Menurut Arie Mega, Project Officer Jurnalisme Aman Yayasan Tifa, “Banyak jurnalis membatasi diri bukan karena tidak memahami isu penting, tapi untuk bertahan di tengah sistem yang menekan. Ancaman kini lebih struktural, masuk ke ruang redaksi dan manajemen media, bukan hanya fisik di lapangan.”
“Tabu Baru” dalam Pemberitaan
Abdul Manan, Tenaga Ahli Riset IKJ, menegaskan bahwa swasensor merupakan bentuk penyempitan ruang kebebasan redaksional.
Fenomena ini disebut sebagai kelahiran “tabu baru”, di mana isu tertentu dihindari karena risiko tekanan politik, ekonomi, atau hukum.
Berbeda dengan sensor formal, tabu baru bekerja diam-diam melalui rasa takut dan ketidakpastian.
Dari perspektif lapangan, jurnalis Tempo, Francisca Christy Rosana, menambahkan, “Bukan hanya jurnalis yang takut berbicara, tapi narasumber juga enggan terbuka pada isu sensitif. Akses informasi terbatas menjadi tantangan serius, terutama pada isu MBG dan PSN.”
Dampak Swasensor terhadap Demokrasi
Arie Mega menegaskan, swasensor bukan sekadar persoalan etika redaksi, melainkan juga persoalan demokrasi.
Ketika jurnalis membatasi diri, yang tergerus bukan hanya independensi media, tetapi juga hak publik untuk informasi yang utuh.
Analisis tren IKJ menunjukkan fluktuasi signifikan dari tahun ke tahun.
Meski ada indikator yang membaik, kebiasaan swasensor kembali meningkat, menandakan perbaikan bersifat sementara dan perlindungan jurnalis belum kokoh secara sistemik.
Tag



