Arus Publik

LPTQ Kaltim

Bukan Lagi Seleksi, 61 Kafilah Kaltim Digembleng Hadapi MTQ Nasional 2026, Mental Jadi Fokus Utama

TRY OUT - Salah seorang calon kafilah Kalimantan Timur tampil pada try out MTQ Nasional XXXI yang digelar di Sekretariat LPTQ Kaltim, 14-15 Juli 2026/ARUSBAWAH.CO

ARUSBAWAH.CO -  Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ) Kalimantan Timur mulai mengintensifkan persiapan menuju Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional XXXI di Jawa Tengah yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026 mendatang.

Sebanyak 61 calon anggota kafilah terbaik Kaltim kini memasuki fase akhir pembinaan melalui Training Center (TC) Tahap VII.

Salah satu agenda utamanya ialah try out atau simulasi perlombaan yang dibuat semirip mungkin dengan pelaksanaan MTQ Nasional.

Try out ini digelar di Sekretariat LPTQ Kaltim mulai 14 hingga 15 Juli.

Wakil Ketua II LPTQ Kaltim yang juga Ketua Panitia Try Out, Dasmiah, menegaskan kegiatan tersebut bukan lagi bagian dari proses seleksi peserta.

Seluruh peserta yang mengikuti try out telah dipastikan menjadi bagian dari kafilah Kalimantan Timur yang akan bertanding di MTQ Nasional XXXI.

"Try out itu adalah bagian dari TC ke-7. Penjaringan sudah lama selesai. Peserta yang mengikuti try out ini adalah calon peserta kafilah yang sudah dipastikan akan menjadi kafilah Kalimantan Timur di MTQ Nasional ke-31," ujarnya kepada Arusbawah.co, Rabu (15/7/2026).

Menurut Dasmiah, sebelumnya proses pembinaan diikuti 174 peserta.

Melalui serangkaian tahapan seleksi dan pembinaan, jumlah tersebut kemudian mengerucut menjadi 61 peserta yang akan mewakili Kaltim.

Namun, menurutnya, kualitas kemampuan saja belum cukup.

Karena itu, peserta juga harus dibiasakan menghadapi tekanan dan suasana perlombaan yang sesungguhnya.

"Tujuan try out ini untuk melatih terutama mental anak-anak dalam menghadapi lomba secara nyata di MTQ Nasional ke-31," kata Kepala Biro Kesra Pemprov Kaltim ini.

Karena itu, penyelenggara sengaja membuat miniatur pelaksanaan MTQ Nasional.

Arena lomba dibuka untuk umum dan menghadirkan penonton agar peserta terbiasa tampil di hadapan audiens maupun dewan hakim.

"Pelaksanaannya dibuat seperti MTQ Nasional. Disaksikan penonton supaya anak-anak terbiasa menghadapi audiens nanti saat lomba," ucapnya.

13 Kategori Diujicobakan, Hanya Kaligrafi yang Tidak Diikutkan

Dalam try out tersebut, hampir seluruh cabang perlombaan MTQ Nasional diujicobakan.

Dasmiah mengatakan terdapat 13 kategori yang masuk dalam simulasi perlombaan.

Satu-satunya cabang yang belum diikutkan ialah Khat Al-Qur'an atau kaligrafi.

Adapun kategori yang diujicobakan meliputi:

  • Tartil Al-Qur'an
  • Tilawah Anak-anak
  • Tilawah Remaja
  • Tilawah Dewasa
  • Tilawah Tuna Netra
  • Qira'at Mujawwad
  • Qira'at Murottal
  • Hafalan Al-Qur'an (1, 5, 10, 20, dan 30 juz)
  • Tafsir Al-Qur'an (Bahasa Arab, Indonesia, dan Inggris)
  • Fahmil Qur'an
  • Syarhil Qur'an
  • Karya Tulis Ilmiah Al-Qur'an (KTIQ)

Seluruh cabang tersebut diikuti peserta putra dan putri sesuai kategori masing-masing.

Sementara cabang kaligrafi baru akan dipersiapkan pada tahapan berikutnya.

Bukan Sekadar Berlatih, Peserta Dievaluasi Langsung Dewan Hakim Nasional

Try out juga menjadi ajang evaluasi kemampuan setiap peserta.

Dalam simulasi tersebut, penampilan peserta dinilai langsung oleh dewan hakim nasional yang berasal dari unsur pusat maupun daerah.

Menurut Dasmiah, sebagian besar dewan hakim yang bertugas pada try out nanti juga diproyeksikan menjadi dewan hakim pada MTQ Nasional XXXI.

"Iya, dewan hakim dipadukan dari pusat dan daerah, tetapi semuanya dewan hakim nasional. Insyaallah yang menjadi dewan hakim sekarang juga akan menjadi dewan hakim nasional nanti," ujarnya.

Selain itu, sejumlah pelatih dari Kalimantan Timur juga diproyeksikan menjadi bagian dari dewan hakim nasional.

