Ekti menjelaskan, distribusi logistik menuju Long Pahangai memiliki tantangan yang tidak ringan.
Dari Long Bagun menuju Long Pahangai, kapal harus melewati tiga riam besar, yakni Riam Udang, Riam Panjang, dan Riam Haloq.
"Dari Long Pahangai ke Long Apari sudah tidak ada riam lagi," kata legislator dapil Kubar-Mahulu ini.
Sementara saat musim kemarau, debit sungai turun drastis sehingga kapal pengangkut tidak dapat melintas.
Pilihan yang tersisa hanyalah jalur darat.
Namun akses jalan sepanjang sekitar 100 kilometer menuju Long Pahangai hingga kini masih belum memadai.
"Kalau musim kemarau air surut, kapal tidak bisa naik. Akhirnya harus lewat jalan darat sekitar 100 kilometer dari Long Bagun ke Long Pahangai, sementara kondisi jalannya masih belum memadai," kata Ekti.
Akibatnya, biaya distribusi menjadi sangat mahal.
"Satu mobil pikap jenis L200 hanya bisa membawa sekitar satu ton barang. Ongkos angkutnya bisa mencapai Rp7 juta sampai Rp8 juta," ungkap politikus Gerindra ini.
Menurutnya, tingginya ongkos distribusi itulah yang akhirnya dibebankan pada harga barang di tingkat masyarakat.
"Makanya harga sembako di sana selalu naik karena biaya pengangkutannya sangat tinggi," katanya.
Tag



