Lewat buku yang ditulisnya, Anggota DPRD Kaltim Husni Fahruddin mengajak semua pihak melihat DAS Mahakam bukan sekadar sungai, tetapi denyut kehidupan jutaan warga.
ARUSBAWAH.CO - Bagi sebagian orang, Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam mungkin hanya terlihat sebagai bentangan sungai yang membelah Kalimantan Timur.
Namun bagi Anggota DPRD Kalimantan Timur, Husni Fahruddin, DAS Mahakam adalah ruang hidup yang menyatukan lingkungan, ekonomi, budaya, hingga masa depan generasi yang akan datang.
Pemikiran tersebut ia tuangkan dalam sebuah buku yang membahas arah kebijakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam pengelolaan DAS Mahakam.
Di dalamnya, Husni mengulas bagaimana pengelolaan DAS tidak lagi cukup dilakukan secara sektoral, tetapi harus melibatkan berbagai pihak melalui kolaborasi lintas instansi, masyarakat, akademisi, hingga dunia usaha.
Menurutnya, pengelolaan sungai tidak hanya berbicara mengenai banjir atau pencemaran, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan, sumber air bersih, perlindungan kawasan hutan, hingga keberlanjutan pembangunan di Kalimantan Timur yang kini menjadi penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Buku tersebut juga mengulas berbagai kebijakan yang telah dijalankan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, mulai dari pembentukan Forum DAS Mahakam, penguatan koordinasi lintas organisasi perangkat daerah, rehabilitasi kawasan kritis, program konservasi mangrove, pengawasan aktivitas pertambangan, hingga pembangunan infrastruktur pengendalian banjir.
Selain itu, Husni menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi melalui Sistem Informasi DAS Mahakam sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis data (data-driven decision making), sehingga kebijakan lingkungan tidak lagi hanya didasarkan pada asumsi, tetapi pada kondisi riil di lapangan.
Dalam bukunya, ia juga menjelaskan bahwa pengelolaan DAS harus berjalan beriringan dengan perlindungan masyarakat adat, restorasi kawasan hulu, pengembangan ekonomi berbasis konservasi, serta pencapaian target transisi menuju pembangunan rendah emisi.
"DAS Mahakam bukan sekadar aliran sungai. Di sanalah kehidupan masyarakat Kalimantan Timur bertumpu. Menjaganya berarti menjaga masa depan daerah ini, mulai dari lingkungan, ekonomi, hingga generasi yang akan datang," ujar Husni Fahruddin.
Ia menilai keberhasilan pengelolaan DAS tidak mungkin dicapai hanya oleh pemerintah.
"Yang dibutuhkan adalah kolaborasi. Pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat adat, komunitas, hingga generasi muda harus memiliki rasa tanggung jawab yang sama untuk menjaga Mahakam tetap lestari," katanya.
Menurut Husni, pembangunan dan pelestarian lingkungan seharusnya berjalan beriringan, bukan dipertentangkan.
"Kalimantan Timur sedang bertumbuh sangat cepat. Karena itu, pembangunan harus tetap berpijak pada prinsip keberlanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan hingga puluhan tahun ke depan," tuturnya.
Melalui buku tersebut, Husni berharap semakin banyak masyarakat memahami bahwa menjaga DAS Mahakam bukan hanya tugas pemerintah, melainkan gerakan bersama demi memastikan sungai terbesar di Kalimantan Timur tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang. (sobizz/red)
- 5 Bulan Kerja, 16 Agenda, Puluhan Perusahaan Dipanggil, Pansus TJSL DPRD Kaltim Akhiri Masa Kerja dengan Sejumlah Catatan
- Pansus TJSL Keluarkan 7 Rekomendasi, Pemprov Diminta Revisi Perda CSR dan Audit Perusahaan Bandel
- Temuan Pansus LKPJ di PPU Paser: Dari Gedung Sekolah Mangkrak hingga Asrama Belum Termanfaatkan
- Penjelasan Ayub soal Lebih Dulu Interpelasi Daripada Angket: Belum Ada Temuan Hukum soal Pengadaan Mobil - Renovasi Rujab




