ARUSBAWAH.CO - Rencana memasukkan penderita tuberkulosis (TBC) sebagai penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memperoleh dukungan dari DPRD Kota Samarinda.
Gagasan tersebut dinilai dapat membantu pemenuhan kebutuhan gizi pasien sekaligus mendukung proses pemulihan kesehatan mereka.
Wacana itu sebelumnya disampaikan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin saat menghadiri rapat di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Menurut DPRD Samarinda, usulan tersebut layak dipertimbangkan karena menyasar kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, mengatakan penderita TBC umumnya berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah sehingga bantuan pemenuhan gizi akan sangat bermanfaat bagi mereka.
"Bagus, karena kalau TBC itu kan memang biasanya rata-rata, rata-rata yang penyakit TBC itu kan orang-orang yang kelas menengah bawah, rata-rata," ujarnya.
Puji menjelaskan, proses pengobatan TBC sering kali membuat pasien kehilangan selera makan akibat efek samping obat yang dikonsumsi.
Karena itu, keberadaan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya membantu menyediakan makanan bergizi, tetapi juga memastikan pasien memperoleh asupan yang dibutuhkan selama menjalani pengobatan.
Ia juga menyoroti persoalan lain yang dihadapi para penyandang TBC, yakni stigma dari masyarakat.
Menurutnya, pandangan negatif tersebut sering membuat penderita kesulitan menjalankan aktivitas maupun bekerja sehingga kondisi ekonomi mereka semakin tertekan.
"Nah, ini kalau dapat bantuan itu bagus banget, malah mungkin itu yang lebih penting ya, lebih penting mendapatkan asupan MBG tadi," katanya.
Meski mendukung penuh usulan tersebut, politikus Partai Demokrat itu mengingatkan agar pelaksanaan program tidak dilakukan dengan skema yang sama seperti penerima MBG lainnya.
Ia menilai kebutuhan gizi penderita TBC lebih tinggi sehingga komposisi makanan yang diberikan harus disesuaikan.
Menurut Puji, menu yang disediakan perlu mengandung nutrisi lebih lengkap, termasuk porsi protein yang lebih banyak untuk menunjang proses penyembuhan.
Dengan kebutuhan yang berbeda tersebut, anggaran yang dialokasikan bagi penerima manfaat dari kelompok penderita TBC juga semestinya mendapat penyesuaian.
"Jadi bukan hanya yang seperti kita lihat Rp15.000, itu mungkin dibesarin," jelasnya.
Menurutnya, alokasi biaya bagi penderita TBC sebaiknya disesuaikan karena kebutuhan nutrisi mereka berbeda dengan penerima MBG pada umumnya. (adv/naa)




