Arus Daerah

Kumpulan Mitos dari Kalimantan Barat, Ada Kisah di Balik Berdirinya Kota Pontianak

Ada Kisah Kaitan Kuntilanak di Balik Berdirinya Kota Pontianak

Jumat, 3 Oktober 2025 18:49

MITOS - Potret Keraton Kadriyah Kesultanan Pontianak dan Pantai Tanjung Baja di Kalimantan Barat, Simak Mitos dari Daerah Ini (Foto: IST)

ARUSBAWAH.CO - Tak dapat dimungkiri, setiap daerah di Indonesia menyimpan kisah turun-temurun yang terus diwariskan hingga ke generasi berikutnya, tak terkecuali di Kalimantan Barat.

Cerita-cerita itu sering kali hadir dalam bentuk mitos yang dianggap sakral dan memiliki daya magis tersendiri bagi masyarakatnya, termasuk di wilayah Kalimantan Barat ini.

Kisah-kisah hingga mitos ini tak hanya menyimpan misteri, tetapi juga sarat dengan pesan moral dan nilai budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi di Kalimantan Barat.

Berikut beragam kumpulan mitos yang hadir dari Kalimantan Barat, ada apa saja?

1. Misteri Padang 12

Salah satu cerita mistis yang paling terkenal di Kalimantan Barat datang dari sebuah tempat bernama Padang 12, yang berada di Kabupaten Ketapang, tepatnya di antara Kecamatan Kendawangan dan Pesaguan.

Kawasan ini dikenal luas oleh masyarakat dengan sebutan “Kota Gaib”, yang konon katanya dihuni oleh bangsa jin muslim.

Padang 12 sendiri sebenarnya hanyalah hamparan tanah kosong sepanjang 12 kilometer, dipenuhi pasir, pohon pinus, dan ilalang yang menjulang tinggi.

Meski tampak biasa, banyak kisah turun-temurun menyebutkan bahwa para pendatang bisa saja melihat wujud lain dari tempat ini, sebuah kota megah dengan bangunan indah, masyarakat makmur, dan peradaban modern yang tersembunyi dari mata manusia biasa.

Namun, konon hanya mereka yang memiliki mata batin (kasyaf) atau berhati bersih yang bisa menyaksikan keindahan kota tersebut.

Sebaliknya, bagi orang yang sombong atau berniat jahat, Padang 12 justru menampakkan sisi gelapnya berupa pemandangan ganjil dan menakutkan.

Legenda setempat juga menggambarkan penghuni Padang 12, yang disebut sebagai orang Limun atau orang kebenaran.

Wujud mereka menyerupai manusia, hanya saja berbeda karena tidak memiliki belahan antara hidung dan bibir.

Kisah-kisah tentang pertemuan dengan penghuni kota gaib ini terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Banyak cerita misterius ikut menyelimuti kawasan ini.

Ada yang mengaku melihat bus berhenti dan menurunkan penumpang lalu lenyap begitu saja, ada pula laporan tentang keberadaan mobil-mobil mewah, seperti Ferrari, McLaren, bahkan pesawat pribadi yang secara logika tak mungkin ada di Ketapang.

Hal ini semakin memperkuat keyakinan warga bahwa Padang 12 menyimpan rahasia yang tak bisa dijelaskan oleh akal sehat.

Cerita lain menyebutkan seorang warga pernah menolong nenek-nenek di pasar untuk diantar pulang.

Anehnya, sesampainya di kawasan Padang 12, sang nenek menghilang begitu saja, dan yang tertinggal hanyalah kunyit emas di atas motornya.

Hingga kini, kisah mistis tentang Kota Gaib Padang 12 tetap menjadi misteri yang memancing rasa penasaran.

Apakah benar ada dunia paralel yang hanya bisa dilihat oleh mereka dengan mata batin terbuka, atau sekadar mitos yang hidup dari cerita rakyat?

Yang jelas, Padang 12 masih menjadi salah satu rahasia paling memikat dari Kalimantan Barat.

2. Kemponan

Bagi sebagian orang di luar Kalimantan, menolak makanan atau minuman yang ditawarkan mungkin dianggap hal biasa tanpa konsekuensi apa pun.

Namun, bagi masyarakat Kalimantan, terutama di Kalimantan Barat, ceritanya berbeda.

Ada kepercayaan yang cukup kuat bahwa menolak hidangan bisa membawa dampak buruk, mulai dari terjatuh, tertabrak, hingga mengalami kecelakaan.

Inilah yang dikenal dengan istilah kemponan.

Untuk menghindari kemponan, masyarakat biasanya akan tetap "menjamah" makanan atau minuman yang ditawarkan.

Caranya unik, cukup dengan menyentuh atau mencelupkan jari ke dalam sajian tersebut, tanpa harus benar-benar memakannya.

Menurut sejumlah kajian, kebiasaan ini tidak lepas dari keterkaitan antara budaya, mitos, dan pola pikir masyarakat.

Penelitian Shah dan Wahid (2010) dalam jurnal Muhammad Asyura menyebutkan bahwa mitos yang terus diwariskan bisa berubah menjadi idealisme kolektif.

