Arus Politik

Duduk Sila Kader Gerindra saat Kader Golkar Berhalangan

Selasa, 26 Agustus 2025 16:13

POTRET - Potret Bagus Susetyo dan Seno Aji saat duduk sila berbincang dengan aksi massa/ Foto: IST (kolase Arusbawah.co)

ARUSBAWAH.CO -  Dua kader Partai Gerindra di Kalimantan Timur (Kaltim) terpantau duduk sila

Dua-duanya unsur kepala daerah. 

Dua-duanya punya kondisi yang sama pula, mengharuskan diri untuk temui massa pendemo saat kader Golkar yang menjadi rekan mereka di unsur kepala daerah, berhalangan hadir. 

Dua kader Gerindra itu adalah Bagus Susetyo, Wakil Wali Kota Balikpapan, serta Seno Aji, Wakil Gubernur Kaltim. 

Duduk Sila 

Pada Senin (25/08/2025), ditemani Sekretaris Daerah Kota Balikpapan, Muhaimin, orang nomor dua di Balikpapan, Bagus Susetyo terekam tanpa jarak, sambil duduk sila dengan para pendemo yang menamakan dirinya Aliansi Bakwan (Balikpapan Melawan). 

Aliansi itu menyuarakan aspirasi, salah satunya adalah soal tarif Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang beberapa hari lalu sempat viral mencuat naik hingga berkali lipat. 

Ketika demo itu terjadi, Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas'ud dari penjelasan pihak Pemkot, sedang berhalangan. 

Rahmad Mas'ud ada di Sulawesi. 

Rahmad Mas'ud diketahui juga adalah Ketua DPD Golkar Balikpapan.

Jadilah, pada saat itu, Bagus Susetyo yang menjadi pihak penerima aspirasi Aliansi Bakwan. 

Di diskusi dengan gaya duduk sila itu, Bagus Susetyo bilang bahwa tuntutan massa sudah diperhatikan pihak Pemkot. 

"Tuntutan kalian ini ada proses kajian. Terkait banjir, tidak mungkin bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Kami terus berupaya mencari solusi yang terbaik,” kata Bagus melansir ibukotakini. 

Ia juga menyebut soal kenaikan tarif PBB urung dilakukan oleh Pihak Pemkot. 

Artinya, tarif PBB masih sama seperti tarif pada tahun lalu (2024). 

“Untuk masyarakat yang sudah membayar, akan diberikan kompensasi di tahun depan. Sementara bagi yang belum membayar, tarif tetap mengikuti ketentuan tahun 2024," katanya. 

Hal yang sama (duduk sila) juga pernah dilakukan kader Gerindra yang menjabat di level provinsi, Seno Aji, Wakil Gubernur Kaltim. 

Seno Aji yang merupakan Ketua DPD Gerindra Kaltim itu bahkan terekam tak hanya sekali duduk sila

Lebih dua kali, dengan intensitas kurun waktunya kurang dari 4 bulan. 

Sejak masa pemerintahan Rudy Mas’ud–Seno Aji dimulai, Seno Aji tercatat beberapa kali turun langsung menemui demonstran.

Berdasarkan penelusuran wartawan Arusbawah.co, setidaknya terdapat tiga aksi besar yang langsung ditemui oleh Seno Aji dan di beberapa aksi itu, Seno Aji juga duduk bersila. 

Pertama, aksi 20 Mei 2025: Dialog dengan Driver Ojek Online, Seno menemui ratusan pengemudi ojek dan taksi online dari Aliansi Mitra Kaltim Bersatu (AMKB) yang menuntut evaluasi tarif dan jaminan kesejahteraan.

Kedua, aksi 4 Juni 2025: Evaluasi 100 Hari Kerja Seno Aji kembali turun saat Aliansi Mahasiswa Kaltim dan BEM KM Universitas Mulawarman menyuarakan evaluasi terhadap 100 hari kinerja pemerintah.

Ketiga, aksi 4 Agustus 2025: Duduk Bersama Mahasiswa, Pada aksi terbaru, Seno menjadi satu-satunya pejabat tinggi yang menyambut langsung massa mahasiswa dan bahkan duduk bersila bersama di pelataran kantor gubernur.

Tim redaksi pun sudah pernah mewawancara Seno Aji soal aksinya yang sering kali eksis menemui massa pendemo. 

Seno membantah, dirinya diberi penugasan khusus Rudy Mas'ud untuk menghandle demo. 

Rudy Mas'ud, selain menjabat Gubernur Kaltim, juga punya jabatan di partai. 

Ia adalah Ketua Golkar Kaltim. 

