ARUSBAWAH.CO - Sambil menahan tangis dan suara yang bergetar hebat, Rafita, ibu dari bayi berusia tiga bulan, akhirnya mengungkap jeritan hatinya terkait kasus dugaan kelalaian medis di RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS).
Ia secara khusus menyatakan kekecewaannya terhadap pernyataan anggota DPRD Kaltim yang dinilai lebih memihak rumah sakit dan menyudutkan posisinya sebagai orang tua.
Dalam statement yang didampingi kuasa hukumnya pada Jumat (10/4/2026), sang ibu membantah keras narasi keterlambatan kontrol.
"Saya sangat kecewa dengan Pak Dewan. Mereka mengambil kesimpulan sendiri tanpa bertanya langsung kepada saya. Saya tanya perawat, katanya hari Selasa kembali kontrol, ya saya datang Selasa. Kenapa di media malah dibilang saya telat karena masalah transportasi? Saya ini seorang ibu, tidak mungkin saya mau mencelakakan anak saya sendiri!" ungkapnya dengan penuh emosi.
Menantang Logika Risiko Medis Anggota Dewan
Ibu korban merasa terluka dengan narasi risiko medis yang kerap digunakan anggota dewan berlatar belakang dokter tersebut.
Baginya, penjelasan medis tidak bisa menghapus kenyataan bahwa anaknya masuk ke RSUD AWS untuk sembuh dari muntaber, namun justru terancam cacat permanen.
"Penyakit (luka) itu kalian yang buat, bukan saya! Maukah kalian sakit muntaber tapi berakhir cacat? Coba Pak Dewan tanyakan itu pada istri atau anak kalian. Saya ini sudah pernah kehilangan anak, saya punya trauma, tidak mungkin saya sengaja membiarkan anak saya membusuk," tuturnya lagi sambil terisak.
Tag



