ARUSBAWAH.CO - Program digitalisasi pendidikan di Kalimantan Timur mulai berjalan.
Sebanyak 75 unit laptop bantuan dari Kementerian Sosial dibagikan kepada siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 58 Samarinda.
Setiap siswa mendapat satu unit.
Namun, ada catatan penting: laptop tersebut tidak boleh dibawa pulang dan hanya digunakan di lingkungan sekolah.
Kebijakan ini menegaskan satu hal—akses diberikan, tetapi penggunaannya tetap dikontrol.
Laptop Ada, Tapi Akses Terbatas
Kepala Bidang Linjamsos Dinsos Kaltim, Achmad Rasyidi, menyebut perangkat tersebut sudah mulai digunakan dalam proses belajar mengajar.
“Setiap anak mendapat satu unit, tetapi disimpan di sekolah dan digunakan saat kegiatan belajar. Saat libur, laptop disimpan oleh pihak sekolah,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Bantuan ini memang ditujukan untuk menunjang pembelajaran digital.
Namun, karena tidak bisa dibawa pulang, pemanfaatannya praktis hanya terjadi di dalam kelas.
Artinya, di luar jam sekolah, siswa tetap tidak memiliki akses terhadap perangkat tersebut untuk belajar mandiri.
Kuota Penuh, Siswa Baru Tak Bisa Masuk
Di tengah upaya peningkatan fasilitas, kapasitas sekolah justru menjadi kendala lain.
Tahun ini, SRT 58 Samarinda tidak membuka penerimaan siswa baru.
Seluruh rombongan belajar sudah terisi penuh, masing-masing 25 siswa untuk jenjang SD hingga SMA.
“Kalau menambah kelas, berarti harus menambah ruang kelas, asrama, dan sarana lainnya. Sementara belum ada tambahan,” jelas Rasyidi.
Kondisi ini menunjukkan tingginya minat masyarakat yang belum diimbangi dengan daya tampung sekolah.
Siswa Dijemput karena Terkendala Biaya
Fakta lain di lapangan tak kalah mencolok.
Sebagian siswa bahkan tidak memiliki biaya transportasi untuk kembali ke sekolah setelah libur.
Akibatnya, pihak sekolah harus turun tangan langsung untuk menjemput siswa agar bisa kembali mengikuti kegiatan belajar.
“Sebenarnya SOP tidak harus dijemput, tapi karena mereka tidak punya anggaran transportasi, jadi kita jemput agar memudahkan,” ungkapnya.
Fasilitas Jadi Daya Tarik, Siswa Betah di Sekolah
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, para siswa justru menunjukkan antusiasme tinggi.
Tidak ada yang menolak kembali ke sekolah. Sebaliknya, mereka ingin segera dijemput karena merasa nyaman dengan fasilitas yang tersedia.
Mulai dari asrama, perlengkapan sekolah, hingga akses laptop menjadi faktor utama yang membuat mereka betah.
“Tidak ada yang menolak. Mereka ingin cepat dijemput karena merasa nyaman di sekolah,” kata Rasyidi.
PR Besar: Akses dan Pemanfaatan
Program ini menunjukkan langkah awal yang positif dalam pemerataan akses pendidikan.
Namun, tantangan utamanya kini bergeser—bukan lagi soal ada atau tidaknya bantuan, melainkan bagaimana fasilitas tersebut bisa dimanfaatkan secara maksimal.
Selama akses masih terbatas di ruang kelas dan kapasitas sekolah belum bertambah, program ini masih menyisakan pekerjaan rumah yang nyata di lapangan. (isa)
- Anggaran Pendidikan “Diserobot” untuk MBG, CALS Masuk sebagai Pihak Terkait di MK
- DPRD Samarinda Tinjau Taman Balai Kota, Tegaskan Jangan Jadi Area Eksklusif
- Dari Gratispol - Jembatan Nibung ke Isu Dinasti - Mobil Dinas Rp 8,5 Miliar: Deretan Kejadian di Tahun Pertama Rudy Mas’ud
- Pokja 30: Marwah Tak Ditentukan Mewahnya Mobil Dinas, Buka Showroom Saja




