ARUSBAWAH.CO - Jauh sebelum menjadi Ketua DPRD Samarinda, Helmi Abdullah hanyalah seorang pengusaha muda yang aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Saat itu, ia tak pernah membayangkan akan duduk di kursi pimpinan legislatif, apalagi memimpin salah satu partai besar di Kota Tepian selama lebih dari satu dekade.
Namun ada satu peristiwa yang hingga kini masih membekas dalam ingatannya.
Sebuah pertemuan dengan Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di tengah konflik internal PKB yang sempat mengguncang tubuh partai tersebut pada tahun 2007.
Saat itu, terjadi perpecahan antara kubu Ketua Dewan Syuro KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan kubu Ketua Umum Dewan Tanfidz Muhaimin Iskandar (Cak Imin).
Menurut Helmi, pesan yang disampaikan Gus Dur saat itu menjadi salah satu pegangan hidupnya hingga sekarang.
“Beliau bilang, saya tidak memaksa kamu mau ke mana. Mau ikut Cak Imin silakan, mau ke partai lain silakan. Tapi kalau punya usaha, fokus juga dengan usaha,” kenang Helmi saat menjadi narasumber program 'DeepTalk' Arusbawah.co, Kamis (28/5/2026).
Tak hanya itu.
Dalam pertemuan tersebut, Gus Dur juga menyampaikan pesan yang saat itu terdengar seperti nasihat biasa.
Namun belakangan, Helmi merasa sebagian dari ucapan tersebut benar-benar terjadi dalam perjalanan hidupnya.
“Saya yakin kalau kamu niatnya baik, suatu saat tidak hanya menjadi anggota DPR. Bisa menjadi pimpinan DPR, bahkan bisa menjadi kepala daerah,” ujar Helmi menirukan pesan Gus Dur.
Awal Bergabung dengan PKB
Perjalanan politik Helmi bermula dari kedekatannya dengan lingkungan NU.
Setelah meniti usaha di bidang telekomunikasi pada tahun 1990-an, ia mulai aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan yang mempertemukannya dengan banyak tokoh NU di Kalimantan Timur.
Saat PKB lahir sebagai kendaraan politik warga nahdliyin pascareformasi, Helmi ikut bergabung.
Menurutnya, suasana PKB saat itu sangat berbeda dibanding partai-partai lain. Banyak pengurus yang berasal dari kalangan kiai, pengasuh pesantren, hingga imam masjid.
“Dulu pengurus PKB itu rata-rata kiai. Ketua Dewan Syuro kiai, pengurusnya imam masjid, pimpinan pondok pesantren. Jadi kalau kami kunjungan, ya mendampingi para kiai,” ujarnya.
Aktivitas politik mereka pun tidak semata-mata soal perebutan kekuasaan.
Setiap malam Jumat, kader dan pengurus mengikuti pengajian. Pada hari-hari tertentu mereka juga mendampingi para ulama berdakwah ke berbagai daerah.
“Kalau malam Jumat pengajian. Hari Jumat ikut kiai khutbah ke mana-mana. Jadi lingkungan politik kami waktu itu memang banyak diisi kegiatan keagamaan,” katanya.
Lingkungan itulah yang menurut Helmi membentuk cara pandangnya dalam berpolitik.
Memilih Tetap Bersama Gus Dur
Tahun 2007 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan politik Helmi.
Saat itu konflik internal PKB memuncak.
Perseteruan antara kubu Gus Dur dan Muhaimin Iskandar membuat banyak kader harus menentukan sikap politik.
Helmi mengaku mendapat tawaran untuk tetap bertahan di kubu Muhaimin Iskandar yang saat itu memperoleh legitimasi pemerintah.
Namun ia memilih jalan berbeda.
“Karena kami ini pencinta Gus Dur,” katanya.
Bersama sejumlah kader lainnya, Helmi berangkat ke Jakarta untuk menemui Gus Dur secara langsung.
Pertemuan itu dilakukan setelah posisi Gus Dur semakin terdesak dalam konflik partai.
Helmi masih mengingat suasana saat rombongan kader daerah meminta arahan kepada tokoh yang mereka hormati tersebut.
Alih-alih meminta loyalitas mutlak, Gus Dur justru memberi kebebasan kepada para kader untuk menentukan pilihan masing-masing.