Melalui penilaian tersebut, peserta diharapkan mengetahui secara detail kekurangan maupun kelebihan masing-masing.

Dengan begitu, perbaikan teknik, kualitas bacaan, penguasaan materi hingga mental bertanding bisa dilakukan sebelum tampil di panggung nasional.

"Anak-anak jadi semakin paham apa yang harus diperbaiki. Mereka tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga bisa lebih banyak berlatih sebelum tampil di MTQ Nasional," katanya.

Masih Ada Dua Tahap Try Out Sebelum Berangkat ke Semarang

Meski telah memasuki TC Tahap VII, rangkaian persiapan kafilah Kaltim belum berakhir.

Dasmiah mengungkapkan setelah try out kali ini peserta akan memasuki Try Out Tahap VIII yang dilaksanakan secara daring.

Peserta akan beristirahat selama tiga hari sebelum mengikuti simulasi secara online selama kurang lebih dua minggu.

Setelah itu, mereka kembali mendapatkan waktu istirahat singkat sebelum menjalani TC Tahap IX.

Pada tahap terakhir tersebut, peserta akan berangkat ke Jakarta pada 8 Agustus 2026 untuk mengikuti pemusatan latihan selama 30 hari.

Berbeda dengan TC sebelumnya, pada TC Tahap IX peserta akan menjalani try out setiap pekan sehingga dalam satu bulan terdapat empat kali simulasi perlombaan.

"Di TC ke-9 nanti selama satu bulan akan ada try out setiap minggu. Tujuannya membiasakan peserta menghadapi suasana perlombaan yang sesungguhnya," ujar Dasmiah.

Usai menjalani TC terakhir di Jakarta, seluruh peserta dijadwalkan langsung menuju arena MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah.

Dasmiah berharap seluruh rangkaian pembinaan tersebut mampu mematangkan kesiapan peserta, tidak hanya dari sisi kemampuan membaca dan memahami Al-Qur'an, tetapi juga kesiapan mental, emosi, dan fisik saat menghadapi kompetisi tingkat nasional.

"Harapan saya yang pertama anak-anak siap mental, emosi, dan fisik menghadapi MTQ Nasional ke-31," ujarnya.

"Kemudian mereka mendapat pembekalan bagaimana pelaksanaan MTQ Nasional yang akan dihadapi. Dengan adanya dewan hakim, mereka juga tahu apa yang harus diperbaiki sehingga ketika tampil nanti benar-benar siap," pungkasnya.

Hakim Nasional Ungkap Perbedaan Penilaian Tilawah dan Qiraat

Pelaksanaan try out MTQ Nasional XXXI tidak hanya menjadi ajang mengukur kesiapan peserta, tetapi juga memberikan gambaran mengenai standar penilaian yang akan diterapkan pada kompetisi tingkat nasional.

Perwakilan dewan hakim nasional, Marzuki Alfatiri, menjelaskan setiap cabang memiliki komponen penilaian yang berbeda sesuai karakteristik perlombaannya.

Menurutnya, pada cabang tilawah, dewan hakim menilai empat aspek utama, yakni fashahah, tajwid, lagu, dan suara.

Penilaian tersebut berlaku untuk seluruh golongan tilawah, mulai dari Tilawah Anak-anak, Remaja, Dewasa hingga Tilawah Tuna Netra.

"Kalau tilawah itu penilaiannya meliputi fashahah, tajwid, lagu, dan suara. Itu berlaku untuk tilawah anak-anak, remaja, dewasa sampai tilawah tuna netra," kata Marzuki.

Sementara pada cabang qiraat, kata dia, terdapat dua kategori yang diperlombakan, yakni Qiraat Mujawwad dan Qiraat Murattal.

Qiraat Murattal dipertandingkan untuk golongan remaja dan dewasa, sedangkan Qiraat Mujawwad hanya untuk kategori dewasa.

Marzuki menegaskan, sistem penilaian qiraat tidak sama dengan tilawah karena terdapat sejumlah aspek teknis tambahan yang harus dikuasai peserta.

"Ada perbedaan penilaian antara tilawah dengan qiraat. Kalau tilawah ada fashahah, tajwid, suara, dan lagu. Sedangkan di qiraat ada penilaian fashahah, makharijul huruf, tajwid, sampai kaidah ushuliyah. Di situlah perbedaan yang sangat mendasar antara tilawah dan qiraat," ujarnya.

Sebagai dewan hakim nasional, Marzuki mengatakan seluruh peserta yang mengikuti try out merupakan calon-calon terbaik hasil pembinaan LPTQ Kalimantan Timur.

Karena itu, proses penilaian difokuskan untuk menentukan peserta yang paling siap tampil di ajang MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah.

"Semuanya adalah peserta pilihan. Tugas kami memilih yang terbaik dari yang terbaik untuk tampil di tingkat nasional," pungkasnya.

(raf)

 

Tag

MORE