Arus Publik

Gubernur Kaltim Nyatakan Setuju Hak Angket Secara Lisan Tapi Tolak Teken Berita Acara, Jofani: "Seorang Laki-Laki Itu Omongannya Harus Dipegang”

Massa kecewa Gubernur tolak teken Berita Acara

Kamis, 21 Mei 2026 23:22

Jofani Ardiansyah saat diwawancarai usai audiensi dengan Gubernur Kaltim terkait tuntutan dukungan terhadap hak angket, Selasa (21/4/2026)/Foto: Arusbawah

ARUSBAWAH.CO - Gelombang aksi demonstrasi yang dilakukan oleh Aliansi Perjuangan Masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) di depan Kantor Gubernur pada Selasa, 21 April 2026 sore berlanjut ke meja audiensi.

Sebanyak 30 perwakilan massa aksi terpilih masuk menemui Gubernur Kalimantan Timur pada pukul 16.10 WITA guna menuntut kepastian dukungan terhadap usulan hak angket

Namun, setelah pertemuan yang berlangsung selama 80 menit, para delegasi keluar pada pukul 17.30 WITA tanpa membawa dokumen kesepakatan resmi.

Komitmen Lisan Tanpa Bukti Berita Acara

Koordinator Aksi, Jofani Ardiansyah, mengungkapkan bahwa meskipun dalam pembicaraan tersebut Gubernur menyatakan secara pribadi setuju dengan hak angket, namun pihak pemerintah menolak untuk menandatangani Berita Acara kesepakatan yang telah disiapkan massa. 

Dokumen tertulis tersebut sedianya dimaksudkan sebagai bukti administrasi agar komitmen yang disampaikan tidak sekadar menjadi janji lisan.

"Secara pribadi beliau bilang setuju dengan hak angket. Tetapi seorang laki-laki itu kan omongan harus dipegang. Nah, bagaimana bisa dipegang? Itu kita buatkan namanya berita acara. Kekecewaan terbesar adalah Gubernur Kaltim tidak berani menandatangani berita acara untuk disetujuinya hak angket tersebut," terang Jofani usai pertemuan.

Dugaan Arogansi dan Pertanyaan Status Sosial

Tensi pertemuan di dalam gedung sekretariat daerah dilaporkan sempat memanas. 

Jofani memaparkan adanya sikap yang dinilai kurang patut dari pihak kepala daerah terhadap para perwakilan rakyat kecil yang hadir. 

Ia menyoroti bagaimana jalannya diskusi justru diwarnai dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi mengenai latar belakang pekerjaan dan status sosial para peserta audiensi.

Delegasi aliansi menilai tindakan tersebut sebagai bentuk arogansi kekuasaan yang diskriminatif. 

"Alangkah kecewanya kami, Gubernur melakukan tindakan yang arogan dengan menanyakan status sosial dan pekerjaan kami. Kita sebagai rakyat kecil masuk ingin bertemu pemimpin, namun justru diperlakukan demikian," tambah Jofani dengan nada kecewa.

Penyesalan sang Koordinator di Hadapan Massa

Kegagalan mendapatkan tanda tangan resmi pada berita acara tersebut menjadi beban moral tersendiri bagi sang koordinator. 

Suasana emosional pecah saat Jofani menemui massa aksi yang masih setia menunggu di luar gerbang kantor. 

Ia tampak tak kuasa menahan air mata saat menjelaskan hasil pertemuan kepada rekan-rekan seperjuangannya.

Penyesalan tersebut muncul karena ia merasa telah menyakiti hati teman-teman di luar karena tidak berhasil membawa pulang bukti fisik komitmen pemerintah. 

"Sebenarnya terharunya saya adalah hari ini saya merasa menyakiti hati teman-teman yang di luar. Karena saya sebagai koordinator aksi dan perwakilan 30 orang yang masuk, tidak berhasil membawa hasil yang bisa kita bawa keluar, yaitu penandatanganan berita acara," tutupnya.

Aksi demonstrasi yang berlangsung sejak siang hari ini ditutup dengan evaluasi dari pihak aliansi. 

Meskipun tidak ada kesepakatan tertulis, Aliansi Perjuangan Masyarakat Kaltim menegaskan akan terus mengawal isu hak angket ini dan mempertimbangkan langkah konsolidasi lebih lanjut menyusul respon dari pihak eksekutif daerah. (son)

 

Tag

MORE