Arus Publik

Study Tour, Pernikahan, dan Nongkrong: Tiga Anak Muda Berani Mengubah Dunia dari Hal Kecil

Selasa, 11 November 2025 9:45

TIGA ANAK MUDA - Di tengah stigma generasi muda sebagai generasi rebahan, tiga anak muda ini membuktikan sebaliknya/ HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Di tengah stigma generasi muda sebagai generasi rebahan, tiga anak muda ini membuktikan sebaliknya.

Mereka menunjukkan bahwa perubahan menuju masa depan yang lebih hijau bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Untuk mewadahi gagasan kreatif semacam ini, Mindworks Lab untuk pertama kalinya mengadakan fellowship Ministry of the Future, program bagi anak muda se-Jabodetabek dari berbagai bidang dan latar belakang.

Dari ratusan pendaftar, terpilih 15 fellow yang selama tiga bulan berdiskusi dengan mentor sesuai bidang masing-masing, mematangkan gagasan, dan merancang rencana implementasi yang lebih baik.

Meski dialog terbagi menjadi lima bidang—mobilitas, lingkungan binaan, pendidikan, konsumsi, dan pangan—topik besar yang diangkat tetap satu: mendorong transisi hijau untuk menjawab tantangan krisis iklim.

“Para fellow diharapkan akan meneruskan aksi mereka, sambil menjaring anak muda lain untuk juga engage dalam kegiatan mereka, agar bersama-sama mewujudkan masa depan yang lebih berkeadilan,” ujar Aulia Amanda Santoso, Program Coordinator Ministry of the Future dalam keterangan diterima redaksi Arusbawah.co 

INTERAKSI - Interaksi peserta Temu Aksi Muda mendiskusikan isu pendidikan/ HO to Arusbawah.co

 

Berikut tiga dari mereka yang membawa gagasan segar dan berani:

Alya Eka Khairunnisa – Study Tour ke Sudut-sudut Kota

Larangan study tour di Jawa Barat mungkin meringankan biaya orang tua, tapi bagi Alya, kebijakan itu membatasi kesempatan belajar di luar kelas.

“Larangan ini menciptakan jarak antara siswa dan realitas sehari-hari. Masalah sosial dan lingkungan banyak berkembang, tapi pembelajaran di ruang kelas kurang adaptif dan responsif terhadap masalah nyata,” ujarnya.

Melalui program Kota Kita, Kelas Kita, Alya memodifikasi konsep study tour menjadi lebih aman, murah, dan bermakna. Siswa diajak merancang perjalanan sendiri untuk mengenali masalah sosial dan lingkungan di kotanya.

Dalam uji coba bersama empat siswa SMP di Tangerang, mereka menjelajahi pasar, taman, dan museum menggunakan transportasi publik, sekaligus mencatat masalah lingkungan seperti udara kotor akibat kendaraan atau truk yang tetap menyala saat parkir.

Alya menciptakan modul City Bingo, di mana peserta menandai objek yang ditemukan selama perjalanan. Salah satu tantangan: menemukan kendaraan listrik, yang memicu diskusi tentang dampak nyata polusi dari bahan baku fosil.

Cuaca yang berubah-ubah juga menjadi pelajaran praktis bagi peserta mengenai krisis iklim, karena perubahan suhu harian bisa mempengaruhi kesehatan dan aktivitas anak sekolah.

PRESENTASI - Fellows mempresentasikan proyek Aksi Kolektif nya dalam acara Temu Aksi Muda/ HO to Avnmedia.id

 

Ndaru Luriadi – Janji Pernikahan Juga Janji untuk Bumi

Data KLHK menunjukkan 50,8% sampah nasional berasal dari rumah tangga.

Di Depok, sampah harian yang diangkut ke TPA mencapai 1.000 ton, lebih dari 500 ton berasal dari rumah tangga.

Ndaru menyadari momen pernikahan adalah titik penting untuk membentuk budaya ramah lingkungan.

Dari situ, ia merancang Sekolah Rumah Lestari, program untuk membentuk keluarga muda yang sadar dan mampu mengelola sampah.

“Pengantin baru bisa belajar cara hidup baru, membentuk budaya positif di keluarga, dan membangun jaringan untuk melakukan aktivitas lingkungan yang berdampak luas,” kata Ndaru.

Dengan pendekatan ini, pasangan muda diharapkan menjadi penggerak komunitas, dari pergeseran belanja impulsif hingga pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Anastasia Dinda Ciptaviana – Ngumpul Tanpa Jadi Konsumtif

Setiap acara kumpul biasanya identik dengan makan-makan dan delivery yang meningkatkan sampah dan emisi karbon.

Dinda menciptakan proyek Nongkrong+, yang mengajak anak muda membangun pertemanan sambil mendiskusikan konsumsi berlebihan.

“Nongkrong+ bukan sekadar duduk dan berdiskusi, tapi lebih produktif. Misalnya, kami pernah mengadakan Nongkrong+ Nukang, di mana peserta memproduksi sesuatu sendiri. Hal ini membuat mereka lebih menghargai proses dan hasil karya,” jelas Dinda.

Dinda menekankan, kegiatan kecil yang dilakukan rutin bisa membawa dampak besar dalam membentuk budaya konsumsi yang lebih bijak dan berkelanjutan.

Alya, Ndaru, dan Dinda membuktikan bahwa gerakan hijau bisa dimulai di mana saja—di ruang belajar, di tengah keluarga, atau di meja nongkrong bersama teman.

Pesan jelasnya: masa depan bumi juga ditentukan oleh keberanian anak muda untuk bergerak dan mewujudkan perubahan. (pra)

 

Tag

MORE