ARUSBAWAH.CO - Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto melakukan kunjungan terkait dengan video viral akan lubang tambang berdekatan dengan sungai di Kabupaten Berau.
Video tersebut sebelumnya sempat muncul di media sosial, termasuk juga dari kalangan penelusuran jurnalis.
Melalui akun Instagrammya, @doktor.barwanto, diunggah bahwa kunjungan dilakukan ke ke PT Supra Bara Energi.
Kunjungan dilakukan untuk merespons perhatian publik terkait potensi bencana ekologi akibat kegiatan penambangan Batubara yg sangat dekat dengan Sungai Kelay.
"Mengingat proses Perizinan, Pembinanan dan Pengawasan PT Supra Bara Energi ini merupakan kewenangan Kementrian ESDM RI, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur melaksanakan kunjungan lapangan ke lokasi IUP Operasi Produksi komoditas batubara milik PT. Supra Bara Energi (PT. SBE) yang berada di Desa Rantau Panjang dan Pagar Bukur, Kecamatan Sambaliung dan Teluk Bayur, Kabupaten Berau, pada Jumat (30/1/2026) bertujuan mengkoordinasikan Arahan Kepala Inspektur Tambang Kementrian ESDM telah dilaksanakan oleh PT SBE dan untuk memastikan bahwa seluruh aktivitas penambangan telah memenuhi aspek keselamatan khususnya warga di sekitar wilayah tambang," tulis Bambang Arwanto.
Dia lanjutkan, berdasarkan hasil pemantauan lapangan, PT. SBE telah melakukan sejumlah upaya pengendalian teknis untuk menjaga stabilitas lereng dan melindungi badan sungai dengan teknik Grouting yaitu injeksi semen dengan kedalaman masing masing lubang sepanjang 600 Meter (membentang di sisi timur PIT bukaan penambangan sebagai penahan gerakan tanah untuk kestabilan lereng penambangan dan drainhole untuk mengurangi tingkat kejenuhan material pada dinding bukaan.
"Proses penutupan Void telah dilakukan, saat kunjungan progress tersebut telah mengalami perubahan elevasi dengan kenaikan ±40 M atau ±2,6 juta BCM overburden sedangkan untuk proses penutupan keseluruhan diperlukan ±10 juta BCM overburden yang diperkirakan selesai pada bulan Agustus 2026 (level pertama -90 mdpl pada keseluruhan PIT 55),".
Dilanjutkannya, bersamaan dengan penutupan void tersebut, dilakukan juga perapian pada dinding penambangan sehingga terbentuk bench/jenjang untuk menstabilkan lereng bukaan tambang.
"Proses penutupan ini nantinya sesuai dengan yang disampaikan oleh pihak manajemen PT. SBE, finalnya akan mencapai elevasi +5 mdpl dengan lebar ±500 meter (jarak horizontal antar dinding bukaan) sebagai penguatan/penahan bekas bukaan tambang tersebut dan finalnya area tersebut tidak meninggalkan void (penimbunan/backfilling 100%)," demikian sebagaimana diunggah di akun IG Bambang Arwanto.
Sempat Ditelusuri Kalangan Jurnalis
Sebelumnya, perhatian publik soal tambang yang berdekatan dengan sungai ini turut membuat kalangan jurnalis di Samarinda melakukan penelusuran via drone.
Hasil penelusuran lapangan mengungkap jarak sangat kritis antara lubang tambang terbuka (open pit) dengan aliran utama Sungai Kelay, salah satu sungai vital bagi kehidupan warga Berau.
Temuan ini merupakan bagian dari penelusuran Jaringan Penulis Alam (JPA), forum jurnalis lintas media yang fokus mengawasi isu lingkungan dan tata kelola sumber daya alam.
Sejumlah jurnalis Samarinda turut terlibat langsung dalam penelusuran lokasi tambang yang videonya sempat viral di media sosial.
Arusbawah.co, media online berbasis di Samarinda juga ikut dalam penelusuran tersebut.
Penelusuran dilakukan dengan mendatangi langsung lokasi, dengan menggunakan drone sebagai pantauan udara.
Ungkap Jarak Tambang dan Sungai Sangat Berisiko
Berdasarkan dokumentasi foto udara hasil penelusuran, aktivitas pengerukan batu bara di lokasi tersebut hanya dipisahkan oleh tanggul tanah yang sangat sempit dari badan Sungai Kelay.
Tak hanya itu, di atas punggungan tanggul tersebut juga terlihat jalur operasional kendaraan berat tambang.
Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko ketidakstabilan struktur tanggul akibat beban kendaraan dan getaran yang terjadi secara terus-menerus.
“Ini bukan sekadar soal jarak. Tanggulnya dipakai lalu lintas alat berat. Kalau hujan besar, risikonya sangat tinggi,” ungkap Anjas Pratama, jurnalis Arusbawah.co yang ambil bagian dalam penelusuran.
Ancaman Ganda: Sungai Tercemar atau Pit Tambang Tenggelam
Kedekatan ekstrem antara open pit dan sungai menciptakan ancaman ganda.
Di satu sisi, air Sungai Kelay berpotensi menerobos dan menenggelamkan area tambang.
Di sisi lain, runtuhan material tambang bisa langsung mencemari sungai, menyebabkan pendangkalan, pencemaran, dan gangguan serius pada ekosistem air.
Sungai Kelay sendiri merupakan urat nadi masyarakat Berau.
Sungai ini berfungsi sebagai sumber air baku, jalur transportasi, hingga penopang ekosistem bagi kampung-kampung dan masyarakat adat di sepanjang alirannya.
Trauma Bencana 2021 Menghantui Warga Berau
Temuan ini mengingatkan kembali pada tragedi jebolnya tanggul tambang PT Rantaupanjang Utama Bhakti (RUB) di Kecamatan Sambaliung pada Mei 2021 silam. Saat itu, luapan Sungai Kelay menghancurkan tanggul perusahaan dan menenggelamkan pit tambang aktif.
Dampaknya sangat luas:
- Akses darat menuju Kampung Bena Baru terputus total
- Warga terpaksa mengungsi ke dataran tinggi
- Tidak ada sistem peringatan dini saat tanggul jebol
Melihat kondisi terbaru hasil investigasi JPA, potensi kejadian serupa—bahkan dengan skala lebih besar—dinilai sangat mungkin terulang, mengingat kedalaman lubang tambang yang terlihat dalam dokumentasi udara.
Jurnalis Samarinda Minta Atensi Menteri ESDM
Awaluddin Jalill, jurnalis Samarinda yang ikut menelusuri kasus tambang viral di Berau, menegaskan bahwa kondisi ini harus segera menjadi perhatian pemerintah pusat, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Ia meminta ada atensi dari Menteri ESDM, Bahlil Lahadlia.
“Dari hasil penelusuran ini, kami ingin bilang: Pak Bahlil, open pit tambang di Berau dekat banget dengan sungai. Ini harus jadi atensi pusat,” tegas Jalill.
Menurutnya, pengabaian terhadap jarak aman tambang dari badan sungai merupakan bom waktu lingkungan yang bisa meledak kapan saja, terutama saat curah hujan tinggi di wilayah hulu. (pra)




