyak doa dan bersedekah.
“Ini bagian dari ikhtiar kita sebagai manusia. Kita berusaha secara teknis, tapi kita juga mesti menguatkan batin,” katanya.
Apel siaga ini menjadi cara Pemprov Kaltim menegaskan komitmennya melindungi masyarakat.
Dengan ancaman cuaca ekstrem yang sudah di depan mata, pemerintah ingin memastikan tata kelola penanggulangan bencana berjalan cepat, terukur, dan tidak lagi sekadar reaktif.
Di lapangan, ribuan personel TNI, Polri, BPBD, relawan, dan instansi daerah disiagakan sebagai bentuk kesiapan menyeluruh.
Gubernur menutup apel dengan pesan singkat namun tajam: kesiapsiagaan bukan pilihan, melainkan kewajiban.
Kaltim, katanya, harus memastikan setiap warga merasa aman meski musim hujan datang membawa risiko yang makin tak terduga.
(adv)