“Beliau tidak memaksa. Mau ikut siapa silakan. Mau ke partai lain silakan,” kata Helmi.
Sikap itulah yang membuatnya semakin yakin untuk tetap setia kepada Gus Dur.
“Feeling saya waktu itu sederhana. Gus Dur orang baik. Beliau kiai besar. Saya percaya saja,” ujarnya.
Keputusan tersebut membuat Helmi memilih mundur dari PKB dan tidak lagi aktif dalam politik praktis.
Kembali ke Dunia Usaha
Setelah meninggalkan politik, Helmi kembali fokus mengembangkan usaha.
Ia mengembangkan bisnis telekomunikasi yang telah dirintisnya sejak tahun 1990-an.
Dari keuntungan usaha itulah ia mulai membeli lahan di kawasan Pinang Seribu yang kini dikembangkan menjadi destinasi wisata.
“Saya pikir mungkin memang bukan rezeki saya di politik waktu itu,” ujarnya.
Beberapa tahun ia menikmati kehidupan sebagai pengusaha.
Tidak ada target menjadi anggota dewan, apalagi pimpinan DPRD.
Namun jalan hidup kembali membawanya ke dunia politik.
Pada 2013, Helmi mendapat tawaran bergabung dengan Partai Gerindra bersama sejumlah rekannya.
Saat itu Gerindra di Samarinda masih tergolong partai baru dengan hanya satu kursi di DPRD.
Ia kemudian dipercaya menjadi pengurus partai dan diminta memimpin DPC Gerindra Samarinda.
Dari Satu Kursi Menjadi Ketua DPRD
Ketika pertama kali memimpin Gerindra Samarinda, target yang diberikan kepadanya sebenarnya cukup sederhana.
Partai hanya berharap mampu menambah jumlah kursi dari satu menjadi tiga kursi pada Pemilu 2014.
Namun hasilnya jauh melampaui ekspektasi.
Gerindra berhasil meraih lima kursi dan langsung memperoleh posisi pimpinan DPRD Samarinda.
“Saya tidak pernah membayangkan bisa jadi pimpinan DPR. Target kami waktu itu cuma tiga kursi,” katanya.
Karier politik Helmi terus menanjak.
Pada periode berikutnya, Gerindra menjadi partai peraih suara terbesar kedua di Samarinda.
Lalu pada Pemilu 2024, partai berlambang kepala garuda itu berhasil menjadi pemenang dengan sembilan kursi di DPRD Samarinda.
Kemenangan tersebut mengantarkan Helmi duduk sebagai Ketua DPRD Samarinda.
Posisi yang dulu pernah disebut Gus Dur dalam sebuah pertemuan sederhana di Jakarta.
“Kalau saya lihat sekarang, ucapan beliau itu terbukti. Saya bisa jadi pimpinan DPRD,” katanya.
Masih Menyimpan Harapan untuk Mengabdi
Meski telah menjadi Ketua DPRD Samarinda, Helmi mengaku belum memikirkan politik sebagai tujuan akhir.
Baginya, jabatan hanyalah sarana untuk memberi manfaat lebih besar kepada masyarakat.
Karena itu, ketika ditanya soal kemungkinan maju dalam kontestasi kepala daerah beberapa tahun mendatang, Helmi tidak menutup peluang tersebut.
“Doakan saja. Kalau nanti 2029 atau 2030 teman-teman mendorong saya maju sebagai kepala daerah, ya kita lihat nanti,” ujarnya.
Namun di luar semua pencapaian politiknya, Helmi mengaku masih memegang satu pelajaran sederhana yang ia peroleh dari Gus Dur bertahun-tahun lalu.
Bahwa jabatan bukan sesuatu yang harus dikejar mati-matian.
Yang terpenting adalah menjaga niat baik, bekerja dengan jujur, dan terus memberi manfaat kepada orang lain.
“Yang mahal itu kepercayaan,” tutupnya.
(raf)
- Dari Uang Rp2 Juta yang Diam-diam Ditransfer ke Rekening Orang Lain, Cerita Helmi Abdullah yang Jarang Diketahui
- Cerita Helmi Abdullah Merantau ke Samarinda, Kirim Puluhan Lamaran Kerja hingga Diterima 'Ngurus' Distribusi Film Bioskop
- Helmi Abdullah Minta Pemkot Samarinda Tuntaskan Izin Terowongan dan Safety Teras Samarinda