Hal inilah yang membentuk cara pandang serta perilaku masyarakat hingga sekarang.

Keyakinan tersebutlah yang membuat masyarakat Kalimantan Barat masih memegang teguh tradisi tentang kemponan.

3. Minum “Aek Kapuas”

Mitos ini dianggap cukup sakral.

Konon, siapa pun yang datang dari luar Kalimantan lalu tanpa sengaja meminum air Sungai Kapuas, diyakini akan merasa kerasan dan sulit meninggalkan Kalimantan Barat.

Bahkan, disebut-sebut ingin menetap di sana untuk waktu lama.

4. Hantu Laot (Puake) di Sungai Kapuas

Mitos berikutnya yang tak kalah menarik adalah kisah tentang “hantu laut” yang oleh warga Pontianak dikenal dengan sebutan Puake.

Sosok gaib ini digambarkan menyerupai naga raksasa yang mendiami perairan.

Menurut cerita turun-temurun, kemunculan Puake pertama kali terjadi sekitar tahun 1994 di Pontianak.

Kala itu, makhluk ini dipercaya menyeret beberapa anak dengan gelombang besar karena mereka dianggap bersikap tidak sopan saat berenang di laut.

Untuk menangkal kemunculan Puake, masyarakat setempat rutin menggelar ritual tahunan.

Berbagai sesaji seperti buah-buahan, minyak, telur ayam kampung, nasi kuning, paku, hingga bedak dipersembahkan.

Bahkan, di beberapa daerah ada tradisi melepas seekor ayam hidup ke laut sebagai simbol penolak bala.

Mitos-mitos semacam ini memang diwariskan dari generasi ke generasi, bukan hanya sebagai kisah mistis semata, melainkan juga sebagai cara menjaga kearifan lokal dan mengingatkan anak-cucu akan ciri khas budaya daerahnya.

5. Kisah Batu Menangis

Legenda Batu Menangis dari Kalimantan Barat, tepatnya di Desa Jabar, Kecamatan Ella Hilir, bercerita tentang seorang gadis cantik bernama Darmi yang hidup dalam kemanjaan hingga tumbuh menjadi sombong dan angkuh.

Ibunya, seorang janda pekerja keras, selalu berusaha memenuhi kebutuhan dengan bekerja di kebun dan pasar, sementara Darmi hanya sibuk merawat diri dan menolak membantu.

Suatu hari, ketika diminta untuk bekerja, ia justru menolak dengan kasar bahkan mempermalukan ibunya di depan banyak orang.

Karena kesombongan itu, Darmi pun dikutuk menjadi batu, tubuhnya perlahan membeku dari kaki hingga seluruh bagian, namun meski sudah membatu, air mata tetap mengalir sehingga kemudian dikenal dengan sebutan Batu Menangis.

Batu tersebut akhirnya dipindahkan warga dan diarahkan ke langit sebagai bentuk penghormatan atas legenda tersebut.

Kisah ini sarat pesan moral bahwa kecantikan tak ada artinya bila hati penuh kesombongan, anak wajib menghormati orang tua apa pun kondisinya, dan orang tua pun diingatkan untuk mendidik anak agar tumbuh mandiri serta beretika.

Hingga kini, cerita Batu Menangis tetap hidup sebagai warisan budaya yang mengajarkan nilai moral dan etika bagi generasi berikutnya.

6. Mitos Kuntilanak di Balik Berdirinya Kota Pontianak

Kuntilanak kerap dilekatkan dengan beragam mitos, salah satunya kisah pendirian Kota Pontianak.

Hal inilah yang menarik perhatian antropolog asal Jerman, Timo Duile, untuk menelitinya.

Penelitiannya yang dipublikasikan tahun 2020 dalam Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia berjudul “Kuntilanak: Ghost Narratives and Malay Modernity in Pontianak, Indonesia”.

Dari hasil kajiannya, ia menemukan bahwa masyarakat Pontianak percaya kota mereka berdiri setelah “mengusir” kuntilanak yang mendiami pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak.

Konon, wilayah itu dulunya hanyalah rawa dan hutan lebat.

Ada pula klaim bahwa nama Pontianak berasal dari bahasa Melayu po(ho)n ti(nggi) yang berarti “pohon tinggi”, yang kemudian semakin menguatkan kaitan kuntilanak dengan simbol pohon-pohon besar di pedalaman Kalimantan Barat.

Penutup

Rangkaian mitos dari Kalimantan Barat menunjukkan betapa kuatnya hubungan masyarakat dengan tradisi, alam, dan cerita turun-temurun.

Mulai dari legenda kota gaib Padang 12, kemponan, kisah Batu Menangis, hingga mitos kuntilanak di balik berdirinya Kota Pontianak, semuanya menjadi jejak budaya yang tak ternilai.

Meskipun sebagian besar dianggap mistis, mitos Kalimantan Barat tetap hidup sebagai pengingat akan kearifan lokal, moralitas, dan identitas budaya yang menjadikan daerah ini semakin menarik untuk dikenali.

(apr)

Tag

MORE