Arus Publik

Sobizz Goes Public

Mengenal Sejarah RS Kanujoso Balikpapan, Berawal dari Rumah Sakit Zaman Belanda hingga Menjadi Pusat Rujukan Kaltim

Cikal Bakal Rumah Sakit Sudah Ada Sejak 1941

SEJARAH - Perjalanan RS Kanujoso Balikpapan sejak 1941 hingga kini menjadi rumah sakit besar di Kalimantan Timur/ Foto: Kolase Arusbawah

ARUSBAWAH.CO - RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo merupakan salah satu rumah sakit terbesar dan menjadi pusat rujukan utama di Kalimantan Timur. 

Berlokasi di Jalan MT Haryono, Balikpapan Utara, rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur ini melayani pasien dari berbagai daerah, termasuk Balikpapan, Penajam Paser Utara, Paser, Kutai Kartanegara, hingga kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). 

Namun, di balik perannya sebagai rumah sakit modern saat ini, RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo memiliki sejarah panjang yang bermula sejak masa kolonial dan pendudukan Jepang di Balikpapan

Nama rumah sakit ini juga diambil dari sosok dokter sekaligus pejuang nasional yang dikenal memiliki dedikasi besar dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Sosok dr. Kanujoso Djatiwibowo yang Namanya Diabadikan

Nama Kanujoso Djatiwibowo berasal dari seorang dokter yang memiliki jasa besar bagi masyarakat Balikpapan

Ia lahir pada 9 Maret 1909 di Madiun, Jawa Timur. Setelah menyelesaikan pendidikan di Algemene Middelbare School (AMS), ia melanjutkan studi kedokteran di Geneeskundige Hoge School (GHS) Jakarta. 

Selain aktif sebagai dokter, Kanujoso juga dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional dan pendiri organisasi Indonesia Muda. 

Saat bertugas di Balikpapan menjelang pendudukan Jepang, ia memilih tetap melayani pasien meski situasi perang semakin memburuk. 

Kanujoso bahkan tidak meninggalkan rumah sakit ketika keluarganya mengungsi ke Pulau Jawa. 

Ia kemudian ditangkap dan dieksekusi oleh Jepang pada 20 Juni 1945. 

Atas dedikasinya di bidang kesehatan dan pengabdiannya kepada masyarakat, namanya kemudian diabadikan sebagai nama rumah sakit terbesar milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur di Balikpapan

Berganti Nama dan Lokasi Pascaperang

Setelah Perang Dunia II berakhir, fasilitas kesehatan di Balikpapan mengalami sejumlah perubahan. 

Pada 1945, Belanda mendirikan NICA Hospital di kawasan Asrama Bukit yang dipimpin oleh Kapten dr. Maag. 

Dua tahun kemudian, rumah sakit tersebut berganti nama menjadi GBZ Hospital (Government Burgerlijk Ziekenhuis).

Perubahan besar terjadi pada 12 September 1949 ketika rumah sakit dipindahkan ke gedung baru di kawasan Gunung Sari Ulu, Jalan Jenderal Ahmad Yani. 

Dari lokasi inilah rumah sakit berkembang menjadi Rumah Sakit Umum Balikpapan dan menjadi pusat pelayanan kesehatan utama bagi masyarakat Balikpapan serta wilayah sekitarnya.

Krisis Bangunan dan Pembangunan Rumah Sakit Baru

Seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan, Rumah Sakit Umum Balikpapan terus berkembang. 

Pada 1982, rumah sakit berhasil naik status menjadi rumah sakit kelas C dengan dukungan empat dokter spesialis dasar dan kapasitas 326 tempat tidur.

Namun pada Mei 1983, sebagian besar bangunan rumah sakit mengalami keretakan serius akibat kondisi struktur tanah yang tidak stabil. 

Demi keselamatan pasien dan tenaga kesehatan, bangunan yang rusak kemudian dibongkar dan diganti dengan bangunan semi permanen.

Hasil penelitian geologi menunjukkan bahwa lokasi lama tidak lagi ideal untuk pengembangan rumah sakit berskala besar. 

Karena itu, pemerintah mulai menyusun master plan pembangunan rumah sakit baru pada 1985.

Pembangunan rumah sakit baru dimulai pada 31 Maret 1994 di Jalan Letjen MT Haryono (Ring Road), Balikpapan Utara. 

Kompleks rumah sakit dibangun di atas lahan seluas sekitar 24,4 hektare dengan pendanaan yang berasal dari pinjaman IBRD, APBN, dan APBD.

Gedung baru mulai digunakan pada 21 April 1997. 

Selanjutnya, pada 19 Agustus 1997, Presiden Soeharto meresmikan rumah sakit tersebut dengan nama Rumah Sakit Umum Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan

Menjadi Rumah Sakit Rujukan Kalimantan Timur

Memasuki era modern, RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo terus berkembang menjadi salah satu rumah sakit rujukan terbesar di Pulau Kalimantan. 

Berbagai fasilitas dan layanan kesehatan unggulan terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Salah satu pengembangan penting adalah pembangunan Gedung Anggrek Hitam setinggi delapan lantai yang dilengkapi helipad. 

Gedung tersebut mulai dibangun pada 2011 dan diresmikan pada 22 Maret 2013 sebagai bagian dari peningkatan kapasitas pelayanan rumah sakit.

Selain itu, rumah sakit juga terus memperluas layanan spesialis dan subspesialis, termasuk pembangunan gedung pelayanan penyakit infeksius yang mulai beroperasi pada 2023 serta pengembangan Gedung Layanan Jantung Terpadu sebagai salah satu proyek strategis kesehatan di Kalimantan Timur.

Saat ini, RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo berstatus rumah sakit kelas A milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan menjadi pusat rujukan kesehatan bagi masyarakat Balikpapan, Penajam Paser Utara, Paser, Kutai Kartanegara, hingga kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Perjalanan panjang rumah sakit ini menunjukkan bahwa RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo bukan sekadar fasilitas pelayanan kesehatan, melainkan juga bagian penting dari sejarah perjuangan, pembangunan, dan perkembangan Kota Balikpapan selama lebih dari delapan dekade. (sobizz/naa)

Tag

MORE