ARUSBAWAH.CO - Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) di Samarinda menghadapi tantangan utama yang cukup unik: bukan kekurangan lahan atau regulasi, tapi justru pasokan sampah yang masih belum mencukupi.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, mengatakan bahwa saat ini produksi sampah harian baru mencapai 610 ton, padahal syarat minimal untuk operasional PLTSA adalah 1.000 ton per hari.
“Data kita menunjukkan produksi sampah baru sekitar 610 ton per hari. Artinya kita masih kekurangan 400 ton,” ungkap Andi Harun, Selasa (29/7/2025).
Potensi Sampah Tambahan Sedang Dikaji, Termasuk dari Sungai dan Industri
Andi Harun menyebutkan pihaknya tengah melakukan kajian bersama Dinas Lingkungan Hidup dan mitra pihak ketiga untuk menghitung ulang potensi total sampah yang bisa dikumpulkan.
Potensi tersebut meliputi sampah dari kawasan darat, sungai, hotel, industri, hingga kapal.
“Kita optimis bisa mencapai target jika semua potensi dikumpulkan. Tapi angka riil tetap harus jadi dasar,” ujarnya.
Lahan PLTSA di Samarinda Sudah Lebih dari Cukup
Dibanding daerah lain, Samarinda dinilai lebih siap karena telah memiliki lahan seluas 30 hektar yang clean and clear, melebihi syarat minimal 5 hektar.
Bahkan aturan daerah seperti Perda Retribusi Kebersihan juga sudah tersedia.
“Banyak kota lain masih kesulitan mencari lahan. Samarinda tidak. Problem kita tinggal satu: suplai sampah,” tegasnya.
- Pedagang Beras di Pasar Segiri Rasakan Dampak Isu Oplosan, Pembeli Batal Beli Merek Tertentu Usai Lihat Video di TikTok
- Terungkap Sisi Lain Kehidupan WH, Ayah yang Habisi Dua Anak Kandung: Dari Sakit, Istri Minta Cerai, hingga Coba Bunuh Diri
- Direktur PT TAA Jadi Tersangka dalam Kasus Tambang Ilegal di KHDTK, LKBH Unmul Singgung Tanggung Jawab Korporasi
Skema Baru: Danantara Siap Fasilitasi Pendanaan PLTSA
Dengan adanya revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 Tahun 2018, proyek PLTSA diplot untuk bisa didanai oleh Danantara, lembaga pengelola dana investasi negara.
Danantara juga akan memilih mitra swasta yang akan membangun PLTSA. Sementara PLN akan membeli listrik dari hasil pengolahan sampah tersebut.
“Sudah disepakati harga listrik dari PLTSA adalah Rp20 per kWh,” ujar Andi Harun.
Kerja Sama Antar Daerah Jadi Solusi Tambahan
Jika jumlah sampah dari Samarinda belum mencukupi, Pemkot juga membuka kemungkinan kerja sama dengan daerah tetangga, terutama Kutai Kartanegara (Kukar).
Namun, hal ini masih perlu perhitungan biaya logistik pengangkutannya.
Target Hitung Teknis Rampung Sebulan Lagi
Andi menyatakan, dalam waktu satu bulan ke depan, perhitungan teknis dan potensi produksi sampah akan rampung, sehingga Pemkot bisa segera menyampaikan kesiapan penuh ke pemerintah pusat.
“Kita sudah start lebih dulu. Lahan siap, regulasi ada, anggaran pun disiapkan. Saya yakin PLTSA bisa cepat terealisasi,” pungkasnya. (pra)




