Langkah selanjutnya adalah Seiton, yaitu penyimpanan yang terorganisir, di mana alat-alat kebersihan dan alat bantu kerja disimpan di tempat yang telah ditentukan, seperti laci atau rak yang diberi label.
Hal ini memudahkan operator dalam menemukan dan menyimpan alat setelah digunakan.
Tahapan ketiga adalah Seiso, yang menekankan pada pembersihan rutin. Penerapan sistem klasifikasi tempat sampah menjadi dua jenis—sampah daur ulang dan sampah kotor—membantu menjaga kebersihan di setiap bagian proses, seperti area pemotongan, penjahitan, dan pengepakan.
Selain itu, kegiatan kebersihan harian, seperti membersihkan area kerja setelah selesai proses, juga menjadi bagian dari rutinitas yang harus dijalankan.
Langkah keempat, Seiketsu, adalah pembentukan prosedur yang jelas untuk mempertahankan implementasi 5S. Standar Operasional Prosedur (SOP) yang tertulis memastikan bahwa setiap tahapan proses pengelolaan sampah diikuti dengan baik oleh seluruh operator.
Tahap terakhir adalah Shitsuke, yang fokus pada perawatan dan pemeliharaan.
Pengawasan terhadap operator dilakukan secara menyeluruh, disertai pelatihan untuk memastikan prosedur kebersihan dipatuhi. Selain itu, pemeliharaan alat secara preventif, seperti membuat kartu pemeliharaan, memastikan alat-alat kebersihan dan alat bantu kerja selalu dalam kondisi baik.
Dengan penerapan 5S ini, pengelolaan sampah di Lapas Kelas IIA Purwokerto menjadi lebih bersih, teratur, dan efisien, yang pada akhirnya mampu mengurangi pemborosan dan mendukung lingkungan kerja yang lebih produktif.
Penerapan Lean Manufacturing dalam pengelolaan sampah dapat memberikan berbagai dampak positif.
Pertama, Pengurangan Pemborosan: Lean Manufacturing berfokus pada identifikasi dan penghapusan pemborosan, termasuk limbah yang dihasilkan selama proses produksi, sehingga mengurangi jumlah sampah.
Tag



