ARUSBAWAH.CO - Bencana hidrometeorologi kembali terjadi di Kalimantan Timur, dengan banjir melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Berau dan Kutai Timur.
Lima kalimat pembuka menggambarkan kondisi darurat yang menunjukkan bahwa curah hujan tinggi dan kondisi sungai yang rentan menjadi faktor utama munculnya banjir bandang.
Situasi ini memperlihatkan bahwa sistem pengendalian air di kawasan hulu hingga hilir belum bekerja optimal.
Pemerintah daerah diminta memperkuat langkah mitigasi agar banjir tidak terus berulang.
DPRD Kaltim menilai bahwa respons cepat harus dibarengi strategi jangka panjang.
Di Kabupaten Berau, banjir merendam beberapa kampung di Kecamatan Segah, Kelay, dan Sambaliung. Kepala BPBD Berau, Novian Hidayat, menyampaikan kondisi di lapangan.
“Ini banjir bandang karena curah hujan tinggi,” ucapnya.
Air juga menutup akses menuju Kampung Merasa, Long Ayan, Long Ayap, dan Tepan Buah.
Di wilayah Sambaliung, banjir memasuki Long Lanuk, Inaran, Bena Baru, Tumbit Melayu, Teluk Bayur, Tumbit Dayak, dan Labanan Makarti. Petugas BPBD ditempatkan di sejumlah titik terdampak untuk memantau perubahan debit air dan membantu warga.
Novian menjelaskan bahwa aliran banjir membawa berbagai jenis sampah dari hulu sehingga memperburuk kondisi permukiman.
BMKG Berau turut menegaskan adanya faktor pasang air laut yang memperlambat penurunan genangan.
“Air dari hulu terhambat turun ke laut. Jadi harus tetap siaga,” jelas Ade Heriyadi. Di beberapa kampung, warga sudah mengamankan barang penting sambil menunggu debit air stabil.
Di Kabupaten Kutai Timur, banjir merendam Karangan, Telen, Muara Wahau, dan Kongbeng.
Polres Kutim membentuk Satgas dan Posko Terpadu untuk membantu evakuasi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Kapolres Kutim AKBP Fauzan Arianto memastikan kesiapan personel.
“Kami berkomitmen hadir untuk mengurangi dampak banjir. Personel siap siaga memberi pelayanan maksimal,” ucapnya.
BPBD Kutim melaporkan ketinggian air mencapai 30–80 cm di beberapa titik.
Kepala BPBD Kutai Timur, Sulastin, menjelaskan kondisi di beberapa titik terdampak.
“Ketinggian air mencapai 30–80 cm,” ucapnya.
Ia menyebut bahwa situasi masih dipengaruhi curah hujan dan dapat berubah sewaktu-waktu.
BMKG memperingatkan potensi cuaca ekstrem hingga Juni 2026 yang dapat memicu peningkatan volume air.
Situasi ini membuat DPRD Kaltim kembali mendorong penguatan mitigasi daerah, termasuk pengelolaan sungai, kesiapan jalur evakuasi, serta penataan wilayah rawan agar penanganan bencana tidak terus bersifat reaktif. (adv)




