ARUSBAWAH.CO - Lomba keagamaan di sekolah dinilai tak cukup jika hanya menjadi agenda seremonial Ramadan.
Di Samarinda, kegiatan azan, tilawah tartil, dan kaligrafi mulai didorong menjadi bagian dari sistem pembinaan berjenjang menuju ajang bergengsi seperti Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ).
Dorongan itu terlihat dalam kegiatan pesantren Ramadan di SMA Negeri 5 Samarinda yang menggelar lomba azan, tilawah tartil, dan kaligrafi pada 23–24 Februari 2026.
Sebanyak 80 siswa kelas X dan XI ambil bagian. Rinciannya, 20 peserta azan, 20 tilawah, dan 40 kaligrafi.
Partisipasi terbilang tinggi.
Namun, di balik antusiasme tersebut, masih ada persoalan klasik: potensi ada, tetapi belum terarah dan belum dibina secara berkelanjutan.
LPTQ Kaltim: Jangan Berhenti di Lomba Tahunan
Bidang Perhakiman Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an Kaltim, Sidik Amrillah, menegaskan kegiatan seperti ini seharusnya menjadi pintu awal pembinaan, bukan sekadar lomba musiman.
“Ini sebenarnya bisa jadi awal. Kalau ada yang punya bakat, bisa didorong naik ke jenjang berikutnya,” ujarnya usai menjadi juri lomba azan, Selasa (24/2/2026).
Menurutnya, sistem MTQ sudah memiliki pola pembinaan yang jelas dan terstruktur.
Peserta tidak langsung tampil di tingkat provinsi, melainkan melalui tahapan seleksi mulai dari kecamatan, kabupaten/kota, hingga provinsi.
“MTQ itu berjenjang. Dari kecamatan dulu, lalu kota, baru provinsi. Jadwalnya juga rutin setiap tahun,” jelasnya.
Dengan sistem tersebut, siswa yang memiliki kemampuan di bidang tilawah, azan, maupun kaligrafi sebenarnya memiliki jalur pengembangan yang konkret.
Tantangannya ada pada kesinambungan latihan.
Minim Latihan dan Kepercayaan Diri
Dari pengamatannya di lapangan, Sidik menilai kualitas peserta belum merata.
Bukan karena tidak berbakat, melainkan kurangnya pembinaan rutin.
“Dari 20 peserta azan, mungkin hanya sekitar enam yang benar-benar bagus. Itu pun karena mereka belum terlatih,” katanya.
Selain teknik, persoalan mental juga menjadi hambatan. Banyak siswa dinilai belum percaya diri untuk tampil, bahkan sekadar menjadi muazin di lingkungan sekolah.
“Kadang mereka tidak mau azan karena belum percaya diri. Kalau sudah terbiasa, nanti justru mereka yang maju,” ujarnya.
Karena itu, pembinaan dinilai harus dilakukan secara konsisten. Tidak cukup dengan lomba dua hari, lalu selesai. Latihan bisa dilakukan sederhana, asalkan rutin.
“Silakan latihan, tidak perlu lama, yang penting konsisten. Sekarang bisa belajar dari rekaman, diulang-ulang,” tambahnya.
Sekolah Bisa Jadi Basis Pembinaan Daerah
Sidik juga mendorong agar pola yang dilakukan SMA Negeri 5 Samarinda bisa direplikasi oleh sekolah lain di Samarinda maupun seluruh Kalimantan Timur.
Ia menegaskan, LPTQ terbuka untuk bekerja sama, bukan hanya sebagai juri, tetapi juga sebagai mitra pembinaan dan pemetaan potensi siswa secara lebih profesional.
“Kami di LPTQ terbuka. Sekolah-sekolah lain kalau mau membuat kegiatan seperti ini, silakan bekerja sama dengan kami,” tegasnya.
Menurutnya, jika kegiatan sekolah terhubung dengan sistem pembinaan MTQ, maka lomba internal tidak lagi berhenti sebagai ajang seremonial, melainkan menjadi bagian dari proses seleksi menuju kompetisi yang lebih tinggi.
“Lewat kegiatan seperti ini, kita bisa melihat potensi anak-anak. Dari situ bisa kita arahkan dan dilatih. Ini bukan sekadar lomba, tapi motivasi,” tutupnya. (sobizz/isa)




