ARUSBAWAH.CO - Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 mencatat tren menguatnya praktik swasensor di kalangan jurnalis Indonesia.
Survei terbaru menunjukkan 80% jurnalis pernah melakukan swasensor, sementara 72% responden pernah mengalami sensor dari pihak lain.
Fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai “tabu baru” dalam praktik jurnalistik: isu tertentu cenderung dihindari atau dibatasi dalam pemberitaan.
Data tersebut dirilis dalam laporan IKJ 2025 yang disusun bersama oleh Yayasan Tifa, Konsorsium Jurnalisme Aman, dan Populix.
Riset tahunan ini menyoroti tren swasensor yang semakin meningkat dan membentuk praktik struktural di redaksi media.
Swasensor Lintas Platform dan Tingkatan
Riset IKJ 2025 menunjukkan swasensor terjadi di semua level, mulai dari reporter, editor, hingga pimpinan redaksi.
Alasan utama melakukan swasensor antara lain:
- Menghindari konflik atau kontroversi berlebihan
- Melindungi keselamatan pribadi
- Menanggapi tekanan dari pihak tertentu
Isu yang paling sering disensor adalah Makan Bergizi Gratis/MBG (58%) dan Proyek Strategis Nasional (52%).
Sementara itu, kekhawatiran terhadap dampak hukum dan keamanan pribadi, termasuk potensi laporan melalui UU ITE, menjadi pemicu utama praktik swasensor.
Tag



