ARUSBAWAH.CO - Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di berbagai wilayah Samarinda sejak pertengahan Juni 2026 akhirnya mendapat penjelasan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan PT PLN (Persero).
Rata-rata listrik padam selama tiga hingga empat jam dalam sekali jadwal pemadaman.
PLN menerbitkan jadwal pemadaman bergilir setiap hari dengan lokasi yang bergantian menyesuaikan kondisi sistem kelistrikan.
Contohnya, berdasarkan informasi dari saluran WhatsApp resmi PLN UP3 pada Senin (29/6/2026), untuk wilayah kerja ULP Samarinda Ilir, PLN menjadwalkan pemadaman bergilir pada pukul 10.30–13.30 Wita di kawasan Lempake Tepian, PDAM Gunung Lingai, Jalan Gunung Lingai, Tridarma, Gang Masyarakat, Perum Griya Mukti dan sekitarnya.
Sementara pada pukul 12.00–15.00 Wita, pemadaman dijadwalkan meliputi Jalan Perjuangan, kawasan PDAM Pelita 4, Perum Idaman Permai Pelita 7, PT Enseval Putera Megatrading, Perum Graha Mandiri, Jalan Gerilya, Jalan Pelita, Jalan L. Katamso, Jalan Kemakmuran, Jalan Sentosa, hingga sebagian Jalan DI Panjaitan.
Pemadaman listrik bergilir tersebut dipastikan bukan disebabkan oleh terganggunya pasokan batu bara maupun dampak pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan tambang.
Hal itu ditegaskan Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, usai berkoordinasi langsung dengan General Manager PLN terkait kondisi kelistrikan di Kaltim.
Menurut Seno, akar persoalan berasal dari gangguan yang terjadi secara bersamaan pada dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), yakni PLTU Handil dan PLTU Tanjung Batu.
"Kami sudah bertemu dengan GM PLN. Memang dibutuhkan waktu sekitar sebulan untuk memperbaiki dua PLTU itu, PLTU Handil dan PLTU di Tanjung Batu," kata Seno ditemui di Kantor Gubernur Kaltim, Senin (29/6/2026).
Selama proses perbaikan berlangsung, PLN menerapkan manajemen beban berupa pemadaman bergilir sekitar tiga jam di setiap kabupaten dan kota.
Langkah itu dilakukan agar sistem kelistrikan tetap stabil sembari proses perbaikan pembangkit diselesaikan.
"Sebulan ini akan bergiliran. Setiap provinsi, setiap kabupaten akan ada tiga jam waktu untuk mati lampu. Bulan depan insyaallah sudah tidak ada lagi masalahnya," ujarnya.
Seno menegaskan isu yang berkembang bahwa pemadaman terjadi akibat berkurangnya pasokan batu bara karena pemangkasan RKAB tidak benar.
Ia mengaku telah mengonfirmasi langsung hal tersebut kepada pihak PLN.
"Oh enggak, kalau (terkait pemangkasan) RKAB enggak. Karena DMO (domestic market obligation) tetap berjalan. Yang bermasalah itu dua PLTU ini rusak dalam waktu bersamaan. Itu mengurangi sekitar 250 MW," katanya.
"Sehingga PLN harus melakukan revitalisasi pengurangan daya selama 3 jam," sambung Ketua DPD Gerindra Kaltim ini.
Seno memastikan pasokan batu bara untuk pembangkit di Kalimantan Timur hingga kini masih aman.
"Untuk kondisi pasokan batu bara masih aman. Untuk PLTU juga masih aman," tegasnya.
Meski demikian, Seno mengakui kebijakan pengetatan RKAB tetap memberi dampak besar terhadap kondisi ekonomi Kalimantan Timur, meski tidak berkaitan dengan pemadaman listrik.
Menurutnya, perlambatan aktivitas pertambangan mulai memengaruhi tingkat pengangguran, kemiskinan hingga pertumbuhan ekonomi daerah.
"Sangat banyak dampaknya. Pengangguran semakin banyak di Kalimantan Timur, kemudian tingkat kemiskinan juga semakin tinggi," ujarnya.
Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur saat ini hanya berada di kisaran tiga persen.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Kaltim bersama Gubernur akan kembali menyampaikan persoalan tersebut kepada Menteri ESDM hingga Presiden.
"Pak Gubernur sudah menyampaikan arahan juga. Kita akan bersama-sama ke Menteri ESDM dan ke Presiden untuk menyampaikan persoalan ini," katanya.
PLN: Penyebab Utama Gangguan Dua PLTU, Target Normal Juli
Sementara itu, Manajer UP3 PLN Samarinda Adrian Sitompul memastikan pemadaman bergilir yang terjadi saat ini murni akibat terganggunya operasional Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap atau PLTGU.
Ia membantah isu yang mengaitkan pemadaman dengan persoalan keuangan, batu bara, maupun isu lainnya.
"Penyebab utamanya terganggunya PLGTU kita. Saat ini sedang dilakukan perbaikan. Kita mohon doanya supaya PLGTU ini segera beroperasi kembali sehingga pemadaman yang kita estimasikan berakhir di Juli," ujarnya.
Adrian mengaku tidak dapat menjelaskan secara teknis kerusakan yang terjadi karena pembangkit berada di bawah unit berbeda.
"Saya kurang paham spesifik kerusakannya karena itu bukan di bawah kami. Yang pasti pembangkitnya belum bisa beroperasi normal," katanya.
Ia juga menepis dugaan bahwa pemadaman berkaitan dengan persoalan pasokan energi nasional.
"Alhamdulillah tidak. Semoga tidak. Untuk Kaltim insyaallah aman," katanya.
Menurut Adrian, dampak pemadaman dirasakan hampir seluruh wilayah dalam sistem interkoneksi PLN UID Kaltimra, mulai Samarinda, Balikpapan, Bontang, Berau hingga wilayah Kalimantan Utara seperti Tanjung Selor.
"Semua terdampak karena sistemnya interkoneksi," ujarnya.
Padam Maksimal Tiga Jam, Rumah Sakit Jadi Prioritas
Adrian menjelaskan setiap pelanggan dijadwalkan mengalami pemadaman selama dua hingga tiga jam dan umumnya terjadi setiap dua sampai tiga hari sekali.
"Estimasinya satu pelanggan merasakan padam itu sekitar dua sampai tiga hari sekali dan maksimal tiga jam," katanya.
Namun, jadwal tersebut hanya berlaku untuk pemadaman terencana.
Jika terjadi gangguan di luar rencana, durasi maupun jadwal dapat berubah.
PLN juga memberikan prioritas terhadap fasilitas vital seperti rumah sakit.
"Rumah sakit menjadi prioritas terakhir untuk dipadamkan karena menyangkut keselamatan jiwa. Kalau kantor pemerintahan tetap bisa terkena pemadaman sesuai pengaturan," ujarnya.
Bahkan, Adrian mengaku kantor PLN sendiri juga ikut mengalami pemadaman.
"Kantor PLN juga mati. Masa kami enggak mati," katanya sambil tertawa.
Ia berharap proses perbaikan pembangkit dapat selesai lebih cepat dari target.
"Estimasinya Juli. Tapi kami usahakan lebih cepat. Mohon doa dari masyarakat supaya proses perbaikannya berjalan lancar," tutup Adrian.
(raf)




