ARUSBAWAH.CO - Seekor bayi orangutan bernama Jack ditemukan warga di area perkebunan kelapa sawit di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur.
Temuan ini kembali menyoroti ancaman serius terhadap habitat satwa dilindungi di wilayah Kalimantan Timur.
Jack ditemukan pada 30 November 2025 dalam kondisi memprihatinkan.
Bayi orangutan tersebut diketahui telah berada bersama keluarga warga selama tiga hari setelah ditemukan tergeletak di bawah pohon kelapa sawit, sebelum akhirnya dilaporkan ke pihak berwenang.
Kondisi Jack Saat Ditemukan: Demam dan Sangat Kurus
Berdasarkan data awal penanganan, saat dievakuasi Jack mengalami demam, kondisi tubuh sangat kurus atau berada pada Body Condition Score (BCS) 1, serta mengalami dehidrasi ringan. Dari hasil pengamatan gigi, usia Jack diperkirakan belum genap satu tahun.
Tim medis juga menemukan luka lecet di telapak tangan dan kaki, yang diduga akibat duri kelapa sawit.
Bahkan, pada telapak kaki kiri terdapat duri yang menyebabkan luka bernanah.
“Ketika pertama datang, Jack menunjukkan tanda-tanda stres, demam, dan ada beberapa duri yang menyebabkan nanah,” ujar Paulinus Kristanto, Founder sekaligus Direktur Conservation Action Network (CAN), dalam keterangannya kepada Arusbawah.co.
Diselamatkan BKSDA Kaltim, Dirawat di CAN

Setelah laporan diterima, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur segera menindaklanjuti temuan tersebut.
Jack kemudian dievakuasi dan diserahkan kepada CAN untuk menjalani perawatan intensif.
Paulinus menjelaskan, setelah menjalani perawatan medis, kondisi Jack menunjukkan perkembangan signifikan.
“Demamnya sudah menurun, nafsu makan buah dan minum susu stabil. Luka di telapak tangan dan kaki mulai sembuh, dan hasil pemeriksaan darah menunjukkan tidak ada kelainan,” jelasnya.
Pemeriksaan feses juga tidak menemukan adanya infeksi parasit.
Mulai Beradaptasi di Playground Orangutan
Saat ini, Jack sudah mulai diperkenalkan ke playground dan berinteraksi dengan dua orangutan lain bernama Hannes dan Lukas.
Meski masih terlihat cenderung menyendiri, perilaku tersebut dinilai normal untuk bayi orangutan yang baru diselamatkan.
“Bagi animal keeper, ini justru pertanda baik. Jack mulai menyesuaikan diri dan tidak lagi takut dengan manusia,” kata Paulinus.
BKSDA Kaltim: Ditargetkan Dilepasliarkan Kembali
Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, menegaskan bahwa Jack kini menjalani rehabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam.
“Jack adalah salah satu orangutan yang kita ambil dari masyarakat setelah mendapat laporan. Saat ini direhabilitasi agar sehat dan kelak bisa dilepasliarkan kembali,” ujar Ari.
Menurutnya, tujuan utama rehabilitasi adalah memastikan kondisi kesehatan dan kemampuan liar orangutan kembali pulih sebelum dilepas ke habitat alaminya.
“Kami berharap ke depan Jack dapat dilepasliarkan di lokasi pelepasliaran yang terpantau,” pungkasnya.
Alarm Kerusakan Habitat
Kasus ditemukannya bayi orangutan di kebun sawit kembali menjadi alarm keras kerusakan habitat dan konflik satwa-manusia di Kalimantan Timur.
Perlu pengawasan lebih ketat agar ruang hidup satwa dilindungi tidak terus terdesak oleh aktivitas perkebunan dan industri. (pra)
Konten diproduksi oleh Jurnalis Peduli Satwa di Kalimantan Timur. Berkolaborasi dengan Arusbawah.co
- Hannes, Bayi Orang Utan yang Sedang Belajar Pulang ke Hutan
- Lutung Kutai: Primata Langka yang Selamat Berkat Kearifan Adat Wehea
- Terekam Kamera Trap: Burung Kuau Kalimantan Menari di Lantai Hutan
- Ruang Hidup Terakhir Badak Kalimantan Terancam Aktivitas Pencari Gaharu di Mahakam Ulu
- Popi Akhirnya Pulang! 9 Tahun Direhabilitasi, Orangutan Kalimantan Ini Kini Hidup Bebas di Alam




