Temuan ini merupakan bagian dari penelusuran Jaringan Penulis Alam (JPA), forum jurnalis lintas media yang fokus mengawasi isu lingkungan dan tata kelola sumber daya alam.
Sejumlah jurnalis Samarinda turut terlibat langsung dalam penelusuran lokasi tambang yang videonya sempat viral di media sosial.
Arusbawah.co, media online berbasis di Samarinda juga ikut dalam penelusuran tersebut.
Penelusuran dilakukan dengan mendatangi langsung lokasi, dengan menggunakan drone sebagai pantauan udara.
Ungkap Jarak Tambang dan Sungai Sangat Berisiko
Berdasarkan dokumentasi foto udara hasil penelusuran, aktivitas pengerukan batu bara di lokasi tersebut hanya dipisahkan oleh tanggul tanah yang sangat sempit dari badan Sungai Kelay.
Tak hanya itu, di atas punggungan tanggul tersebut juga terlihat jalur operasional kendaraan berat tambang.
Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko ketidakstabilan struktur tanggul akibat beban kendaraan dan getaran yang terjadi secara terus-menerus.
“Ini bukan sekadar soal jarak. Tanggulnya dipakai lalu lintas alat berat. Kalau hujan besar, risikonya sangat tinggi,” ungkap Anjas Pratama, jurnalis Arusbawah.co yang ambil bagian dalam penelusuran.
Ancaman Ganda: Sungai Tercemar atau Pit Tambang Tenggelam
Kedekatan ekstrem antara open pit dan sungai menciptakan ancaman ganda.
Di satu sisi, air Sungai Kelay berpotensi menerobos dan menenggelamkan area tambang.
Di sisi lain, runtuhan material tambang bisa langsung mencemari sungai, menyebabkan pendangkalan, pencemaran, dan gangguan serius pada ekosistem air.
Sungai Kelay sendiri merupakan urat nadi masyarakat Berau.
Tag



