ARUSBAWAH.CO - Tiga kelompok anak muda unjuk gigi dalam Siak Innovation Challenge 2025, melahirkan ekosistem inovasi baru yang merangkul teknologi, pangan berkelanjutan, dan budaya lokal.
Mulai dari sistem IoT pencegah kebakaran gambut, beras analog singkong yang sehat dan ramah petani, hingga konsep wisata aroma berbasis budaya Melayu.
Di tengah tantangan lingkungan dan ekonomi daerah, ide-ide ini menunjukkan satu hal: generasi muda Siak sedang naik kelas.
1. Peatronics IoT: Teknologi Pencegah Kebakaran Gambut yang Bisa Menjangkau Desa Terpencil
Inovasi pertama datang dari tiga mahasiswa Politeknik Caltex Riau: Aris Saputra Pasaribu, Artika Azzarah Ahmad, dan Amanda Putri Kinanti.
Mereka mengembangkan Peatronics IoT, sistem monitoring tinggi muka air gambut berbasis sensor yang mengirim data lewat jaringan LoRa—teknologi hemat daya yang mampu menjangkau wilayah jauh dari sinyal telekomunikasi.
Hasil pemantauan tampil dalam dashboard real-time lengkap dengan indikator aman, waspada, hingga kering.
Sistem ini bahkan memberi peringatan dini jika permukaan air turun di bawah ambang batas.
“Teknologi ini cocok untuk daerah terpencil dan jadi solusi mitigasi kebakaran gambut,” jelas Aris.
Tidak heran Peatronics meraih posisi sebagai salah satu inovasi terbaik tahun ini.
2. Mangalo FortiRice: Beras Analog Singkong + Bonggol Pisang untuk Ketahanan Pangan
Tim kedua, beranggotakan Lady Asia, Fahira Anggraini, dan Rahyu Zulaika, menghadirkan Mangalo FortiRice—beras analog berbahan dasar singkong yang diperkaya tepung bonggol pisang.
Tag



