ARUSBAWAH.CO - Tangis pilu Ratnawati (55) pecah di tengah duka mendalam yang belum selesai.
Putranya, Dedy Indrajid Putra (34), tewas mengenaskan setelah ditembak secara brutal pada 4 Mei 2025 lalu di depan salah satu Tempat Hiburan Malam (THM) di Samarinda.
Namun luka itu semakin membuka lebar ketika nama anaknya terus diseret ke kasus pembunuhan yang terjadi empat tahun silam.
“Saya gak tahu harus bilang apa. Gimana hancurnya. Hancur hati saya. Saya terluka,” ujar Ratnawati dengan air mata yang bercucuran saat diwawancara awak media, Senin (9/6/2025).
“Anak saya gak bersalah. Dia terfitnah. Dia dihabisi seperti binatang. Sampai sekarang saya gak mengerti kesalahan apa yang dia perbuat.” lanjutnya.
Ratnawati mengaku tak sanggup lagi menahan beban dalam aktivitas sehari-harinya .
Bukan hanya karena kehilangan anak secara tragis, tapi juga karena pemberitaan yang dianggap mencemarkan nama baik almarhum.
Dengan air mata yang terus bergelinang, Ia menyebut berita yang beredar di media sosial tentang dugaan keterlibatan Dedy dalam kasus penembakan tahun 2021 sebagai fitnah kejam tanpa dasar.
“Kalau memang anak saya terlibat, kenapa selama empat tahun dia dibiarkan bebas berkeliaran? Di mana penegak hukum? Di mana aparat?” katanya penuh luka.
“Kalau ada bukti dia bersalah, saya bisa ikhlas. Tapi kenyataannya, pada saat kejadian 2021 itu, anak saya sakit. Ada saksi. Dia gak di TKP.” tambahnya.
Peristiwa penembakan Dedy terjadi di depan sebuah tempat hiburan malam di Jalan Imam Bonjol Kota Samarinda, dan diduga bermotif balas dendam.
Namun Ratnawati tegas membantah tudingan bahwa anaknya terlibat dalam kejadian tragis 2021 yang menewaskan Jumriansyah (39).
Ratnawati menyatakan 4 orang pelaku dalam kasus pembunuhan 2021 silam sudah ditangkap dan dihukum oleh pengadilan.
“Dendam yang mana? Itu yang saya tanyakan. Anak saya bukan pelaku. Kenapa harus dia yang dihukum mati di jalan? Apa karena gosip? Karena asumsi?” serunya dengan mata sembab.
“Saya meminta keadilan. Anak saya dibunuh tanpa kesalahan. Nyawa dia direnggut begitu saja.” kata Ratnawati.
Sambil menangis tersedu, Ratnawati mengutuk keras penyebaran foto-foto jenazah Dedy yang sempat viral di TikTok dan media sosial.
Ia merasa keluarga mereka telah dipermalukan dalam kondisi sedang berduka, bahkan dituduh sedang bersandiwara.
“Dimana hati nurani mereka? Kenapa menyebar foto anak saya yang sudah tidak bernyawa tanpa izin kami? Mereka upload tanpa blur, tanpa rasa hormat,” ucapnya.
“Kami dihina, kami dihakimi. Seolah-olah kami bikin sandiwara. Sandiwara apa? Anak saya mati!” tangis Ratnawati.
Dedy yang selama ini dikenal sebagai warga biasa dan tidak memiliki catatan kriminal, menurut keluarganya, adalah korban dari penghakiman sosial dan stigma keliru.
Ratnawati menilai media dan netizen terlalu mudah membunuh karakter anaknya hanya karena dugaan tanpa bukti.
“Setiap hari ada yang tanya, ‘anak kamu pembunuh ya?’ ‘anak kamu pelaku ya?’ Gimana hati saya? Anak saya gak pernah jadi tersangka. Gak pernah dipanggil polisi,” ujar Ratnawati.
“Tolong bersihkan nama anak saya. Dia bukan pelaku.”
Ratnawati juga meminta Gubernur Kaltim turun tangan untuk mengawal kasus kematian anaknya.
Ia tidak ingin kasus itu berlalu tanpa keadilan, sementara keluarganya harus terus menanggung trauma dan stigma sosial yang mendalam.
“Saya mohon Bapak Gubernur, tolong kawal kasus ini. Anak saya bukan binatang. Dia manusia. Saya mengandung, melahirkan, membesarkan, tapi nyawanya diambil dengan cara paling kejam,” tuturnya lirih.
Ia meminta agar para pengacara membantu menindak pihak-pihak yang telah menyebar fitnah dan foto-foto tanpa izin.
“Kalau saya mau bicara soal nyawa dibalas nyawa, saya bisa bilang. Tapi mereka gak bisa bilang begitu karena anak saya gak bersalah. Jadi saya minta, mohon, bersihkan nama anak saya,” katanya tegas.
Ratnawati hanya ingin satu hal, kebenaran, dan keadilan yang seadil-adilnya.
“Kami hanya ingin nama anak kami dibersihkan. Kami tidak kuat lagi menanggung luka ini," pungkas Ratnawati. (Irwan)





