ARUSBAWAH.CO - Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur mencatat tingkat kemiskinan di provinsi tersebut pada September 2025 berada di angka 5,19 persen atau sekitar 202,04 ribu jiwa.
Survei kemiskinan dilaksanakan pada September 2025 dengan menggunakan konsep kebutuhan dasar (basic needs approach), yakni pendekatan yang mengukur kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan makanan dan nonmakanan.
Kepala BPS Kalimantan Timur, Mas’ud Rifai, menjelaskan bahwa meskipun terjadi sedikit kenaikan dibanding Maret 2025, tren jangka panjang kemiskinan di Kaltim tetap menunjukkan penurunan.
“Persentase penduduk miskin September 2025 sebesar 5,19 persen, naik 0,02 persen poin dibanding Maret 2025. Namun secara tahunan masih menurun dibanding September 2024 yang sebesar 5,51 persen,” kata Mas’ud Rifai.
Secara umum, ia menilai kondisi kemiskinan di Kaltim menunjukkan perbaikan dalam beberapa tahun terakhir.
Hal tersebut terlihat dari tren sejak Maret 2021 yang berada pada 6,54 persen dan terus menurun hingga mencapai 5,19 persen pada September 2025.
"Secara global, tren penduduk miskin di Kaltim terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Memang ada beberapa yang fluktuaktif, namun secara umum trennya terus mengalami penurunan," tuturnya.
Selain itu, posisi kemiskinan Kalimantan Timur saat ini termasuk relatif rendah secara nasional.
"Tingkat kemiskinan Kaltim berada pada urutan ketujuh terendah di Indonesia per September 2025," ujarnya.
Disparitas Kota dan Desa Masih Terlihat
BPS juga mencatat bahwa tingkat kemiskinan di wilayah pedesaan masih lebih tinggi dibandingkan daerah perkotaan.
Pada September 2025, persentase penduduk miskin di desa mencapai 7,24 persen, sedangkan di kota sebesar 4,31 persen.
"Sebaran penduduk miskin menurut penduduk kota dan desa menunjukkan bahwa persentase terbesar penduduk miskin Kaltim berada di daerah pedesaan," papar Mas'ud.
Mas’ud menyampaikan bahwa terdapat dinamika berbeda antara wilayah kota dan desa dalam periode terakhir.
Ia menyebutkan bahwa dibanding Maret 2025, angka kemiskinan di perkotaan mengalami kenaikan sebesar 0,15 persen poin, sementara di pedesaan justru turun 0,24 persen poin.
Garis Kemiskinan Naik, Dipicu Kenaikan Komponen Pengeluaran
Dari sisi perhitungan, garis kemiskinan Kalimantan Timur pada September 2025 tercatat meningkat sebesar 3,64 persen.
Nilainya naik dari Rp866.193 per kapita per bulan pada Maret 2025 menjadi Rp897.759 per kapita per bulan pada September 2025.
“Peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan komoditas bukan makanan. Pada September 2025, komoditas makanan menyumbang 70,13 persen, sedangkan nonmakanan sebesar 29,87 persen,” ujar Mas’ud Rifai.
BPS mencatat sejumlah komoditas yang memberi pengaruh besar terhadap garis kemiskinan baik di perkotaan maupun pedesaan, di antaranya beras, rokok kretek filter, daging ayam ras, telur ayam ras, dan mi instan.
Sementara itu, komponen nonmakanan yang dominan di perkotaan meliputi perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan air.
Adapun di pedesaan mencakup perumahan, bensin, listrik, pendidikan, serta kebutuhan mandi.
(raf)




