Kehadiran Hamas di tengah demonstran turut ditanggapi akademisi Fakultas Hukum Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah, yang akrab disapa Castro.
Menurutnya, langkah Hamas menemui massa bukanlah sikap berani, melainkan kewajiban sebagai budak rakyat.
“Dia memang harus keluar. Sebagai wakil, dia itu budaknya rakyat. Budak wajib menghadap tuannya. Rakyat adalah tuannya. Dia harus menjelaskan, sudah kerja apa, sudah perjuangkan apa. Kalau tidak, sama saja lari dari tanggung jawab,” kata Castro yang turut hadir di lokasi aksi.
Castro menilai ekspresi kekecewaan publik melalui aksi jalanan adalah hal wajar.
Menurutnya, unjuk rasa merupakan cara sah rakyat menyampaikan kekecewaan terhadap DPRD, DPR RI, hingga presiden yang dianggap lebih berpihak pada investor ketimbang rakyat.
“Disparitas ekonomi makin telanjang. Anggota DPR digaji puluhan kali lipat dari rakyat biasa. Itu simbol arogansi. Wajar kalau rakyat marah,” ujarnya.
- Deretan Demo Serentak di Kaltim 1 September 2025, Samarinda Jadi Pusat Massa Terbesar
- Sahroni - Eko Patrio Cs Dinonaktifkan dari Anggota DPR, Akademisi Nilai Istilahnya Tak Ada! Castro: Dikiranya Kita Bodoh Ya?
- Lebih 5.000 Orang Diperkirakan Demo depan DPRD Kaltim 1 September, Tuntut Hapus Tunjangan Mewah hingga Sahkan RUU Perampasan Aset
Castro Ingatkan Potensi Ledakan Aksi Massa di Kaltim
Ia mengingatkan, bila ketidakadilan terus dibiarkan, eskalasi aksi massa bisa berubah menjadi tindakan lebih destruktif.
Tag



