ARUSBAWAH.CO - Robohnya tiang di proyek driving range golf setinggi 40 meter di kawasan GOR Segiri Samarinda menuai sorotan dari Komisi III DPRD Samarinda.
Pasalnya, bangunan tersebut belum genap setahun sejak tahap awal pembangunannya dilakukan pada 2024.
Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, mempertanyakan bagaimana konstruksi tersebut bisa roboh dalam waktu relatif singkat.
Menurutnya, dari penjelasan pihak teknis, persoalan diduga berkaitan dengan kondisi tanah yang labil.
“Ini kan sebelumnya rawa, kemudian ditimbun. Mungkin struktur tanahnya tidak sama antara satu titik dengan titik lainnya. Di sisi pojok itu kekuatan fondasinya diduga tidak cukup kuat sehingga akhirnya roboh,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, tahap pertama pembangunan pada 2024 mencakup pekerjaan pematangan lahan. Namun karena karakter tanah yang berbeda-beda, kekuatan fondasi tiap tiang disebut tidak seragam.
Bahkan, saat peninjauan lapangan, Komisi III juga melihat ada bagian lain yang mulai tampak miring.
Karena itu, DPRD meminta pemerintah kota memastikan seluruh struktur benar-benar aman sebelum fasilitas dibuka untuk umum.
“Kita ingin betul-betul dipastikan aman. Jangan sampai nanti ketika sudah dibuka dan masyarakat berkegiatan, tiba-tiba terjadi kejadian serupa. Ini sangat merugikan,” tegasnya.
Anggaran Besar Jadi Perhatian
Driving range tersebut diketahui menelan anggaran yang cukup besar.
Fasilitasnya dilengkapi dengan perlengkapan dan sistem digital modern yang didatangkan langsung dari Korea Selatan.
Total anggaran pembangunan mencapai Rp61,8 miliar, dengan rincian Rp27,9 miliar pada tahun 2024 dan Rp33,9 miliar pada tahun 2025.
Menurut Deni, karena proyek ini dibiayai melalui APBD, maka manfaatnya harus benar-benar dirasakan masyarakat secara luas, bukan hanya menjadi fasilitas terbatas.
“Ini anggaran besar untuk sebuah driving range golf yang nanti akan menjadi satu-satunya di Kalimantan dengan sistem digital dari Korea. Maka harus dipastikan kualitas dan keamanannya,” katanya.
Tanah Labil Jadi Dugaan Penyebab
Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen, Hendra Irawan, menjelaskan bahwa pekerjaan tersebut merupakan proyek tahun 2024.
Secara umum, pihaknya menduga kelabilan struktur tanah menjadi penyebab utama kemiringan tiang.
“Secara umum kami menduga kelabilan struktur tanah. Sebelum runtuh, waktu sudah agak miring, kita turunkan duluan. Jadi kita bongkar sampai ke lapisan pondasi bawah untuk dilakukan perbaikan ulang,” jelasnya.
Ia memastikan proses perbaikan sedang dilakukan dan menargetkan fasilitas tersebut bisa segera dioperasikan.
“Secepatnya akan kita perbaiki ini,” singkatnya. (raf)




