Advertorial

Diskominfo Kalimantan Timur

GratisPol di Mata Penerima, Dua Mahasiswa Ceritakan Perjuangan Mengejar Pendidikan Tanpa Biaya (Part 1)

Dua Mahasiswa Berbicara tentang Manfaat Program GratisPol

Senin, 17 November 2025 17:56

MAHASISWI - Aida Pitriani, mahasiswa Kaltim penerima bantuan pendidikan program Gratispol/HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Dua mahasiswa dari jenjang pendidikan berbeda menyampaikan pandangan mereka mengenai Program Bantuan Pendidikan GratisPol, kebijakan yang pertama kali digaungkan Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji pada masa kampanye Pilkada 2024.

Keduanya merupakan penerima manfaat program tersebut.

Cerita mereka, tergambar bagaimana kebijakan pendidikan gratis ini berjalan di lapangan apa adanya, sekaligus memperlihatkan celah-celah yang masih perlu dibenahi oleh pemerintah.

Aida Pitriani: Perjuangan Mahasiswa Baru dalam Dunia Kesehatan

Aida Pitriani, mahasiswa D4 Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Kaltim, adalah salah satu penerima yang merasakan langsung bagaimana GratisPol membuka pintu masa depan bagi keluarga sederhananya.

Gadis 17 tahun asal Muara Komam, Berau, itu tumbuh dengan keterbatasan finansial.

Ayahnya seorang tukang las, ibunya berjualan bahan bangunan.

Pendapatan keluarga cukup untuk kebutuhan harian, tetapi tidak untuk kuliah kesehatan yang biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT)-nya mencapai Rp5,7 juta.

“Pas-pasan buat jadi guru saja,” kata Aida, saat diwawancara, pada Minggu (16/11/2025).

Ia pertama kali mendengar Program GratisPol dari guru sekolahnya.

Saat itu ia menganggap program pendidikan gratis itu terlalu indah untuk dipercaya.

Namun ia tetap mencoba, karena tanpa bantuan itu, kuliah keperawatan hanya akan jadi angan-angan.

Namun, langkah yang ia lakukan mengubah hidupnya.

Hambatan Teknis dalam Pendaftaran

Meski dibuka sebagai program pendidikan gratis, proses pendaftarannya tidak semulus yang ia harapkan.

Aida hanya perlu memasukkan berbagai dokumen pribadi untuk membuat akun, tetapi proses unggah berkas menjadi rintangannya.

“Error terus, mas. Misalnya sudah upload surat pengabdian, pas dicek tiba-tiba semua filenya berubah jadi file yang sama,” ceritanya.

Gangguan sistem itu membuatnya tertahan hingga dua bulan.

Ia sempat ragu apakah berkasnya akan diterima.

Setelah menunggu sejak Juli 2025, pengumuman baru keluar beberapa bulan kemudian.

Ia akhirnya dinyatakan lolos sebagai penerima GratisPol.

Dengan status itu, beban UKT Rp5,7 juta yang sebelumnya mustahil kini ditanggung penuh pemerintah sampai ia lulus.

Baginya, itu bukan sekadar bantuan, tetapi penyelamat mimpi yang sempat ia kubur dalam-dalam.

“Sebelum tahu ada GratisPol, saya agak nyerah. Tapi setelah dengar ada beasiswa ini, saya coba. Ternyata lolos. Alhamdulillah,” ucapnya.

Kini ia bisa kembali mengejar cita-cita menjadi tenaga kesehatan.

Ia tidak lagi terbebani tekanan ekonomi dan dapat belajar dengan lebih fokus.

“Saya seneng banget, mas. Bisa mengurangi beban orang tua, bisa wujudin mimpi saya masuk kesehatan,” tambahnya. (bersambung) 

(ir/adv/diskominfokaltim)

Tag

MORE