Advertorial

DPRD Samarinda

Air Sering Mati, Warga Samarinda Keluhkan Gangguan Distribusi, Helmi Abdullah Minta Evaluasi Menyeluruh

Kamis, 21 Mei 2026 9:11

Ketua DPC Partai Gerindra Samarinda Helmi Abdullah yang juga sebagai ketua DPRD Samarinda/Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Bagi sebagian warga Samarinda, membuka keran air setiap pagi kini tak selalu menjamin air akan mengalir.

Dalam beberapa waktu terakhir, gangguan distribusi air bersih kembali dikeluhkan masyarakat, terutama di kawasan pinggiran kota.

Aliran air yang tidak stabil, tekanan yang sering melemah, hingga suplai yang mendadak terhenti pada jam-jam tertentu membuat aktivitas sehari-hari warga ikut terganggu.

Mulai dari kebutuhan rumah tangga, mencuci, memasak, hingga usaha kecil yang bergantung pada ketersediaan air bersih harus menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut.

Keluhan yang terus bermunculan itu mendapat perhatian Ketua DPRD Samarinda, Helmi Abdullah.

Ia meminta perusahaan penyedia layanan air bersih segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap wilayah-wilayah yang selama ini kerap mengalami gangguan distribusi.

Menurut Helmi, air bersih merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditawar. Karena itu, pelayanan kepada masyarakat harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh terus-menerus terganggu.

“Persoalan air bersih ini harus benar-benar menjadi perhatian utama karena berkaitan langsung dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Kalau gangguan terjadi terus-menerus, tentu aktivitas warga ikut terdampak,” ujarnya, Kamis (20/5/2026).

Bagi masyarakat, gangguan distribusi air bukan sekadar persoalan teknis.

Ketika suplai air terganggu selama berjam-jam bahkan berhari-hari, dampaknya langsung terasa di rumah-rumah warga.

Tidak sedikit yang harus menampung air lebih banyak sebagai cadangan atau mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Helmi menilai kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlangsung terlalu lama. Ia meminta perusahaan layanan air bersih segera memetakan kawasan yang paling sering mengalami penurunan tekanan maupun gangguan suplai.

Menurutnya, langkah itu penting untuk mengetahui akar persoalan sehingga penanganan dapat dilakukan secara lebih tepat dan cepat.

“Wilayah yang sering mengalami kendala harus segera dipetakan. Dengan evaluasi yang tepat, perbaikan bisa dilakukan lebih efektif sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih optimal,” katanya.

Selain persoalan distribusi, Helmi juga menyoroti kondisi infrastruktur jaringan perpipaan yang masih membutuhkan perhatian di sejumlah wilayah.

Seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan kawasan permukiman di Samarinda, kebutuhan terhadap layanan air bersih juga terus meningkat. Karena itu, pembenahan jaringan distribusi dinilai harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan agar pelayanan dapat menjangkau seluruh masyarakat secara merata.

“Perawatan jaringan dan peningkatan infrastruktur harus terus dilakukan. Tujuannya supaya masyarakat bisa menikmati pelayanan air bersih yang lebih stabil dan tidak lagi mengalami gangguan berkepanjangan,” jelasnya.

Helmi berharap perusahaan penyedia layanan air bersih dapat segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kualitas pelayanan. Baginya, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa kebutuhan dasar mereka dapat terpenuhi tanpa harus dihantui gangguan distribusi yang berulang.

Sebab pada akhirnya, air bersih bukan hanya soal layanan publik, tetapi juga menyangkut kenyamanan hidup, kesehatan keluarga, dan keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari. (adv)

Tag

MORE