Arus Terkini

Ketua DPRD Kukar Junaidi Meninggal Dunia, Apa Itu Cardiac Silent Death yang Dijelaskan Pihak RSUD AM Parikesit? 

Senin, 2 Desember 2024 20:50

Kolase ilustrasi cardiac silent death dan RSUD AM Parikesit Kukar/ kolase oleh arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO - Ketua DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Junaidi meninggal dunia pada Senin (2/12/2024).

Ia diketahui meninggal dunia usai sebelumnya mengalami insiden ketika bermain bulu tangkis.

Hal ini sebagaimana dikabarkan Direktur RSUD AM Parikesit, Martina Yulianti.

“Informasi awal yang kami terima, pasien terjatuh saat bermain badminton. Ia sempat terbaring sekitar 10 menit di lokasi sebelum akhirnya petugas datang memberikan pertolongan. Namun, upaya tersebut tidak berhasil, dan pasien tiba di rumah sakit dalam kondisi DOA (Death on Arrival),” jelas Martina Yulianti sebagaimana dilansir dari tribunkaltim.co.

Dijelaskannya lagi, bahwa kondisi yang terjadi pada Ketua DPRD Kukar itu, bisa disebabkan dan berkaitan dengan cardiac silent death.

“Kejadian seperti ini bisa terkait dengan kondisi jantung, salah satunya yang disebut cardiac silent death," jelasnya lagi.

Dilansir dari situs Mount Alvernia Hospital, cardiac silent death adalah kondisi di mana jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba.

Kasus ini dapat seringkali muncul di beberapa peristiwa, misalnya pada seorang pemain bola muda pingsan di lapangan saat pertandingan sepak bola, atau seorang rekan kerja yang tampaknya sehat tiba-tiba jatuh pingsan, dan kemudian meninggal dunia.

Insiden yang tiba-tiba dan mengancam jiwa tersebut disebabkan oleh suatu kondisi yang dikenal sebagai kematian jantung mendadak. Apa penyebabnya, dan bagaimana kita dapat melindungi diri kita sendiri dan orang-orang yang kita cintai dari ancaman kematian jantung mendadak?

Dr Leslie Tay, seorang konsultan kardiologi intervensional dan dokter di Rumah Sakit Mount Alvernia menjelaskan lebih lanjut.

Kematian jantung mendadak, atau henti jantung mendadak, terjadi ketika jantung tiba-tiba berhenti berdetak, memutus aliran darah ke otak dan organ-organ vital. Tanpa intervensi segera, kematian terjadi dalam hitungan menit.

Ada banyak kondisi yang terkait dengan henti jantung mendadak. Bagi mereka yang berusia di atas 35 tahun, kematian jantung mendadak sering kali disebabkan oleh serangan jantung dan penyakit jantung koroner.

Penyakit arteri koroner terjadi ketika plak kolesterol menumpuk di arteri jantung, menyebabkannya menyempit.

Penyempitan ini membatasi aliran darah ke otot jantung, yang berpotensi menyebabkan ketidaknyamanan di dada, sesak napas, dan masalah irama jantung, yang sering kali terasa seperti palpitasi.

Di sisi lain, serangan jantung terjadi ketika arteri yang menyempit ini pecah, menciptakan gumpalan darah yang menghalangi aliran darah, membuat jantung kekurangan oksigen, yang pada akhirnya menyebabkan kematian otot jantung jika tidak segera ditangani.

Pada individu yang lebih muda, kelainan jantung bawaan, khususnya kardiomiopati hipertrofik (HCM), merupakan penyebab umum kematian jantung mendadak. HCM menyebabkan otot jantung menebal secara tidak normal, menghalangi aliran darah, dan meningkatkan risiko irama jantung yang mematikan karena sel-sel otot jantung yang tidak teratur.

Gejala seperti sesak napas, nyeri dada, palpitasi, pingsan, atau kehilangan kesadaran secara tiba-tiba, sering kali mendahului kematian jantung mendadak.

Tanda-tanda peringatan ini memberikan kesempatan untuk mencari pertolongan medis dan mengambil tindakan pencegahan.

Sayangnya, ada beberapa korban yang tidak mengalami gejala sebelumnya, sehingga serangan jantung mendadak menjadi indikasi pertama adanya masalah yang mendasarinya.

Dalam kasus seperti itu, riwayat keluarga dengan kematian mendadak yang tidak dapat dijelaskan mungkin menjadi satu-satunya petunjuk atau peringatan.

Sebelum melakukan olahraga berat atau kegiatan ketahanan, pemeriksaan pra-partisipasi sangatlah penting.

Mereka yang memiliki kondisi medis seperti penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, atau riwayat keluarga penyakit jantung atau stroke harus berkonsultasi dengan dokter.

Individu yang merokok atau kelebihan berat badan juga mungkin berisiko lebih tinggi dan harus diperiksa untuk mengetahui masalah yang mendasarinya.

Pemeriksaan biasanya meliputi riwayat medis dan pemeriksaan fisik yang komprehensif, elektrokardiogram untuk membaca aktivitas listrik jantung, ekokardiogram untuk mencari kelainan struktural, dan uji treadmill atau angiogram koroner CT untuk mendeteksi penyakit arteri koroner. (pra)

Tag

MORE