Kembali pada Seno Aji, saat ditanya Arusbawah.co soal aksi temui massa, ia bilang, kebetulan saja, pimpinan (Rudy Mas'ud) sedang tak di Samarinda, sehingga dirinya pun mewakili. 

“Enggak ada penugasan khusus. Kebetulan saja Pak Rudi Mas'ud sedang di luar dan saya ada di situ. Saya pikir mahasiswa ini perlu ditemui, perlu diajak diskusi,” kata Seno saat diwawancara redaksi Arusbawah.co, Kamis (26/6/2025) lalu. 

Menurutnya, membuka ruang dialog dengan massa aksi adalah bagian dari komunikasi politik yang sehat.

Seno menilai pola pikir para mahasiswa, perlu disikapi dengan pendekatan yang terbuka. 

“Karena pola pikiran mereka ke depan akan tambah maju. Jadi dengan diskusi kita bisa punya jalan keluar yang baik,” ujarnya.

 

Duduk Sila: Gestur Budaya yang Punya Makna Politik

Di Indonesia, duduk sila bukan hanya sekadar cara duduk tradisional.

Dalam dunia politik, gestur ini sering dipakai pemimpin atau pejabat untuk menegaskan kedekatan dengan rakyat.

Duduk bersila di tengah masyarakat memberi pesan bahwa pejabat tidak berjarak, mau mendengar, dan hadir sebagai bagian dari komunitas.

Direct Political Engagement di Indonesia

Duduk sila ini pun bisa dibilang masuk pula pada kategori Direct Political Engagement atau Komunikasi Politik Langsung. 

Itu merujuk pada komunikasi langsung antara pemimpin dan masyarakat tanpa perantara birokrasi maupun media.

Duduk sila menjadi bentuk khas di Indonesia karena selaras dengan budaya lokal yang akrab, sederhana, dan egaliter.

Buku Political Communication: Discursive Perspectives (2020) karya Philippe-Joseph Salazar, Jamin Pelkey, dan kolega memberikan gambaran mendalam tentang bagaimana komunikasi politik bukan sekadar penyampaian pesan, tetapi juga proses diskursif yang membentuk makna, legitimasi, dan hubungan antara pemimpin serta masyarakat.

Dalam praktik tradisional, komunikasi politik cenderung bersifat top-down: pemerintah berbicara, rakyat mendengar.

Namun, buku tersebut menjelaskan bahwa praktik tersebut makin ditinggalkan.

Pola komunikasi baru menuntut interaksi dua arah, di mana masyarakat tidak lagi pasif melainkan aktif merespons, mengkritik, bahkan ikut mengarahkan agenda politik.

Konsep direct political communication menjadi penting karena membuka jalur komunikasi tanpa terlalu bergantung pada perantara, seperti media massa atau birokrasi.

Hal ini terlihat dari fenomena town hall meetings, media sosial yang dipakai langsung oleh presiden, hingga pejabat daerah yang turun ke jalan menghadapi demonstran.

Politik sebagai Diskursus, Bukan Sekadar Pesan

Poin yang juga disampaikan adalah bahwa komunikasi politik tidak berhenti pada penyampaian pesan, melainkan bagian dari diskursus yang membentuk persepsi publik tentang legitimasi kekuasaan.

Dengan kata lain, bagaimana pemimpin berbicara sama pentingnya dengan apa yang dibicarakan.

Contohnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron menggunakan forum dialog publik untuk meredam kemarahan massa Yellow Vest.

Sementara Presiden ke-7 RI, Jokowi ketika masih menjabat juga sangat sering melakukan blusukan untuk menunjukkan kedekatan dengan rakyat.

Dedi Mulyadi juga dikenal dengan gaya duduk sila ketika berdialog dengan masyarakat desa.

Ada pula yang lebih ekstrem lagi ketika Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan yang sampai turun ke lapangan saat kudeta 2016.

Saat upaya kudeta militer, Presiden Erdoğan muncul langsung lewat video call (Face Time) dan turun ke jalan, mendorong rakyat membela demokrasi.

Praktik ini bukan hanya komunikasi, melainkan juga upaya membangun citra politik yang otentik.

Tantangan Komunikasi Politik Langsung

Namun, komunikasi politik langsung juga punya risiko. Tanpa filter media atau institusi, pesan bisa disalahartikan, atau justru menciptakan polarisasi baru.

Tokoh-tokoh politik menggunakan gaya komunikasi langsung untuk menunjukkan kedekatan, mulai dari blusukan, siaran langsung di media sosial, hingga menghadapi demonstrasi mahasiswa di lapangan. (pra)

 

 

Tag

MORE