Arus Publik

Cerita Penjual Es Serut Mesra Indah yang Tak Ikut Arus Minuman Kekinian: Sambil Ibadah, Ya Dijalani

by:
Lisa
Sabtu, 10 Januari 2026 22:52

PENJUAL ES SERUT - Lapak es serut ini telah hadir sejak sebelum 2007. Puji Raharjo, yang kini menjaga lapak tersebut, mulai berjualan sejak 2007, meneruskan usaha yang sudah lebih dulu berdiri/ HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Di tengah menjamurnya minuman kekinian dengan aneka topping dan kemasan modern, sebuah lapak es serut klasik masih setia bertahan di kawasan Mesra Indah, Samarinda.

Tanpa papan neon atau strategi viral, Es Serut Slush Puppie memilih berjalan pelan, menjaga rasa dan pelanggan lama.

Bertahan di Tengah Gempuran Minuman Kekinian

Lapak es serut ini telah hadir sejak sebelum 2007.

Puji Raharjo, yang kini menjaga lapak tersebut, mulai berjualan sejak 2007, meneruskan usaha yang sudah lebih dulu berdiri.

“Kalau saya ikutnya dari 2007. Tapi sebelum itu memang sudah ada,” kata Puji saat ditemui di lapaknya, Sabtu (10/1/2026).

Es Serut Pernah Jadi Primadona Kota

Sekitar 2008 hingga awal 2010-an, es serut menjadi minuman favorit masyarakat Samarinda.

Saat itu, pilihan minuman belum beragam seperti sekarang.

“Dulu rame sekali. Sekarang memang sudah berkurang karena tren. Minuman kita kan minuman klasik,” ujarnya.

Omzet Turun, Tapi Lapak Tetap Bertahan

Perubahan selera pasar berdampak langsung pada pendapatan.

Puji mengungkapkan, omzet yang dulu bisa menyentuh Rp16 juta hingga Rp20 juta per bulan, kini menurun cukup jauh.

“Sekarang kalau bisa dapat Rp12 juta sampai Rp13 juta per bulan itu sudah bagus,” katanya.

Menurut Puji, penurunan mulai terasa sejak sekitar 2016, bersamaan dengan melemahnya ekonomi dan munculnya minuman kekinian.

Pandemi Covid-19 turut memperberat kondisi, meski di beberapa momen sempat terjadi lonjakan penjualan.

Meski kondisi tak lagi seperti dulu, Puji memilih bertahan.

Bukan hanya karena kebutuhan ekonomi, tapi juga karena keyakinan pribadi.

“Kita bertahan saja. Bos juga bilang sambil ibadah. Jadi ya dijalani,” ucapnya.

Tetap Setia pada Resep Klasik

Es serut yang dijual tetap menggunakan gula asli, tanpa pemanis buatan.

Puji menilai, kualitas bahan menjadi alasan pelanggan lama masih setia.

“Kalau pakai pemanis itu enggak tahan, orang bisa batuk. Kita pakai gula asli,” jelasnya.

Harga Dijaga Demi Pelanggan Lama

Dalam sehari, penjualan normal berkisar 30 gelas, sangat bergantung pada cuaca.

Saat hujan, jumlah pembeli menurun drastis.

Harga es serut kini dipatok Rp10.000 per gelas, naik bertahap dari kisaran Rp2.000–Rp3.000 di awal 2000-an.

Puji mengaku menahan diri untuk tidak menaikkan harga lebih tinggi demi menjaga pelanggan lama.

“Kalau dinaikkan, saya yang di lapangan yang repot. Kasihan pelanggan,” katanya.

Mesra Indah dan Harapan dari Keramaian Pasar

Lapak Es Serut Slush pernah berpindah-pindah lokasi sebelum menetap di Mesra Indah sejak 2009.

Cabang di pusat perbelanjaan seperti Lembuswana akhirnya tutup karena biaya sewa yang tinggi.

Aktivitas Pasar Pagi di sekitar kawasan memberi dampak positif.

Arus pengunjung meningkat, meski karakter konsumen tetap sama.

“Pengaruh pasti ada. Pengunjung lebih banyak, harapan juga ada,” ujar Puji.

Bagi Puji, Es Serut Slush bukan sekadar mata pencaharian, melainkan bagian dari perjalanan hidup.

“Kita ini produk klasik. Peminatnya memang ada, meski tidak besar,” tutupnya. (isa)

 

Tag

MORE