ARUSBAWAH.CO - Meningkatnya kasus dugaan bunuh diri di kawasan Jembatan Mahakam dalam beberapa waktu terakhir memunculkan keprihatinan berbagai pihak di Kota Samarinda.
Peristiwa yang terus berulang itu dinilai menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan mental memerlukan perhatian lebih serius, baik dari pemerintah maupun masyarakat.
Salah satu kejadian yang menyita perhatian terjadi pada awal Juni lalu.
Seorang pria diduga mengakhiri hidupnya dengan melompat dari Jembatan Mahakam setelah sejumlah barang pribadi dan sepucuk surat ditemukan di lokasi.
Dalam surat yang diduga ditinggalkan korban, tertulis pesan yang menyentuh.
"Maaf sebesar-besarnya siapa yang menemukan aku, jangan dikasih tahu keluargaku. Aku lakukan ini bukan karena ada masalah. Aku nggak sanggup berada di dunia."
Peristiwa tersebut bukanlah kasus pertama dengan pola serupa.
Belakangan, aksi bunuh diri dengan cara melompat dari jembatan semakin sering terdengar di Samarinda.
Kondisi ini berbeda dibanding beberapa tahun lalu ketika kasus bunuh diri lebih banyak dilakukan dengan cara gantung diri.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menilai fenomena tersebut tidak bisa dipandang sebagai persoalan sederhana.
Menurutnya, berbagai tekanan hidup dapat menjadi pemicu seseorang mengambil keputusan ekstrem, mulai dari persoalan hubungan pribadi hingga masalah lainnya.
Novan mengatakan upaya pencegahan harus dimulai dari lingkungan terkecil.
Ia menilai keberadaan Rukun Tetangga (RT) memiliki posisi strategis untuk mengenali lebih dini apabila terdapat warga yang sedang menghadapi persoalan atau konflik sehingga dapat segera diberikan perhatian.
"Supaya apa? Supaya mampu mencegah perbuatan tindakan lanjutan. Jika hal seperti ini terus diabaikan, publik akan kehilangan arah untuk mencari jalan keluar. Ditambah lagi jika motifnya adalah masalah asmara, kan repot kita nggak pernah bisa tebak kondisi psikologi seseorang," jelas Novan.
Selain penguatan peran masyarakat, DPRD juga menilai aspek keamanan infrastruktur perlu mendapat perhatian.
Novan menyoroti belum adanya pagar pengaman yang mengarah langsung ke sisi sungai di Jembatan Mahakam maupun Jembatan Kembar.
Saat ini, fasilitas yang tersedia bagi pejalan kaki masih sebatas trotoar tanpa pembatas yang dinilai memadai.
"Memang secara kondisi, memerlukan pagar pengaman. Adanya pagar ini akan membuat orang berpikir dua kali untuk melakukan tindakan bunuh diri karena tidak terfasilitasi oleh kondisi tempat. Saat ini, fasilitas pengaman untuk pejalan kaki memang belum ada, begitu pula pagar pengaman langsung ke arah sungai," jelasnya.
Di sisi lain, Novan mengingatkan masyarakat agar tidak ragu memanfaatkan layanan kesehatan mental yang telah disediakan pemerintah.
Menurutnya, fasilitas konsultasi psikologi kini telah tersedia mulai dari Puskesmas hingga rumah sakit milik pemerintah kota maupun pemerintah provinsi sehingga masyarakat yang mengalami tekanan psikologis dapat memperoleh pendampingan.
Namun, ia menilai layanan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena masih banyak orang memilih memendam persoalan yang dihadapi dibanding mencari bantuan profesional.
"Fenomena psikologis ini memang kompleks karena kita tidak pernah bisa membaca atau mengetahui secara pasti suasana hati seseorang," ungkap Novan.
Ia juga menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Samarinda sebenarnya telah menjalankan berbagai langkah pencegahan melalui kegiatan sosialisasi yang menjangkau masyarakat hingga tingkat Posyandu.
Program tersebut digerakkan oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) melalui Program Keluarga Berencana (KB) yang tidak hanya berfokus pada pengendalian kelahiran, tetapi juga membangun ketahanan keluarga.
"Jadi, Keluarga berencana itu bukan hanya dalam pengendalian kelahiran, tetapi juga bagaimana mewujudkan keluarga yang bahagia dan sejahtera. Itu semua ada dan terus disosialisasikan sampai ke tingkat Posyandu. Sudah dilakukan dan terus berjalan," tambahnya.
Sebagai penutup, Novan menekankan pentingnya peran keluarga dan nilai-nilai spiritual dalam membantu seseorang menghadapi tekanan hidup.
Menurutnya, orang yang sedang mengalami kesulitan sebaiknya mendapatkan ruang untuk bercerita kepada orang-orang terdekat yang mampu memberikan dukungan, bukan penilaian.
"Andaikata ada permasalahan, paling tidak kita yang pertama umat beragama mendekatkan diri kepada Yang Mahakuasa. Terus kedua, perlu peran orang tua, kakak, atau saudara yang lebih bisa menjadi jembatan, bukan yang menghakimi. Jadi, curhatnya jangan melalui media sosial tapi melalui orang yang bisa menenangkan perasaan batinnya," pungkas Novan.
Novan menegaskan bahwa dukungan keluarga serta pendekatan spiritual menjadi langkah penting dalam membantu seseorang menghadapi masalah, sehingga mereka tidak meluapkan emosi melalui media sosial, melainkan kepada orang-orang terdekat yang mampu memberikan ketenangan dan dukungan. (adv/naa)




